Marta, Pengubah Stigma Perempuan di Sepakbola Brasil

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Marta, Pengubah Stigma Perempuan di Sepakbola Brasil

Menjadi tuan rumah membuat tim sepakbola pria dan perempuan Brasil pada Olimpiade Rio 2016 mendapat harapan yang tinggi. Meski demikian, penampilan tim sepakbola pria dan perempuan Brasil di babak grup Olimpiade Rio 2016 bak bumi dan langit.

Tim sepakbola laki-laki Brasil yang begitu diunggulkan tampak tidak sesuai ekspektasi tinggi yang dipasang pendukungnya. Brasil, yang diperkuat sejumlah nama seperti Neymar, Gabriel Barbosa, dan Gabriel Jesus, bahkan mengawali Olimpiade dengan dua hasil imbang tanpa gol melawan kesebelasan yang levelnya di bawah mereka, Afrika Selatan dan Irak.

Pertunjukan menarik di lapangan malah ditampilkan oleh kesebelasan perempuan Brasil. Di saat tim laki-laki buntu dalam dua laga pertamanya di Olimpiade Rio 2016, tim sepakbola perempuan malah sukses berpesta. Total delapan gol mereka sudah mereka buat dalam dua laga tersebut. Sontak, penampilan tersebut membuat tim perempuan mendapatkan banyak pujian dari penduduk Brasil, yang langsung membuat kesebelasan laki-laki banjir cemoohan.

Salah satu nama yang begitu berjasa atas kesuksesan tim sepakbola perempuan Brasil melaju ke babak perempatfinal adalah sang kapten, Marta Vieira. Pujian bahkan begitu mengalir di laga melawan Swedia karena ia berhasil mencetak dua gol. Penampilannya saat itu langsung dibandingkan dengan Neymar yang hingga sejauh ini belum tampil memukau seperti saat di Barcelona.

"Lebih baik daripada Neymar!" kata salah satu penggemar timnas Brasil yang menyaksikan laga timnas sepakbola perempuan Brasil saat melawan Swedia. Laga tersebut pun diakhiri dengan munculnya gambar kostum timnas Brasil dengan digantinya nama Neymar dengan Marta.

Apa yang dilakukan Marta terhadap tim sepakbola perempuan Brasil memang layak membuatnya dipuji seperti halnya Neymar. Sebab, seperti yang diketahui, meski sepakbola di Brasil adalah olahraga nomor satu, namun hal tersebut tidak terbukti dalam sepakbola perempuan, yang mana begitu terpinggirkan di negeri Samba, yang mengaku sebagai produsen pesepakbola terbaik di dunia.

Marta Vieira lahir di kawasan yang menjadi bukti benar-benar adanya film “City of God”, Rio de Janeiro. Seperti halnya penduduk Rio lainnya, Marta tumbuh dewasa dengan bermain sepakbola di jalanan. Namun, ucapan bahwa Brasil tak ramah terhadap olahragawan perempuan –-salah satunya pesepakbola-– ternyata benar terjadi.

Lama-kelamaan, Marta kecil begitu akrab dengan cemoohan. Tudingan dia adalah seorang laki-laki bahkan sudah menjadi cap yang tidak bisa hilang dari dahinya. Beruntung, Marta kerap bermain dengan sepupu laki-lakinya yang selalu menjaganya dari ejekan orang lain.

Kesabaran dan semangat Marta dalam bermain sepakbola membuatnya dipertemukan dengan salah satu pelatih perempuan terkenal asal Brasil, Helena Pacheco. Pacheco yang paham dengan persoalan Marta jika ia meneruskan kariernya di jalanan, menawarinya bermain di tim sepakbola Vasco da Gama.

Ditutupnya tim sepakbola perempuan Vasco membuat Marta harus segera mencari kesebelasan lain untuk menyambung hidup. Tawaran terbaik dari kesebelasan Swedia, Umeå IK dipilihnya. Faktor jarak, iklim, dan budaya yang begitu berbeda pun mengantar kepergiannya ke Swedia.

Umea tampaknya rumah yang selama ini dicari-cari oleh Marta. Sebab disana ia tak hanya merasa nyaman bermain sepakbola maupun berkecukupan harta, Marta juga mendapatkan kesempatan bermain di kompetisi sepakbola perempuan Eropa, yang levelnya sudah begitu di atas.

Kepindahan ke Umea pada akhirnya berbuah menjadi suatu kesempatan bagi Marta untuk menambah daftar trofi yang sudah ia menangkan. Total empat tahun berada di Swedia ia berhasil mendapatkan enam gelar, salah satunya adalah UEFA Women’s Cup 2003/2004. Usai permulaan yang baik di Swedia, kariernya tampak tidak berhenti. Hingga kini ia disebut sebagai salah satu pemain terbaik dalam sejarah sepakbola perempuan.

“Rakyat Brasil tidak pernah memiliki idola seorang perempuan,” kata Didi Lima, salah satu penonton Brasil vs Swedia. “Apa yang ditunjukkan oleh Marta membuat anak kecil bisa melihat kenyataan bahwa seorang perempuan juga memiliki jasa terhadap negaranya di Olimpiade.”

Pujian kepada Marta tidak hanya dari pendukung tim sepakbola perempuan Brasil, tapi juga dari lawannya. Hope Solo, kiper tim sepakbola Amerika Serikat, bahkan juga ikut memujinya.

“Dia membawa banyak semangat ke permainan Brasil. Saya pikir dialah yang berjasa membawa tim sepakbola Brasil ke level yang mereka tempati saat ini,” ucap Solo.

Marta menunjukkan bahwa semangat adalah salah satu kunci untuk memenangkan pertandingan. Tak heran, usai tim sepakbola pria Brasil memenangkan pertandingan melawan Denmark dengan skor 4-0, salah satu media Brasil, Folha de Sao Paulo, menulis judul utama, “Mereka Bermain Seperti Marta.”

Komentar