Saat James Rodríguez Tak Sadar di Mana Dia Bermain

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Saat James Rodríguez Tak Sadar di Mana Dia Bermain

Jika Nathaniel Clyne merasa senang karena selalu diturunkan, James Rodriguez justru merasa bosan. Musim ini, gelandang berkebangsaan Kolombia tersebut baru bermain tiga kali sebagai starter di liga. Total ia baru bermain 271 menit; jumlah yang kelewat kecil jika membandingkan dengan nilai transfernya yang diperkirakan mencapai 80 juta euro.

Sejumlah kabar kurang sedap pun pada akhirnya hinggap. Ia dianggap tak memiliki hubungan baik dengan pelatih Real Madrid, Rafael Benitez.

Sejatinya, bukan cuma Rodriguez yang dianggap tak berhubungan baik dengan Benitez. Sejumlah pemain seperti Cristiano Ronaldo pun diisukan demikian. Media pun tidak sedikit yang mengambil posisi bersebrangan dengan Benitez. Tidak jarang pula mereka mengkritik permainan Real Madrid bersama Benitez yang dianggap membosankan.

Buat siapapun, Rodriguez bisa dibilang sebagai kunci kesuksesan. Penampilan gemilangnya di Piala Dunia 2014, memikat siapapun yang menyaksikannya. James bisa menyisir sisi lapangan, ataupun mengatur permainan di belakang penyerang. Ini pula yang mungkin saja membuat Madrid mau mengeluarkan uang puluhan juta untuk mendatangkan James ke Santiago Bernabeu.

Namun, tidak demikian buat Benitez yang mungkin saja merasa kalau James tidak cukup fit atau memang tidak sesuai dengan formasi yang ia terapkan. Pertandingan menghadapi PSG dan Shaktar Donetsk di Liga Champions menghadirkan kebingungan bukan cuma buat penonton tapi juga para pemain Madrid. Pasalnya, James hanya dibiarkan menyaksikan di pinggir lapangan dengan kostum latihan.

Media Kolombia, El Deportivo, bahkan menyindir Benitez, “Jika Rafa Benitez ingin membuat James bosan, dia sukses. Tidak seperti sebelumnya pelatih Real Madrid membatasi “The Cafetero” ke sisi. Tidak membiarkan dia dari terlibat dalam serangan.”

El Deportivo pun mencontohkan saat pertandingan menghadapi SD Eibar, di mana James diganti di tengah pertandingan. “Terbatas di sayap kanan, James Rodriguez gagal bersinar. Ia tak memiliki kesempatan untuk menunjukkan talentanya saat absennya Karim Benzema,” tulis El Deportivo.

Selain perubahan peran James, Real Madrid pun dituduh bermain terlampau membosankan. Mereka tak punya pertahanan yang kuat, dan lini serang yang tak tajam.

Ini pula yang menjadi kritik dari pelatih legendaris Villareal, David Vidal, saat diwawancarai radio Spanyol 4G, jelang pertandingan Real Madrid menghadapi Cadiz.

“Dia adalah sahabatku dan aku akan selalu membelanya. Namun, dia harus sadar bahwa dia tengah melatih Real Madrid, bukan Getafe. Orang-orang menyarankan kalau ia harus memperkuat pertahanan dan mengimprovisasi penyerangan, tapi itu tidak benar. Dia harus melakukan yang lebih baik karena dia memiliki pemain terbaik di dunia. Dia perlu membuat sepakbola yang brilian,” ucap Vidal.

Sementara itu, Vidal pun memberi saran pada James kalau ia mesti mengerti bahwa di Real Madrid ia menghadapi para pemain yang berkompetisi di dalam tim. Real Madrid mendatangkannya karena dia bisa mencetak gol di Piala Dunia dan itu adalah hal yang gila, “Isco adalah pemain yang lebih baik.”

Kepada Marca, Benitez pun buka suara, “Kami punya pemain yang bisa menggantikannya dan melakukan pekerjaan yang baik di posisi tersebut.”

Salah satu alasan Benitez mencadangkan James adalah karena ia pernah cedera hingga 55 hari. “Tidak ada masalah dengan pemain. Semakin dia berlatih dan bermain, semakin baik buat kami,” ucap Benitez.

Benitez sendiri menyatakan dukungannya buat James. Namun diapun mengklarifikasi bahwa James harus bersaing dengan skuat yang dihuni oleh pesepakbola yang memiliki kemampuan untuk mengisi posisinya.

“Aku percaya pada James, dan aku mendukungnya. Tapi, saya bersikeras kalau ini adalah Real Madrid, kesebelasan yang punya kompetisi ketat di dalam skuat,” kata Benitez.

Ya, James, ini Real Madrid; bukan AS Monaco atau FC Porto. Ini adalah tempat di mana legenda seperti Raul Gonzalez dan Iker Casillas sekalipun bisa tersingkir.

foto: dailypost.ng

Komentar