Setumpuk Ambisi dalam Gol Emanuele Giaccherini

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Setumpuk Ambisi dalam Gol Emanuele Giaccherini

Italia berhasil mendapatkan tiga poin pada laga perdana mereka di Piala Eropa 2016. Menghadapi tim favorit juara, Belgia, Italia berhasil menang meyakinkan dengan skor 2-0.

Sontak kemenangan ini pun disambut dengan begitu gembira. Bahkan pemain cadangan timnas Italia sampai masuk ke lapangan usai Graziano Pelle mencetak gol untuk Gli Azzurri yang mengubah skor menjadi 2-0.

Selain Pelle dan Leonardo Bonucci, Emanuele Giaccherini menjadi salah satu nama yang menarik perhatian dalam laga tersebut. Pemain yang kini memperkuat Bologna dengan status pinjaman dari Sunderland tersebut mampu mencetak gol pembuka di menit ke-32.

Gol yang dicetak oleh Giaccherini memang begitu mengejutkan. Bukan hanya soal kemampuannya mencetak gol, tapi juga proses terjadinya gol tersebut ketika ia berhasil lepas dengan tenang dari pengawalan Toby Alderweireld dan melepaskan tembakan ke sisi kiri gawang Thibaut Courtois.

Menariknya, gol ini juga merupakan pembuktian bagi Giaccherini maupun Antonio Conte. Apa saja hal-hal yang mereka buktikan?

Ambisi Giaccherini Dalam Sebuah Gol

Bermain baik di setiap pekannya tentu adalah target semua pemain sepakbola. Sebab, jika tidak bermain baik, belum tentu mereka akan kembali dipasang di pekan berikutnya. Nah, hal tersebut yang menjadi alasan Giaccherini menampilkan penampilan yang istimewa di laga ini.

Bermainnya Giaccherini di laga ini memang begitu mengejutkan. Publik dan pendukung timnas Italia lebih menduga nama Thiago Motta atau Stefano Sturaro yang dipasang untuk menemani Marco Parolo dan Daniele De Rossi.

Namun prediksi tersebut salah. Conte lebih memilih Giaccherini karena ia dapat bermain sama bagusnya ketika menyerang maupun bertahan. Pilihan tersebut tidak salah. Giaccherini mencetak gol pertama untuk Italia di Piala Eropa 2016.

Kembali lagi ke soal bermain setiap pekan, jelang keikutsertaan Italia di Piala Eropa 2016, Giaccherini menerima kabar buruk. Bukan karena meninggalnya orang terdekatnya, tapi karena statusnya sebagai pemain Sunderland tinggal menunggu waktu.

Meski saat ini Giaccherini bermain di Bologna, tapi Sunderland-lah kesebelasan yang memiliki hak atas Giaccherini. Namun nasibnya tidak seberuntung golnya. Agen Giaccherini, Furio Valcareggi, sempat mengakui bahwa Sunderland “mengobral” jasa Giaccherini di bursa transfer.

Valcareggi mengaku bahwa Sunderland tidak bisa menerima permintaan gaji Giaccherini yang mereka anggap terlalu tinggi. Ia menambahkan, Sunderland sampai rela menurunkan mahar yang digunakan untuk membayar nilai transfer beberapa tahun lalu menjadi 2,5 juta poundsterling.

Diobral Sunderland membuat nasib Giaccherini untuk musim depan jadi tidak menentu. Di satu sisi, Sunderland enggan membayar gajinya yang menurut mereka besar sementara di sisi lain, Bologna, kesebelasan yang kini diperkuat Giaccherini, enggan mengubah kontrak peminjaman menjadi kontrak permanen.

Namun beruntungnya, dengan gol (dan permainan baiknya) di laga ini beberapa kesebelasan sudah menyatakan ketertarikannya kepada Giaccherini. Dalam beberapa jam terakhir usai Giaccherini mencetak gol, Torino disebut mulai menyiapkan proposal untuk mendatangkan eks pemain Cesena dan Juventus ini dari Sunderland.

Ambisi Antonio Conte Lewat Gol dan Permainan Baik Giaccherini

Antonio Conte mungkin menjadi sosok yang paling bingung ketika memasuki beberapa hari jelang pendaftaran nama-nama untuk berpartisipasi di timnas. Jabatannya sebagai pelatih kepala di timnas Italia bahkan mungkin membuatnya tidak tidur selama beberapa hari.

Tanggal 31 Mei 2016 pun tiba. Dan Antonio Conte mengumumkan skuat Italia untuk Piala Eropa 2016. Di posisi kiper, tidak ada kejutan yang berarti. Namun, ketika memasuki lini belakang hingga lini depan ada beberapa nama yang menurut beberapa orang tidak pantas menghuni kesebelasan ini.

Nama Giaccherini menjadi salah satu nama yang dipersoalkan. Meski kontroversinya kalah dibandingkan dengan pemanggilan Stefano Sturaro, bukan berarti nasibnya lebih baik.

Banyak pihak yang lebih menginginkan Conte memanggil nama-nama lain dibandingkan Giaccherini. Misalnya, Marco Benassi yang tampil baik di Torino maupun Giacomo Bonaventura di AC Milan. Tapi sayang keputusan Conte untuk membawa Giaccherini sudah bulat dan daftar pemain sudah diserahkan.

Terlepas dari itu semua, pihak-pihak yang tidak menginginkan Giaccherini mungkin lupa bahwa Conte begitu menyukai pemain bertubuh pendek ini. Giaccherini bahkan menjadi salah pembelian pertama Conte ketika ditunjuk menjadi allenatore Juventus musim 2011/12.

Tidak hanya itu, persaingan ketat di lini tengah Juventus pada musim 2013/14 membuat Conte rela melepas Giaccherini untuk membuatnya mendapatkan kesempatan bermain di kesebelasan lain. Ucapan bahwa Giaccherini adalah kesukaan Conte semakin benar ketika ia rela mengorbankan beberapa nama seperti Giacomo Bonaventura di skuat Italia saat ini.

Dengan berhasilnya Giaccherini, kritik yang melayang ke Conte menjadi sirna. Conte membuktikan diri bahwa pilihannya tidak salah, bahkan lebih dari itu, Italia tampil begitu luar biasa dengan Giaccherini menghuni lini tengah.

Komentar