Park Ji-sung dan Cemoohan yang Membuatnya Berniat Pensiun

Cerita

by Frasetya Vady Aditya 44134

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Park Ji-sung dan Cemoohan yang Membuatnya Berniat Pensiun

Penampilang Park Ji-sung di Piala Dunia 2002 memukau masyarakat Korea Selatan. Ji-sung yang kala itu masih membela Kyoto Purple Sanga, diajak Hiddink yang baru ditunjuk sebagai pelatih PSV Eindhoven.

Ji-sung sendiri tak langsung menerima tawaran tersebut. Bermain di Liga Jepang sudah terlanjur membuatnya nyaman. Selain itu, perbedaan budaya antara Asia dan Eropa bisa saja meruntuhkan kariernya. Tawaran tersebut baru diterima Ji-sung enam bulan kemudian atau pada Januari 2003. Bersama koleganya di timnas Korea, Lee Young-pyo, Ji-sung memulai perjalanannya di Eropa.

Seperti biasa, masalah kembali muncul. Berbeda dengan Young-pyo yang sudah nyetel di lini serang, Ji-sung malah lebih banyak diparkir karena cedera. Beban yang ada di pundak Ji-sung kian besar. Apalagi ia lagi-lagi dianggap sebagai “pemain titipan” karena dibawa oleh Hiddink.

Penampilan Ji-sung tak membaik terlebih ketika ia memutuskan untuk menahan nyeri di lututnya. “Kalau aku dioperasi saat itu juga, mungkin tak masalah. Namun, aku membiarkannya dan berusaha sebaik mungkin. Saat lututku terasa sakit, aku tak pernah bisa menunjukkan yang terbaik dan terus-teusan kesakitan karena lututku itu,” ucap Ji-sung.

Para penonton pun tak lagi senang melihat penampilan Ji-sung. Mereka meneriaki Ji-sung setiap kali ia membawa bola. “Aku merasa boo yang mereka teriakkan lebih kencang kepadaku ketimbang ke pemain lawan,” kata Ji-sung.

Itu adalah masa-masa sulit Ji-sung di Eropa. Ia bahkan memilih tidak keluar rumah karena takut bertemu penggemar yang tidak puas.

“Setiap bola datang kepadaku, aku selalu merasa takut. Itulah pertama kalinya aku ingin berhenti bermain bola,” ucap duta Manchester United tersebut.

Namun, Ji-sung tak menyerah. Ia beradaptasi dengan sepakbola Eropa yang tidak sekadar diperlukan kecepatan dan stamina, tetapi juga kekuatan fisik. Ia melatih dirinya di gym dan memulihkan cedera lututnya.

Sekian waktu berselang, ejekan di stadion berubah menjadi kekaguman. Ji-sung mulai nyetel dengan tim dan berpartisipasi dalam setiap kemenangan PSV. Tak perlu waktu lama buat Ji-sung untuk mendapatkan perhatian dari Eropa.

Saat pertandingan menghadapi Lyon di Liga Champions, ada seseorang yang duduk mengamati dengan penuh seksama di tribun. Orang itu adalah Sir Alex Ferguson yang begitu berminat terhadap permainan enerjik Ji-sung. “Dia memiliki pemahaman yang baik tentang ruang,” ucap Sir Alex.

Usai pertandingan tersebut, Sir Alex pun bertemu dengan Ji-sung. Keduanya saling bicara. “Kami bicara banyak waktu itu. Namun, saya tak mengerti bahasa Inggris. Kami bicara tapi aku tak mengerti apa-apa,” ingat Ji-sung.

Seingat Ji-sung, Fergie kira-kira bicara kalau ia memboyong Ruud van Nistelrooy dari PSV dan ia bermain baik di Manchester United. Fergie pun ingin kalau Ji-sung melakukan hal yang sama.

Pada Juli 2005, Ji-sung resmi direkrut Manchester United. Di sana puncak popularitas telah menunggunya.

Baca juga

Park Ji-sung dan Cemoohan yang Membuatnya Berniat Pensiun


Park Ji-sung dan Budaya Korea yang Hampir Mengubur Kariernya


Filantropi Park Ji-sung yang Menginspirasi


Park Ji-Sung, Three Lungs Park


Pirlo: Sir Alex Ferguson Merendahkan Reputasinya Ketika Menghadapi Saya


Komentar