Pañolada, Seni Protes à la Suporter La Liga di Stadion

Cerita

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Pañolada, Seni Protes à la Suporter La Liga di Stadion

Kesal dan malu bisa menjadi gambaran perasaan Florentino Perez, Presiden Real Madrid di penghujung laga El Clasico. Kalah empat gol tanpa balas tentu bukan apa yang diharapkan sang presiden.

Suporter pun geram dengan permainan yang ditampilkan Cristiano Ronaldo cs. Meski sempat menekan dan menciptakan peluang pada babak kedua, mereka tetap tak mampu mematahkan dominasi permainan Barcelona. Tak ayal, cemoohan pun tertuju bukan cuma pada pemain tapi pada Perez. Teriakan yang meminta Perez turun jabatan pun terdengar cukup nyaring malam itu.

Lebih epic lagi, para Madridista malah memberikan standing applause untuk Andres Iniesta, sang kapten Barcelona saat melakukan pergantian pemain. Tentu ini adalah pemandangan yang langka mengingat para publik Santiago Bernabeu terakhir kali memberikan standing applause mereka untuk lawan di laga El Clasico adalah untuk sang maestro Brasil, Ronaldinho, tepat sepuluh tahun silam.

Namun ada pemandangan menarik ketika para Madridista meneriaki pemain dan presiden dari kesebelasan kebanggaan mereka. Para supporter tersebut melambai-lambaikan kertas putih serta tisu ke arah lapangan sebagai simbol “menyerah atas keadaaan” yang menimpa mereka saat itu. Intinya mereka tidak puas atas kinerja presiden, pemain, dan pelatih mereka serta menuntut mundur dari jabatannya. Istilah melambaikan kertas putih/tisu tersebut dinamakan dengan istilah pañolada.

Meski dituntut mundur , Florentino tampaknya tak bergeming. Malah menurut laporan stasiun radio Cadena Cope, Florentino Perez tetap bersikukuh untuk mendukung Rafa Benitez sebagai pelatih El Real saat ini. Sedangkan tuntutan pemilihan umum untuk kepresidenan Real Madrid, ia sendiri belum mau berkomentar banyak.

Beberapa surat kabar Spanyol mulai mengindikasikan bahwa Zinedine Zidane yang kini menjadi pelatih Real Madrid Castilla akan menjadi pengganti Benitez jika ia Rafa dipecat. Namun, Zidane sendiri langsung menyanggahnya.

Baca juga:


“Aku adalah manajer di Real Madrid Castilla, Benitez adalah manajer di tim utama dan semuanya berjalan dengan baik,” ungkap legenda Prancis tersebut seperti dikutip dari Marca.

“Aku masih memiliki jalan yang sangat panjang di sini dan bagaimanapun, aku belum terpikirkan untuk menjadi manajer di tim utama. Semua yang aku lakukan saat menjadi manajer sama dengan apa yang kau lakukan saat aku menjadi pemain dulu. Aku melakukannya setahap demi setahap. Pekerjaanku adalah manajer Castilla dan aku akan melanjutkannya,” sambung Zidane.

Krisis di tubuh Los Blancos yang berujung pada pañolada di saat pertandingan berlangsung sebetulnya bukan hanya Madrid yang pernah merasakannya. Bahkan kesebelasan Barcelona saat awal 2000-an lalu, para suporternya melakukan hal yang sama di Camp Nou.

Pada awal musim 2002/2003 lalu, Barcelona mengalami salah satu start terburuknya dalam sejarah. Empat kekalahan dalam lima pertandingannya membuat para pendukung kesebelasan yang berjuluk Blaugarana tersebut protes dan melakukan pañolada saat Barca ditekuk oleh Sevilla dengan skor 3-0. Padahal, saat itu pelatih Barca adalah Louis van Gaal yang come back setelah pada periode pertama melatihnya menuai kesuksesan di tahun 1997 hingga 2000 lalu.

Seluruh surat kabar di Spanyol saat itu hampir serempak memasang tajuk utama; "¡Dimisión!" yang artinya adalah “Resign!” yang ditujukan untuk sang presiden Joan Gaspart dan sang pelaih Louis van Gaal.

Saat pertandingan antara Barca menghadapi Sevilla usai, salah satu reporter dari Canal Plus menunggu sang presiden di pintu keluar tribun VIP Camp Nou dan menanyakan apakah ia akan turun dari jabatannya atau tidak. Sang presiden mencoba menghindari sang reporter tersebut tanpa mau berkomentar banyak. Beberapa jam kemudian, pihak klub merilis kabar bahwa sang presiden akan memberikan pernyataannya terkait kasus protes dari para suporter di stadion saat itu.

Akhirnya beberapa bulan kemudian, Joan Gaspart mengundurkan diri pada tahun 2003 dan habis pula masa jabatan Van Gaal sebagai pelatih Barcelona saat itu. Pemilihan umum berhasil dilakukan dan memunculkan nama Joan Laporta sebagai presiden anyar dengan membawa Ronaldinho sebagai rekrutan besar Barcelona saat itu.

Kini menarik untuk ditunggu apakah Florentino Perez akan benar-benar mundur dari jabatannya sesuai dengan tuntutan para Madridista atau ia akan terus memelihara egonya demi jabatan tertinggi tersebut karena kini, para pemain Madrid sendiri dikabarkan berhubungan kurang baik dengan sang pelatih Rafa Benitez sedari beberapa pekan terakhir ini.



Jadi, apakah kesebelasan favorit kalian di liga-liga lain pernah melakukan protes dengan hal yang serupa? Mari bagikan pengalamannya di kolom komentar di bawah ini.

Sumber gambar: Punto Pelota

Komentar