Romain Thomas: Dari Seorang Pengangguran ke Salah Satu yang Terbaik di Prancis

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Romain Thomas: Dari Seorang Pengangguran ke Salah Satu yang Terbaik di Prancis

“Ini indah karena aku kembali dari masa-masa yang sangat sulit, dan beberapa tahun lalu aku tidak bisa membayangkan momen-momen seperti ini,” ujar Romain Thomas, pemain belakang Angers SCO, kepada The Ligue 1 Show. Lima tahun lalu Thomas berstatus pengangguran karena tidak ada kesebelasan yang mau mempekerjakannya. Sekarang ia berada di papan atas divisi tertinggi sepakbola Prancis, dan merupakan salah satu bek tengah terbaik sepanjang putaran pertama Ligue 1 2015/16.

Lima tahun lalu Stade Brestois 29 melepas Thomas tanpa pernah sekali pun memberinya kesempatan bermain di Ligue 1 musim 2009/10. Secara keseluruhan, sejak bergabung dengan Brest pada 2007, Thomas hanya bermain sebanyak lima kali; semuanya di Ligue 1. Thomas terakhir kali bermain untuk Brest pada 18 Januari 2008. Terakhir kali ia bermain penuh untuk kesebelasan yang memainkan pertandingan kandang di Stade Francis-Le Blé tersebut pada 6 November 2007. Dilepas kesebelasan dengan rekam jejak pertandingan seperti itu, wajar saja tidak ada yang menginginkan Thomas.

Kebanyakan pemain akan patah semangat jika menghadapi situasi seperti itu. Tidak demikian dengan Thomas. Ia mengisi hari-harinya dengan berlatih bersama serikat pesepakbola profesional Prancis.

“Pilihannya itu atau tidak sama sekali,” ujar Thomas mengenai masa-masa tersebut. “Aku bisa berakhir di mana saja. Aku rasa aku tumbuh dengan pesat di masa-masa itu. Aku sadar keadaan yang aku alami bukan salah atau tanggung jawab orang lain. Jika kita tidak mencapai sesuatu, kita hanya perlu berkaca kepada diri sendiri!”

Kerja kerasnya semasa tidak memiliki kesebelasan membawa Thomas diajak bergabung dengan kesebelasan amatir Prancis, Carquefou. Tidak ada catatan resmi mengenai berapa banyak jumlah pertandingan yang Thomas mainkan bersama Carquefou (karena Carquefou bukan kesebelasan profesional), namun menurut keterangan dari situs resmi Ligue 1, Thomas menjadi pemain penting Carquefou dan berhasil membawa kesebelasan tersebut promosi ke divisi ketiga.

“Sejujurnya aku tidak akan pernah melupakan masa-masa bersama Carquefou, itu titik balik karirku,” ujar Thomas. Secara spesifik, yang Thomas maksud sebagai titik balik bisa jadi adalah hari di mana ia ditemukan Stéphane Moulin saat bermain membela Carquefou. Moulin, walau tidak melihatnya sebagai pilihan utama, membawa Thomas bergabung dengan Angers.

“Ia tidak direkrut untuk bermain di starting line up pada awalnya,” ujar Moulin berkisah. “Ia tahu itu. Semuanya jelas namun kami kemudian cepat menyadari bahwa ia memiliki keinginan yang begitu besar untuk belajar, untuk mendengarkan, dan untuk berkembang sehingga ia mengesampingkan hal-hal lain.”

Rencana awal tinggal rencana awal. Yang Moulin tahu saat ini, Thomas adalah pemain penting kesebelasannya. Sepanjang musim ini Thomas hanya satu kali absen dalam 19 pertandingan Angers di Ligue 1; pada pekan ke-13 ketika Angers kalah kandang melawan Stade Rennais. Selebihnya Thomas selalu ambil bagian dalam pertandingan, dah selalu bermain penuh kecuali ketika bermain selama 70 menit saja pada pekan ke-14. Dari seorang pengangguran menjadi pemain kunci kesebelasan Ligue 1 dalam waktu relatif singkat ternyata tidak membuat Thomas puas.

“Aku masih berusaha meningkatkan beberapa hal, khususnya kesederhanaan dan efisiensi tindakan-tindakanku. Aku menginginkan konsistensi,” ujar Thomas. “Sekarang, sebagai bagian dari rencana Angers di divisi tertinggi, aku ingin mengerahkan kemampuan terbaikku dan membuktikan kelayakanku. Karena luar biasa rasanya berada di sini. Jadi aku akan berusaha, dan semoga mendapat ganjaran namun ya, melakukan sesuatu yang membuat kita sangat bergairah saja rasanya luar biasa – berlari di lapangan sepakbola setiap hari, tidak perlu mengeluh, tidak perlu!”

Menyoal peningkatan efisiensi permainan, Thomas rasanya akan meraih tujuan tersebut dalam waktu dekat. Yang perlu ia lakukan hanya menambah jumlah catatannya saja. Seperti Jens Lehmann yang memiliki catatan terhadap kebiasaan tendangan penalti lawan-lawannya, atau seperti Mauricio Pochettino yang sejak masih aktif bermain sudah dibebani tugas mencatat kecenderungan bermain kesebelasan lawan oleh Marcelo Bielsa, Thomas biasa menganalisis dan mencatat kecenderungan bermain lawan-lawannya.

“Ketika aku menyaksikan pertandingan, aku mencatat susunan pemain dan pergerakan umum para pemain untuk membantuku di hari pertandingan melawan mereka,” ujar Thomas. Cara yang ia lakukan untuk bermain sebaik mungkin dalam setiap pertandingan memang tidak biasa, namun itu terbukti sukses. Kebanyakan orang mungkin akan bertanya-tanya bagaimana bisa seorang pemain belakang kesebelasan kecil mampu menghentikan para penyerang yang di atas kertas bisa menyulitkannya. Tidak demikian dengan Denis Renaud, eks pelatih Thomas di Carquefou (sekarang pelatih kepala Paris FC), karena ia mengenal Thomas.

“Ia seseorang yang telah berhasil dalam usahanya memahami dunia sepakbola, telah menempa jalan karirnya sendiri, dan memberi perhatian kepada detil terkecil, baik di dalam atau di luar lapangan,” ujar Renaud. “Dan itulah yang membawanya ke tempat ia berada saat ini.”

Komentar