Harapan-Harapan Pieter Huistra yang Menguap

Cerita

by Aun Rahman

Aun Rahman

Penulis & Penyunting. Pecinta sepakbola lokal dan Asia. Bermimpi Indonesia Raya berkumandang di Piala Dunia. Kontak : rahman.aun@gmail.com

Harapan-Harapan Pieter Huistra yang Menguap

“If I leave, I leave with regret. There is a lot of potential, but at the moment, it’s all frustrating. Indonesia could be a giant.” – Pieter Huistra

Direktur Teknik PSSI, Pieter Huistra resmi meninggalkan Indonesia dan kembali ke negara asalnya, Belanda. Situasi sepakbola domestik yang tidak menentu dianggap sebagai penyebab kepergian mantan asisten pelatih Ajax Amsterdam Tersebut.

Setahun lalu, atau lebih tepatnya 3 Desember 2014, adalah hari di mana pria bernama lengkap Pieter Egge Huistra ini resmi diperkenalkan sebagai direktur teknik asosiasi sepakbola Indonesia, PSSI.  Kurang lebih setahun sudah, Huistra mengabdikan dirinya untuk sepakbola Indonesia. Huistra pun mengucapkan salam perpisahan kepada publik sepakbola Indonesia melalui laman pribadinya pieterhuistra.nl.

Di dalam ucapan perpisahannya tersebut, Huistra menuliskan kembali pengalamannya selama berada di Indonesia. Diawali dengan kedatangannya pertama kali ke kantor PSSI dan hingga kini ia merasakan adanya banyak perubahan besar dan memancarkan semangat baru dibandingkan saat pertama kali dirinya bertandang kesana.

Huistra menceritakan bahwa fokus terpenting ketika ditunjuk oleh PSSI adalah untuk memberikan edukasi kepada para pelatih. Di samping itu, dirinya juga turut berpartisipasi untuk mengembangkan pembinaan usia dini. Karena pekerjaan ini jugalah, Huistra bisa berkunjung ke tempat-tempat Indah yang ada di Indonesia, seperti Jayapura, Manokwari dan Ambon.

Setelah berkunjung ke hampir setiap provinsi yang ada di Indonesia, pria yang pernah memperkuat Sanfrecce Hiroshima kala masih aktif bermain ini mendapatkan kesimpulan bahwa pembinaan sepakbola usia muda Indonesia tidak terorganisir dengan baik, terutama di usia 10 hingga 19 tahun. Huistra berpendapat bahwa minimnya kompetisi dan fasilitas yang kurang baik menjadi kendala  utama.

Huistra berpendapat bahwa semua hal berjalan dengan baik hingga akhirnya Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Pemuda dan Olahraga melakukan pembekuan terhadap asosiasi sepakbola Indonesia tersebut. Kemudian dilanjutkan kompetisi Indonesia Super League yang terhenti, hingga FIFA menjatuhkan sanksi pada 30 Mei 2015.

Reaksi Huistra lebih disebabkan oleh karena dirinya merasa perencanaan yang telah ia susun urung terealisasi. Hal ini diakibatkan oleh pendanaan ikut terhenti begitu PSSI non-aktif, termasuk yang ia butuhkan untuk mendanai kompetisi usia muda.

“Saya berusaha mencari sponsor untuk mendanai kompetisi usia muda, namun dengan situasi seperti saat ini banyak perusahaan besar ragu-ragu untuk melakukan investasi,” sebut Huistra masih dalam laman pribadinya.

Selain dikarenakan pernah mengunjungi hampir seluruh provinsi di Indonesia, Huistra juga melihat potensi besar Indonesia melalui dua turnamen yaitu Piala Presiden dan Piala Jenderan Sudirman. Dalam dua kompetisi tersebut, Huistra mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Dan dalam kompetisi Piala Jenderal Sudirman, ia mendapatkan kesempatan untuk menangani klub Persipasi Bandung Raya (PBR).

Huistra Memberikan Instruksi di Sesi Latihan Persipasi Bandung Raya
Huistra memberikan instruksi di sesi latihan Persipasi Bandung Raya

Huistra beranggapan bahwa pengalamannya tersebut membuat dirinya percaya jika sepakbola Indonesia bisa berkembang serta berbicara banyak di level Internasional.  Dan dalam paragraf terakhir dalam ucapan perpisahannya tersebut, dirinya kembali menekankan bahwa setiap pihak mengalahkan ego masing-masing dan bekerja sama.

"Keberhasilan tersebut hanya bisa terjadi ketika PSSI dan pemerintah berdamai dan mulai bekerja bersama-sama. Kemudian para sponsor akan masuk dan sepakbola usia muda bisa mendapatkan support..... Sayangnya itu akan terjadi tanpa saya. Saya akan pulang dan menatap ke depan untuk sebuah tantangan baru," tutupnya.

***

Penulis sempat bekerja di bawah arahan Pieter Huistra melalui proyek Members Development Programme yang diusung oleh PSSI. Tujuan besar dari proyek ini adalah pengembangan bakat usia muda dan memaksimalkan kinerja asosiasi-asosiasi sepakbola daerah.

CBV3ufSWEAAv69g
Penulis bersama sekitar 32 orang lain dalam masa pelatihan PSSI Members Development Programme

Penulis bersama sekitar 32 orang lain, masing-masing dikirim ke satu provinsi yang ada di negeri ini. disana kami bukan saja melakukan pengecekan terhadap infrastruktur sepakbola yang dimiliki suatu daerah, tetapi juga mendengarkan konsultasi dari tiap daerah di Indonesia mengenai kesulitan dalam melakukan pembinaan usia muda.

Setelah mendapatkan pelatihan selama beberapa minggu, penulis akhirnya ditugaskan ke Provinsi Kalimatan Timur dan berada di provinsi penghasil batu bara tersebut kurang lebih selama dua minggu.

Di masa pelatihan lah penulis bertemu langsung dengan Pieter Huistra, karena Huistra akan memberikan materi untuk pelatihan serta Huistra memang menjabat sebagai pengawas dari proyek tersebut. Dan dalam setiap obrolan, penulis secara pribadi menganggap bahwa Huistra memiliki visi dan kepedulian besar terhadap sepakbola Indonesia.

Dan menjadi miris karena hal ini justru menambah daftar panjang “orang asing” yang memiliki kepedulian besar terhadap sepakbola Indonesia namun tak memiliki wadah baginya untuk mengejawantahkan pemikiran-pemikirannya. Huistra berada di daftar yang sama dengan Timo Scheunemann dan Paul Cumming, di mana nama-nama di atas memberikan sumbangsih nyata terhadap pengembangan bakat negeri ini.

Komentar