Tentang Keragaman dan Pelatih Berkulit Hitam di Liga Inggris

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Tentang Keragaman dan Pelatih Berkulit Hitam di Liga Inggris

Ada berapa banyak pelatih kepala berkulit hitam di Liga Primer Inggris? Tidak ada!

Dari fakta di atas, bermunculan banyak pertanyaan mulai dari yang mendasar seperti, “Apakah masyarakat kulit hitam memang tidak mau menjadi pelatih?” hingga pertanyaan yang bernada melecehkan seperti, “Ah, memangnya masyarakat kulit hitam bisa melatih?”

Musim ini, awalnya ada enam pelatih berkategori Black, Asian, and Ethnic Minority (BAME)—atau disederhanakan menjadi pelatih yang tidak berkulit putih. Mereka adalah Chris Ramsey (QPR), Chris Powell (Huddersfield Town), Chris Hughton (Brighton), Jimmy Floyd Hasselbaink (Burton Albion), Ricardo Moniz (Notts County), dan Keith Curle  (Carlisle United).

Jumlah tersebut kian berkurang karena Chris Ramsey dipecat dan posisinya digantikan Hasselbaink. Hal serupa juga terjadi pada Chris Powell yang digantikan kompatriot Juergen Klopp di Borussia Dortmund, David Wagner.

Demi Menghidupkan Toleransi

Toleransi tidak dapat tumbuh dengan sendirinya. Interaksi bisa menjadi hal yang paling utama dalam menumbuhkan toleransi.

Teror di Paris beberapa waktu lalu sempat meningkatkan kewaspadaan dan kecurigaan masyarakat lokal terhadap para pendatang. Sejumlah simpatisan ultra nasionalis menginginkan agar negara mereka tidak lagi menerima imigran. Selain itu terdapat kebencian yang terlihat begitu mendalam dari kelompok ini terhadap para pendatang.

Di sisi lain, setelah teror Paris, hadir banyak eksperimen sosial yang melibatkan muslim. Misalnya, ada seseorang yang berdiri di tengah kerumunan dengan mata tertutup. Di hadapannya tertulis, “Peluk aku; Aku Muslim, bukan teroris”.

Faktanya, dari hasil eksperimen sosial tersebut, tidak semua masyarakat memiliki kebencian yang sama terhadap mereka yang berbeda. Kecintaan berlebih pada bangsa sendiri atau negara sendiri justru akan memunculkan fasisme yang bisa menjadi akar dari sejumlah masalah.

Budaya toleransi di masyarakat Barat telah terbangun karena mereka terbiasa melihat orang-orang yang berbeda; mulai dari ras sampai agama. Lagi pula, yang biasanya membedakan manusia adalah tentang kemampuan mereka, bukan ras atau agama.

Sederhanannya seperti ini. Anda memiliki tetangga Nasrani. Saat Anda tengah dalam krisis, tetangga Anda selalu membantu dan mendukung Anda untuk tetap berjuang dan menata kehidupan. Saat ada seseorang yang menginginkan suatu sistem negara dengan satu agama sebagai dasar yang tunggal, Anda mungkin menolak. Saat mendengar hal tersebut, bisa saja Anda memikirkan tetangga Anda yang tidak berasal dari satu agama mayoritas tersebut; bagaimana ia beribadah, bagaimana ia mengekspresikan pendapatnya, bagaimana ia menjalani hidup tanpa diskriminasi.

Hal ini juga berlaku di sepakbola. Anda tentu tak akan meneriakki seseorang berkulit hitam di tim lawan dengan sebutah melecehkan, karena Anda memiliki Makan Konate, yang perannya begitu vital, di tim. Anda pun tak akan mengejek seseorang berkulit albino misalnya, karena Anda dilatih oleh seorang Juan Antonio Paez.

Bias Rasial

Akademisi Inggris dari Universitas Loughborough, Dr. Steven Bradbury, menyatakan bahwa bias rasial, sadar atau tidak sadar, merupakan bentuk diskriminasi konstitusional yang bisa mencapai batas hingga meragukan potensi seseorang.

Hal ini yang membuat di sejumlah negara, Anda tidak diperbolehkan atau disarankan untuk tidak memasukkan foto dalam CV. Pasalnya, HRD perusahaan bisa saja mengenyahkan Anda karena faktor fisik maupun rasial.

Dalam penelitian Dr. Bradbury, tahun lalu hanya ada 19 dari 552 pelatih dan manajemen di sepakbola yang digolongkan sebagai BAME. Pada September  2015, angka tersebut naik menjadi 23 orang setelah adanya peningkatan jumlah pelatih berkulit hitam di Football League—sekarang menjadi 21 orang setelah Chris Ramsey dan Chris Powell dipecat.

Keragaman pada akhirnya membuat etnis minoritas tidak lagi dipandang sesuatu yang aneh atau mengancam bagi etnis mayoritas. Kala pesepakbola berkulit hitam belum ramai di Inggris, sering terdengar pertanyaan diskriminatif macam “Bisakah para pemain berkulit hitam itu bermain di udara dingin?”. Kini, dengan minimnya pelatih atau manajer berkulit hitam, misalnya, memunculkan pertanyaan lainnya, “Bisakah mereka menjadi manajer?” atau “Bisakah mereka memimpin?”.

“Faktanya bahwa kita masih tetap berada pada fase ini, menyoroti bahwa aku adalah satu-satunya manajer Premier League, menunjukkan bahwa bukan sebuah kebiasaan untuk memiliki orang dari etnis minoritas pada posisi ini (manajer),” ujar Chris Ramsey saat diwawancarai BBC, April 2015 silam, saat masih memimpin QPR di Premier League.

Menghindari Konflik Rasial

Masyarakat Polandia bersama dengan pemerintahnya merasa “beruntung”. Mereka melegitimasi keputusan pemerintah yang menolak menampung imigran dari Suriah. Pasalnya, teror di Paris melibatkan teroris yang berkedok sebagai pencari suaka.

Sebelumnya, pada awal November silam, suporter kesebelasan Silesian Wroclaw dengan bangga membentangkan banner raksasa yang berisi pesan menentang kehadiran imigran—terutama mereka yang Muslim. Dalam banner tersebut diperlihatkan bahwa para pencari suaka adalah golongan garis keras.

Polandia memang merapkan kebijakan yang berbeda dengan negara Uni Eropa lainnya. Polandia dan sejumlah negara Eropa Timur lainnya, tak begitu terbuka terhadap kehadiran imigran. Ribuan warga Polandia pun sempat menggelar protes di sejumlah kota-kota besar, termasuk ibukota Polandia, Warsaw, untuk menentang pemerintah yang menerima seribuan imigran.

Perwakilan Amnesty International, Weronika Rokicka, menyatakan kalau apa yang dilakukan oleh sejumlah masyarakat Polandia ini tak lain karena kurangnya edukasi terkait solidaritas sesama manusia. “Tidak ada yang mencoba menjelaskan kepada masyarakat Polandia bahwa salah satu kewajiban moral dan formal negara-negara Uni Eropa adalah menolong mereka yang mencari tempat bernaung karena teraniaya,” tutur Rokicka dikutip dari The Guardian.

Rokicka jelas menunjuk pemerintah Polandia yang kurang responsif terkait isu-isu imigran dan perbedaan. Ini yang membuat  sejumlah masyarakat di Polandia menganggap bahwa apa yang mereka lakukan—dengan melakukan diskriminasi terhadap imigran—adalah sesuatu yang benar.

Pemerintah Inggris, dalam hal ini FA, mungkin saja tak menginginkan masyarakat Inggris untuk bersikap sama seperti warga Polandia. Mereka tak menginginkan sistem masyarakat yang mendiskriminasi orang lain.

Penulis sempat membaca sebuah artikel yang menyatakan bahwa meskipun keseragaman mulai dibentuk, tetapi masih saja ada diskriminasi di masyarakat. Misalnya, manajemen lebih mudah pelatih berkulit hitam dan memberikan kesempatan lebih lama kepada pelatih berkulit putih. Hal-hal semacam ini merupakan bias rasial yang mestinya dihindari terutama di dalam olahraga. Pasalnya, sebagaimana halnya pekerjaan, olahraga lebih mengandalkan kemampuan ketimbang keunggulan rasial.

Komentar