Masa Sulit yang Mengantarkan Chris Coleman Menjadi Pahlawan Wales

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Masa Sulit yang Mengantarkan Chris Coleman Menjadi Pahlawan Wales

Antiklimaks. Perjuangan Wales di Piala Eropa akhirnya terhenti di babak semifinal. Setelah tampil luar biasa sepanjang turnamen, Gareth Bale dan kawan-kawan harus menerima kenyataan pahit setelah ditundukkan Portugal di babak empat besar.

Tapi, hasil apapun yang terjadi pada Piala Eropa kali ini adalah sebuah tinta emas yang ditorehkan untuk sepakbola Wales secara keseluruhan setelah mampu menembus partai semifinal di turnamen perdana mereka. Tentu ini menjadi sebuah pencapaian yang amat besar. Bukan hanya bagi seluruh penggawa Wales, tetapi juga untuk sang pelatih, Chris Coleman.

Semuanya berjalan tidak mudah pada awalnya bagi Coleman. Menjadi suksesor almarhum Gary Speed dan mengemban tanggung jawab untuk menangani generasi emas Timnas Wales, Coleman pada awalnya banyak diragukan. Pasalnya, Coleman bukanlah pemain tersohor kala masih aktif bermain. Terlebih, kariernya sebagai manajer sebuah klub juga tidak terlalu moncer. Bahkan bisa dibilang penuh dengan kesialan.

Lulus dari akademi Manchester City, Coleman kemudian bermain untuk beberapa kesebelasan Liga Primer seperti Swansea, Crystal Palace dan Blackburn Rovers. Ia kemudian bermain untuk Fulham pada tahun 1997 hingga ia pensiun dari sepakbola profesional pada tahun 2002.

Cedera akibat kecelakaan mobil yang tidak kunjung membaik menjadi alasan Coleman untuk berhenti bermain. Padahal kala itu usia Coleman belum terlalu uzur untuk berhenti bermain. Setelahnya, Coleman langsung terjun ke dunia kepelatihan dan menjadi staf pelatih manajer Fulham kala itu, Jean Tigana.

Coleman lalu terpilih menjadi caretaker setelah Tigana dipecat pada pertengahan musim. Ia berhasil meloloskan Fulham dari jurang degradasi. Di musim setelahnya, manajemen Fulham kemudian memutuskan untuk mempermanenkan posisi Coleman sebagai manajer. Kala itu ia adalah manajer termuda di Liga Primer Inggris di usia 32 tahun.

Hasilnya di luar dugaan. Coleman berhasil menghantarkan Fulham ke posisi sembilan klasemen akhir Liga Primer Inggris musim 2003/2004. Menjadi sebuah kejutan bukan hanya karena status Coleman sebagai manajer termuda, tetapi juga hengkangnya banyak pemain andalan seperti Louis Saha dan Steve Marlet pada awalnya dianggap akan membuat Coleman kesulitan. Apalagi Coleman mendapatkan pekerjaannya setelah menyisihkan juru taktik lain yang lebih berpengalaman seperti Klaus Toppmoller dan George Burley.

Tantangan bagi Coleman semakin sulit pada musim-musim selanjutnya. Para pemain bintang hengkang ke klub yang lebih mapan. Mulai dari Edwin van der Sar, Steed Malbranque, Sylvain Legwinski hingga Luis Boa Morte. Tapi Coleman berhasil membawa Fulham menjadi tim papan tengah yang menyulitkan tim lain. Hingga akhirnya ia dipecat pada tahun 2007 karena tidak mampu membawa Fulham menang dalam tujuh laga beruntun.

Pekerjaannya di Fulham memberikan impresi positif. Tidak perlu waktu lama Coleman kemudian mendapatkan tawaran pekerjaan baru. Sempat dikaitkan akan menjadi manajer baru Bolton menggantikan Sam Allardyce, Coleman kemudian berlabuh ke Spanyol untuk menangani Real Sociedad yang kala itu bermain di Divisi Segunda.

Namun tidak sampai bertahan setahun Coleman berada di tanah Spanyol, ia kemudian mengundurkan diri karena hubungan yang tidak baik dengan presiden klub. Petinggi Sociedad dianggap tidak bisa melakukan penyesuaian terhadap ambisi mereka untuk kembali ke kompetisi level tertinggi.

Coleman kemudian kembali ke Inggris untuk menangani Coventry City. Namun ia juga tidak menorehkan prestasi baik di sana. Permasalahan keuangan membuat klub tidak bisa mendatangkan pemain-pemain bagus. Hasilnya Coleman dan Coventry tenggelam di peringkat 19 Divisi Championship musim 2009/2010, posisi terendah mereka dalam sejarah klub. Coleman kemudian diberhentikan.

Sempat menganggur selama setahun, Coleman kemudian kembali mendapatkan tawaran melatih. Atas rekomendasi Sir Alex Ferguson, Coleman kemudian menangani tim asal Yunani, Larissa. Kesialan kemudian kembali menimpa Coleman, klub barunya tersebut juga mengalami krisis keuangan. Coleman kemudian berhenti dari pekerjaannya.

Barulah pada 19 Januari 2012, Coleman ditunjuk sebagai manajer timnas Wales. Coleman meneruskan pekerjaan dari Gary Speed yang meninggal dengan cara tragis. Masa-masa awalnya sebagai manajer kesebelasan negaranya juga berjalan sulit, ia bukan sosok favorit untuk menjadi suksesor dari Gary Speed yang legendaris. Kala itu publik Wales lebih menginginkan Mark Hughes sebagai manajer.

Lima pertandingan perdana Coleman juga diawali dengan buruk. Di pertandingan debutnya, ia kalah dari Kostarika yang juga menjadi pertandingan penghormatan untuk Gary Speed. Di laga kompetitif perdananya ia juga kalah dari Belgia dengan skor 2-0. Terlebih dalam pertandingan tersebut bek tengah Wales, James Collins, diusir keluar lapangan setelah mendapatkan kartu merah karena tekel brutal terhadap pemain Belgia.

Pada tahun 2015, Wales juga menelan kekalahan besar 6-1 atas Serbia yang menjadi kekalahan terbesar Wales dalam 16 tahun. Kekalahan telak tersebut sempat membuat posisi Coleman terguncang. Apalagi banyak pemain yang kemudian mengeluarkan pendapat bahwa pelatih timnas mereka tidak memiliki ambisi untuk membawa Wales ke tingkat yang lebih baik.

Tiket lolos ke Piala Eropa kemudian menjadi jaminan untuk bertahannya Coleman dari posisinya. Setelah kekalahan atas Serbia yang dikenal sebagai “Peristiwa Novi Sad” tersebut, Wales kemudian tampil lebih baik. Wales melaju ke Piala Eropa 2016 sebagai runner-up kualifikasi di belakang Belgia. Yang seterusnya terjadi kemudian adalah sejarah.

***

Selalu mengalami nasib buruk, Coleman akhirnya mendapatkan hasil manis. Penampilan luar biasa Wales sepanjang Piala Eropa 2016 merupakan hasil tempaan waktu sulit yang dialami oleh Coleman. Dipecat berkali-kali, kesebelasan yang ditanganinya mengalami waktu sulit, dan sahabatnya meninggal dengan cara yang tragis. Coleman merasakan perihnya kehidupan sebelum menuai hasil yang luar biasa di waktu saat ini. Awalnya diragukan, Coleman kini menjadi Pahlawan negara.

foto: faw.cymru

Komentar