Lima Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang TSC 2016

Cerita

by Aun Rahman 27439

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Lima Hal yang Perlu Anda Ketahui Tentang TSC 2016

Setelah vakum selama satu tahun, kompetisi reguler di sepakbola Indonesia akan kembali bergulir. Melalui PT Gelora Trisula Semesta (GTS) sebagai operator, Indonesia Soccer Championship (ISC) akan menjadi kompetisi pengganti liga yang terhenti. Pertandingan pembuka sendiri akan digelar pada 29 April nanti, dan akan mempertemukan Persipura Jayapura berhadapan dengan Persija Jakarta. Laga sendiri rencananya akan dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Berikut hal-hal yang perlu Anda ketahui mengenai kompetisi pengganti liga ini :

Tidak Ada Water break

Di era terhentinya kompetisi dan mulai maraknya kompetisi turnamen sebagai pengganti. Water break kemudian menjadi fenomena. Water break sendiri memang regulasi dari Laws of the Game FIFA terkait pertandingan yang digelar di suhu ekstrem. Peraturan ini pertama kali diperkenalkan di Piala Dunia tahun 2014 lalu di Brasil.

Yang terjadi pada era turnamen di sepakbola Indonesia adalah water break kemudian memiliki fungsi tersendiri. Water break lebih mirip dengan waktu time-out di olahraga futsal atau basket. Karena tim yang sedang berlaga bisa rehat sejenak sekaligus menyiapkan strategi dan taktik baru untuk menghadapi lawan. Yang sering menjadi komplain adalah, dalam beberapa pertandingan water break justru membuat momentum dalam sebuah pertandingan menjadi hilang. Karena ada ritme yang hilang seketika wasit meniupkan peluit tanda waktunya tim melakukan water break.

Selain dari segi teknis pertandingan, water break nyatanya menjadi akal-akalan pihak sponsor untuk menyisipkan iklan mereka di jeda pertandingan tersebut. Di kompetisi kali ini PT GTS melalui direktur utama mereka, Joko Driyono, menyatakan bahwa tidak akan ada regulasi water break sepanjang bergulirnya kompetisi.

“Seperti permintaan para partner kami, akhirnya, kami pastikan TSC tak akan ada water break. Pertandingan akan digelar 2x45 menit tanpa water break," ungkap Joko Driyono seperti yang diwartakan Liputan 6.

Regulasi Pemain U-21

Selain water break, ada regulasi lain yang kemudian diteruskan dari era turnamen. Di gelaran TSC kali ini, setiap tim peserta kembali diwajibkan untuk mendaftarkan pemain berusia di bawah usia 21 tahun ke dalam skuat mereka. Jumlah pemain U-21 yang mesti didaftarkan adalah sebanyak tiga pemain. Ini berarti sekitar 10% dari total jumlah pemain yang boleh didaftarkan tim peserta. Klub-klub peserta ISC sendiri maksimal diperbolehkan mendaftarkan 28 pemain.

Baca Juga :

Regulasi Pemain U-21 Piala Jenderal Sudirman yang Bisa Memberikan Perubahan

Tidak Ada Promosi dan Degradasi

Sebuah terobosan dibuat oleh PT GTS selaku operator kompetisi. Dalam ISC kali ini, PT GTS membuat formula baru dengan tidak adanya sistem promosi maupun degradasi ketika kompetisi berakhir. Ini berarti tim peserta akan tetap berada di level kompetisi di mana mereka bermain meskipun peringkat mereka di klasemen akhir sebenarnya memungkinkan untuk naik level kompetisi.

ISC sendiri dibagi dalam tiga level kompetisi yaitu ISC-A untuk kompetisi tertinggi yang akan diikuti oleh para tim peserta Liga Super musim terakhir, ISC-B yang diikuti oleh tim peserta dari Divisi Utama dan Liga Nusantara untuk kompetisi amatir, serta Piala Soeratin yang akan mempertandingkan kompetisi tim usia muda.

Regulasi Pemain Asing

Regulasi pemain asing juga agak sedikit berbeda di kompetisi kali ini. Setelah sekian lama tidak ada peraturan baku terkait pemain asing asal Asia, kini di ISC regulasi tersebut kembali dipakai. Setiap tim peserta diporbolehkan mendaftarkan empat pemain asing, dengan komposisi tiga pemain asing non-Asia, dan satu pemain asing yang berasal dari Asia.

Terakhir kali adanya peraturan baku terkait penggunaan pemain asing Asia adalah di Liga Super tahun 2013. Jumlah tersebut juga memang yang diregulasikan pada kompetisi Piala AFC dan Liga Champions Asia.

Regulasi baru untuk Keuangan Klub

Terobosan lain yang akan muncul adalah mengenai keuangan. Terhitung sejak era Liga Super, banyak klub bermasalah terkait kesehatan finansial mereka karena sudah tidak lagi "dimanjakan" oleh pemerintah daerah. Untuk mengantisipasi masalah tersebut, setidaknya ada terobosan yang dibuat oleh operator kompetisi. Pertama adalah subsidi untuk klub di mana setiap kesebelasan akan menerima dana bantuan operasional sebesar lima miliar rupiah.

Baca Juga :

Subsidi untuk Klub dan Salary Cap ISC 2016 Bukan Jaminan Liga yang Lebih Profesional?

Yang kedua adalah terkait salary cap, atau pembatasan terkait jumlah uang yang dikeluarkan oleh suatu klub untuk membayar gaji pemain. Sistem seperti ini sudah lama berkembang dalam dunia olahraga di Amerika Serikat.

Sistem salary cap sendiri ditujukan bukan saja agar keuangan klub lebih stabil tetapi juga menciptakan iklim yang lebih kompetitif karena dengan pembatasan nilai kontrak pada suatu klub, kekuatan tim akan merata karena tidak ada lagi tim yang semua pemainnya adalah pemain bintang bergaji tinggi.

Kompetisi ISC 2016 akan digelar secara berjenjang. ISC-A bakal diikuti 18 klub. Divisi di bawahnya ada ISC-B yang melibatkan 53 kesebelasan. Banyak terobosan baru yang akan diterapkan. Nama ISC-A sendiri sudah memiliki nama komersil yaitu Torabika Soccer Championship. Maka, ke depannya kompetisi tersebut akan lebih dikenal sebagai TSC.

Terobosan-terobosan tersebut sangat terdengar positif dan akan berpengaruh terhadap kemajuan sepakbola Indonesia apabila memang dilaksanakan dengan konsisten. Pertanyaanya kemudian apakah operator kompetisi akan bisa melakukan konsistensi tersebut? Hanya saja perkara ini sebenarnya bukan hanya tanggung jawab PT GTS selaku operator kompetisi, tetapi juga komitmen dari seluruh elemen sepakbola di Indonesia.


ed: fva

Komentar