Istirahatlah, Louis van Gaal...

Cerita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Istirahatlah, Louis van Gaal...

Usai laga melawan Crystal Palace dalam ajang final Piala FA, Louis van Gaal pun keluar dari hotel di London. Ia dipergoki oleh seorang wartawan dari Skysports yang memberinya selamat sekaligus semangat mengenai karier manajerialnya di Manchester United. Namun, apa yang Van Gaal katakan?

Alih-alih mengucapkan terima kasih, ia malah mengucapkan kata yang mengundang tanya orang-orang terhadap dirinya. "Tidak, tidak, semua sudah berakhir," itulah kata-kata yang Van Gaal ucapkan kepada wartawan dari Skysports tersebut. Banyak makna yang bisa ditelaah dari ucapan Van Gaal di atas, apakah memang itu berhubungan dengan pertandingan melawan Crystal Palace ataupun mengenai karier manajerialnya di United.

Akhirnya, yang diprediksi pun menjadi kenyataan. Louis van Gaal resmi dipecat sebagai manajer Manchester United. Jose Mourinho adalah orang yang akan menggantikan posisi dirinya sebagai manajer Manchester United terhitung mulai Mei 2016.

Apa yang seorang Van Gaal katakan tentang "semua sudah berakhir", nyatanya memang menjadi akhir. Sempat datang ke tempat latihan Manchester United pada Senin, 23 Mei 2016, ternyata itu adalah hari terakhir dirinya mengunjungi tempat latihan Manchester United. Setelah hari ini, mungkin ia tidak akan ke sana lagi, bahkan untuk waktu yang cukup lama.

Van Gaal dan Ambisi yang Besar

Saat pertama kali ditunjuk sebagai manajer Manchester United, Louis van Gaal begitu berapi-api. Ia yang baru saja mengantarkan Tim Nasional Belanda menjadi juara tiga Piala Dunia 2014 mengutarakan bahwa dirinya memiliki ambisi yang begitu besar dan ia yakin dirinya akan membuat sejarah bersama Manchester United.

"Saya memang sudah lama ingin memanajeri salah satu klub Liga Primer Inggris, dan memanajeri Manchester United merupakan suatu kehormatan bagi saya. Klub ini punya ambisi yang besar, begitu pun dengan saya. Maka, saya yakin di sini saya dapat menciptakan sebuah sejarah," ujar Van Gaal saat pertama kali diangkat sebagai manajer United.

Pembelian-pembelian pun langsung Van Gaal lakukan demi mewujudkan "ambisinya yang besar" itu. Pemain-pemain seperti Ander Herrera, Angel Di Maria, Marcos Rojo, Luke Shaw, Daley Blind,dan Radamel Falcao, pun didatangkan untuk memperkuat skuad United. Namun, kadang realita terlalu keras untuk dihadapi, dan itu pulalah yang dirasakan oleh seorang Van Gaal.

Musim pertamanya menangani United, kesulitan langsung dihadapi oleh manajer yang juga pernah menukangi Ajax Bayern Muenchen, dan Barcelona, ini. Masalah para pemain yang tak dapat menangkap apa keinginan dari seorang Louis van Gaal adalah biang keladinya. Hasilnya, pada musim pertamanya bersama United, Van Gaal belum mampu memberikan trofi bagi United. Pencapaian terbaiknya pada musim 2014/2015 adalah mengantarkan United menduduki posisi keempat, yang berarti United dapat berkompetisi dalam ajang Liga Champions Eropa musim selanjutnya.

Musim 2015/2016, Van Gaal menjanjikan sebuah perbaikan bagi skuad United. Ia pun kembali mendatangkan nama-nama baru seperti Morgan Schneiderlin, Bastian Schweinsteiger, Memphis Depay, Matteo Darmian, dan Anthony Martial. Hal ini ditujukan sebagai pendalaman skuad karena United akan berlaga dalam ajang Liga Champions Eropa.

Namun, apa yang terjadi kembali berada di luar harapan seorang Van Gaal. Dalam ajang Liga Champions Eropa, mereka malah gagal bersaing dengan PSV Eindhoven dan VfL Wolfsburg. United hanya menempati peringkat ketiga fase grup Liga Champions Eropa 2015/2016, dan membuat mereka cuma berkompetisi dalam ajang Europa League, yang berakhir pada babak 16 besar setelah dikalahkan Liverpool.

Rentetan hasil buruk juga merembet ke ajang Liga Primer Inggris. Musim 2015/2016, Van Gaal hanya bisa mengantarkan United finish di posisi kelima klasemen akhir Liga Primer Inggris. Pengecualian untuk musim 2015/2016 adalah Van Gaal mampu mengantarkan United menjadi juara Piala FA setelah mengandaskan perlawanan Crystal Palace pada babak final Piala FA dengan skor 2-1.

Tak heran, kegagalan ini pun menimbulkan suasana-suasana sumbang di tubuh Manchester United. Banyak orang mulai meragukan kemampuan Van Gaal yang mereka nilai sebagai manajer yang keras kepala dan terlalu berpegang teguh pada filosofinya sendiri. Ia dianggap terlalu memaksakan filosofi yang ia miliki, sehingga berakibat kepada banyaknya pemain yang membangkang kepada dirinya.

"Van Gaal memiliki filosofinya sendiri dalam bermain, dan itulah salah satu faktor yang menyebabkan saya pergi dari United. Sulit untuk beradaptasi dengan seorang Louis van Gaal," ujar Angel Di Maria.

Media-media Inggris pun bergantian untuk mengkritisi dirinya. Salah satunya adalah media Mirror yang menganggap Van Gaal terlalu keras dan kaku sehingga membuat para pemainnya minim improvisasi dalam bermain. Selain itu, mereka juga menilai Van Gaal buruk dalam hal merekrut pemain dan hasil racikan permainan yang Van Gaal tunjukkan di United tidak menunjukkan identitas sama sekali.

Tampaknya, manajemen United yang digosipkan sempat akan memberikan waktu kepada Van Gaal selama setahun lagi sudah gatal dengan pemberitaan media yang panas dan juga tentangan dari para suporter terhadap Van Gaal. Akhirnya, pada Mei 2016 mereka memutuskan untuk memecat manajer asal Belanda ini sebagai manajer Manchester United. Yang menggantikannya adalah Jose Mourinho, yang pernah bersama dengannya di Barcelona.

***

Louis van Gaal pernah berkata saat pertama kali diangkat sebagai manajer Manchester United bahwa kali ini adalah saat terakhir dirinya sebagai manajer klub, dan akan pensiun setelah kontraknya dengan United berakhir. Siapa sangka, ternyata kontrak dirinya harus berakhir satu musim lebih cepat dari kontrak semula.

Namun, ada berkah yang dapat diambil oleh Van Gaal dari sini. Setidaknya, ia dapat pensiun lebih cepat dari dunia sepakbola dan beristirahat bersama dengan istrinya di rumah. Usia Van Gaal sudah tidak muda lagi. Sekarang ia sudah berusia 64 tahun. Tak ada salahnya bagi seorang van Gaal untuk nangkring-nangkring di kafe di sekitaran Amsterdam, ngobrol bersama orang tua yang lain, berbagi pengalaman yang dialami, termasuk pengalaman saat menangani Manchester United.

Istirahatlah, Van Gaal...

foto: independent.co.uk

ed: fva

Komentar