Paco Jémez, Nama di Balik Permainan Agresif Rayo Vallecano

Cerita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Paco Jémez, Nama di Balik Permainan Agresif Rayo Vallecano

Kegagalan demi kegagalan yang diraih Valencia musim ini, membuat banyak pihak menginginkan Gary Neville segera angkat kaki dari Mestalla. Setali tiga uang, Neville merasa hanya diinginkan manajemen Valencia hingga akhir musim 2015/16.

Media asal Valencia, Superdeporte, lantas membuat polling untuk mencari siapa sosok yang pantas menangani Valencia. Dari 10 nama yang diberikan oleh Superdeporte, dua nama memuncaki polling. Dua nama tersebut adalah Manuel Pellegrini dan Paco Jemez.

Tak salah penggemar Valencia menginginkan Pellegrini. Selain karena ia memiliki nama besar di Spanyol, Pellegrini juga memiliki pengalaman melatih di beberapa tim Spanyol. Tapi, siapa Jemez? Dan apa yang membuat banyak pendukung Valencia menginginkannya?

Paco Jemez sebenarnya bukan orang baru dalam persepakbolaan Spanyol. Karier Jemez dimulai kala ia melatih Alcalá di 2007. Nama Jemez sebagai pelatih semakin meroket kala ia menukangi Rayo Vallecano pada musim 2012/13. Kepiawaiannya dalam membuat Rayo Vallecano sebagai tim yang atraktif pun membuat banyak orang memujinya. Tak terkecuali Pep Guardiola.

“Cara menyerang dan penguasaan bola yang dilakukan oleh Rayo Vallecano merupakan perpaduan antara Barcelona dan Bayern Munchen. Saya tidak pernah berpikir mengenai pelatih yang dulunya bermain sebagai bek memainkan sepakbola menyerang,” ucap Guardiola.

Pujian yang diberikan Pep kepada Jemez, membuat Jemez senang. Bagaimana tidak, Jemez memang memiliki komitmen untuk memainkan sepakbola menyerang. Alasannya sepele, karena sepakbola adalah alat untuk menyenangkan semua orang. Selain itu, ayahnya juga merupakan penyanyi Flamenco (kesenian asli Andalusia).

“Saya tumbuh dengan Flemanco. Kemenarikannya membuat saya ingin melakukan hal yang sama di sepakbola,” tambah Jemez. “Saya tidak berpikir jika permainan itu (defensif) menguntungkan kami. Mungkin tim lain cocok memainkan permainan defensif, tapi saya merasa gaya defensif tidak sesuai dengan gaya tim saya. Sangat klise melihat tim kecil bermain defensif, tapi kami tidak akan melakukan itu."

Keinginan Jemez memainkan sepakbola menyerang menjadi kenyataan di lapangan. Meski Rayo Vallecano kini tengah berada di peringkat 16, mereka mampu menjadi tim keempat dengan penguasaan bola terbanyak dengan 53,8 %. Pencapaian Rayo dalam penguasaan bola bahkan hanya bisa disaingi oleh Barcelona, Real Madrid, dan Celta Vigo.

Tidak hanya soal penguasaan bola, Rayo juga menjadi kesebelasan yang memiliki banyak peluang mencetak gol. Hal ini dibuktikan dengan catatan 12,9 shots per game. Keberanian Rayo dalam melepas shooting pun berbuah catatan gol mereka yang terbilang impresif. Catatan 41 gol Rayo hingga pekan ke 30 menjadikan mereka sebagai tim yang paling banyak mencetak gol ketimbang 10 tim terbawah La Liga.

Catatan apik yang dibuat Rayo di bawah asuhan Jemez memang sungguh mengesankan. Namun, seperti tim kecil lainnya, masalah finansial tak bisa dilepaskan dari perjalanan Rayo di La Liga.

Pada musim 2012/13, manajemen Rayo hanya mengeluarkan dana sebesar 16,7 juta Euro untuk membiayai seluruh operasional tim (30 kali lebih kecil daripada Real Madrid yang mengeluarkan 517 juta Euro).

Hasilnya pun tokcer. Jemez berhasil meracik strategi yang pas untuk Rayo dan membuat tim asal Madrid ini memecahkan rekor peringkat tertinggi yang pernah didapatkan, dengan duduk di peringkat delapan. Di musim ini sendiri, Bleacher Report mengatakan bahwa Rayo adalah tim dengan pengeluaran terkecil kedua, di bawah Eibar.

Minimnya kondisi keuangan Rayo membuat Jemez selalu memiliki beban berat di tiap awal musim. Sebab, di setiap awal musim, mereka selalu memiliki puluhan pemain baru. Bahkan, jika ditotal, 63 pemain telah didatangkan sejak 2012. Dan hal ini selalu membuat persiapan taktik mereka selalu tertinggal ketimbang tim lainnya.

“Kami memang selalu telat panas ketimbang tim lainnya karena kami butuh waktu untuk membuat pemain baru beradaptasi.”

Keberadaan banyaknya pemain baru di Rayo dalam setiap musim, nyatanya tak membuat tim ini bernasib seperti Xerez dan Salamanca yang terpaksa turun di tiap musim. Meski pencapaian tak lebih baik, tapi Rayo tetap konsisten akibat permainan menyerang yang terus diusung oleh Jemez.

Konsistensi yang ditunjukkan oleh Rayo lewat tangan dingin Jemez sempat membuatnya ditawar banyak klub. Salah satunya adalah klub divisi Championship, Brentford di awal musim 2015/16. Jemez pun mengaku dia tidak akan pikir panjang jika tawaran tersebut menjadi benar-benar diberikan oleh Brentford.

Jadi siap meneruskan tongkat kepelatihan Valencia, Jemez?

Komentar