Phil Brown, Manajer Pemberi "Team-talk" di Tengah Lapangan

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Phil Brown, Manajer Pemberi

Boxing Day 2008. Kesebelasan promosi, Hull City, bertandang ke Manchester City. Dua gol Felipe Caicedo dan dua gol Robinho membawa kesebelasan tuan rumah memasuki ruang ganti dengan keunggulan telak empat gol tanpa balas. Phil Brown, manajer Hull, memimpin para pemainnya menghampiri tribun tandang dan memberi salam sebagai bentuk permintaan maaf terhadap penampilan babak pertama. Dari sana mereka tidak kembali ke ruang ganti. Para pemain duduk melingkar dan Brown berdiri, memberi team talk di lapangan Etihad Stadium.



“Saya rasa cuacanya baik dan dingin dan saya rasa itu akan membuat para pemain hidup karena mereka terlihat mati,” ujar Brown selepas pertandingan mengenai team talk-nya, “Sebanyak empat ribu pendukung tandang kami pantas mendapat semacam penjelasan mengenai penampilan babak pertama dan sulit bagi saya untuk memberinya kepada mereka jika team talk dilakukan di ruang ganti yang tertutup. Kami harus meminta maaf kepada mereka atas penampilan babak pertama.”

November 2009, Hull masih dimanajeri Brown dan mereka kembali bertandang ke Etihad Stadium. Para pemain, di belakang Brown, sepakat: siapa pun yang mencetak gol, si pencetak gol harus menjadi Brown dan memberi team talk di dalam lapangan. Jimmy Bullard mencetak gol dan ia menjadi Brown dalam pertandingan yang berkesudahan 1-1 tersebut.



“Komedi hebat adalah soal pemilihan waktu,” ujar Brown selepas pertandingan, sama sekali tidak tersinggung, “Semuanya dilakukan di saat yang tepat dan sempurna. Saya tidak dapat menjalani kewajiban saya memberi komentar pascapertandingan karena saya terlalu banyak tertawa.”

Sementara para pemainnya menjadikan kejadian tersebut sebagai lelucon, banyak pihak di luar Hull yang mempertanyakan pendekatan Brown yang dirasa tidak tepat. Brown dinilai memperlakukan para pemain seperti amatir, bukan profesional. Dengan memberi team talk di depan para penonton, Brown dinilai memperlakukan para pemainnya tanpa hormat.

“Hull mengincar posisi di enam teratas namun mereka membentur tembok,” ujar Ricky Sbragia semasa masih menangani Sunderland, “Saya tidak akan pernah melakukan apa yang Phil lakukan di Manchester City. Tidak akan pernah. Ia membuat para pemainnya malu. Di luar dingin, mereka membutuhkan nutrisi, kantung es, semua kebutuhan. Para pemain harus diperhatikan selama turun minum dan Phil harus menjelaskan apa yang salah. Saya tidak akan pernah melakukannya.”

Sbragia menambahkan jika ia memang perlu melayangkan kritik kepada salah satu atau lebih pemainnya, ia akan berbicara dengan sang pemain empat mata, tidak di hadapan publik. “Para pemain membutuhkan rasa hormat dan saya berusaha memberinya. Saya berusaha memperlakukan mereka sebagaimana saya ingin diperlakukan jika menjadi pemain.”

Lebih jauh, dengan melakukan team talk di lapangan, Alan Shearer merasa Brown telah kehilangan rasa hormat dari para pemain Hull. Anggapan tersebut dibantah oleh Dean Windass, yang ditarik keluar oleh Brown pada pergantian babak dalam pertandingan melawan City karena dinilai sebagai titik kesalahan yang membuat City mencetak empat gol.

“Saya tidak pernah memandangnya seperti itu,” ujar Windass. “Para pemain kecewa karena kami tertinggal 0-4 saat turun minum. Phil memang mengeluarkan rasa frustrasi dengan apa yang ia lakukan. Namun saat itu para pemain tidak merasa manajer kehilangan kontrol. Saya sendiri kecewa dengan permainan kami ... Hingga media mulai membesar-besarkannya para pemain tidak benar-benar mempermasalahkan hal tersebut. Ini karena dalam Match of the Day Alan Shearer dan Alan Hansen berkata, ‘ya, ia akan kehilangan para pemainnya sekarang,’ dan saya rasa tidak demikian.”

Terlepas dari team talk yang membuatnya dipandang dari kedua sisi, Brown adalah manajer hebat. Setidaknya demikian menurut rekam jejaknya–Brown membawa Bolton ke Eropa–dan menurut Sbragia.

“Hasil kerja Phil di Bolton sangat baik dan ia sangat penting dalam keberhasilan mereka,” ujar Sbragia, “Promosi Bolton ke Premier League berkat Phil. Secara taktik ia sangat, sangat baik.”

Brown sendiri meninggalkan Hull karena satu alasan: tidak sepaham dengan chairman. Brown ingin membangun sukses jangka panjang, namun chairman mencari keberhasilan jangka pendek.

“Kami sudah nyaris membangun tempat latihan seluas 92 acre namun intervensi chairman baru membuatnya gagal terlaksana,” ujar Brown. “Saya percaya bahwa jika saya bertahan, kami pasti akan selamat dari degradasi di musim kedua Premier League dan dengan tampat latihan baru kami akan tetap bertahan di Premier League dalam 20 tahun ke depan. Chairman baru tidak sepakat dengan rencana tersebut. Rencananya pendek dan itu tidak cukup baik bagi saya. Mungkin karena alasan itu saja, baiknya kami berpisah.”

Yang terjadi terjadilah. Brown pergi meninggalkan Hull. Mungkin benar rencana jangka panjangnya akan berjalan jika ia bertahan. Mungkin tidak. Satu yang pasti, ia akan selamanya diingat sebagai manajer yang memberi team talk di lapangan Etihad Stadium pada Boxing Day 2008.

Komentar