Polandia Tolak Imigran

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Polandia Tolak Imigran

Sebuah banner besar menggambarkan tiga kapal karet yang masing-masing bertuliskan “USS Hussein”, “USS Bin Laden”, dan “USS ISIS” dalam laga antara ?l?sk Wroc?aw menghadapi Lech Pozna? di Ekstraklasa atau Liga Polandia. Tidak lupa para penumpang dalam kapal tersebut pun mengacungkan jari telunjuk sebagai simbol yang biasa digunakan ISIS.

Banner tersebut mengirimkan pesan anti migrasi massal yang tengah mendera Eropa dalam beberapa bulan terakhir. Dalam banner tersebut digambarkan tiga kapal karet tengah menyerbu Eropa, tapi dihadang oleh seorang berbaju zirah dengan pedang dan tameng. Terdapat pula tulisan “While Europe is Flooded with an Islamic Plague”.

Apa yang dibentangkan di stadion tersebut memang mengejutkan. Banner bertuliskan tangan tersebut memiliki tinggi sekitar 15 meter dengan lebar 22 meter. Sejumlah penonton di tribun pun membentangkan syal dengan simbol anti-Islam. Pada tribun bagian bawah, terbentang spanduk bertuliskan, “Let Us Stand in Defence of Christianity.”

Wroc?aw merupakan salah satu kesebelasan dengan basis suporter terbesar di Polandia. Uniknya, mereka termasuk yang paling aktif dalam kegiatan politik. Sejumlah banner dengan pesan anti-Komunis kerap terpampang saat mereka bertanding. Para suporter pun faktanya memiliki cara pandang yang sama.

Polandia Anti Islam 1

Salah satunya adalah syal yang dibawa oleh dua perempuan di atas. Terdapat empat simbol anti-Islam dan anti-ISIS dengan lambang kesebelasan dan lambang Polandia di bagian tengah. Sejumlah spanduk pun kerap memicu perselisihan dengan suporter yang memiliki pandangan politik kiri.

Di Polandia, Wroc?aw memiliki kekerabatan yang begitu erat bersama Legia Warsaw karena memiliki pandangan politik yang sama. Pada 2012 silam, Legia pernah menempelkan banner besar bertuliskan “Jihad Legia” yang secara tidak langsung mencemooh perilaku jihad dalam Islam.

Baca juga: Kegagalan Eropa Memerangi Rasisme di Eropa Timur

Untuk urusan hukuma, UEFA sudah beberapa kali menghukum Legia. Umumnya karena nasisme dalam pertandingan dan menampilkan banner yang menghina jihad dalam Islam.

Polandia Anti Islam 2

Berbeda dengan di Jerman yang begitu terbuka terhadap kehadiran imigran, Polandia justru keras menolaknya. Tentu, tak semua seperti itu. Namun, karena kuatnya pengaruh pandangan politik kanan-jauh di pemerintahan, membuat gerakan anti-imigran justru terdengar nyaring.

September lalu, sejumlah warga menggelar demonstrasi anti-imigrasi di sejumlah tempat di Polandia. Aksi tersebut kabarnya diorganisasikan oleh politisi sayap kanan. Ribuan orang turut dalam aksi tersebut, termasuk di ibu kota Polandia, Warsaw. Protes tersebut dilakukan sebagai respons atas keputusan mantan Perdana Menteri Ewa Kopacz yang memutuskan Polandia ikut dengan negara Uni Eropa lainnya untuk memberikan bantuan terhadap pengungsi. Saat ini, posisi Kopacz digantikan Beata Szydlo dari partai dengan spektrum politik sayap kanan.

Hasil dari aksi protes tersebut adalah coretan di sejumlah tembok di Warsaw yang isinya berupa grafiti atau coretan di dinding dengan pesan rasis.

Buruknya Pandangan Terhadap Muslim

“Kami tak ingin ada teroris di sini. Apakah kamu melihat apa yang (dulu) mereka lakukan di barat?” tanya seorang pensiunan dari Polandia seperti dikutip The Guardian.

Dari sumber yang sama, berdasarkan pandangan umum di Polandia, sebagian besar merasa kalau imigran bisa mengancam lapangan kerja mereka. Imigran pun dianggap bisa mengganggu ekonomi negara.

Politik di dalam negeri pun menghadapi dilema karena Uni Eropa menyerukan solidaritas negara-negara untuk membantu imigran, di sisi lain, masyarakat tak menghendaki. “Masyarakat tak ingin ada imigran di sini,” tutur salah seorang politisi Partai Civic Platform, “Masyarakat tidak memahami imigran; tidak menyukainya; dan percaya kalau mengurus imigran amatlah mahal.”

Apa yang dilakukan oleh Polandia memang merupakan hak mereka untuk menerima atau menolak kehadiran imigran. Toh, berdasarkan catatan The Guardian, mayoritas imigran mencari suaka ke Jerman dan Swedia, yang masyarakatnya dianggap lebih ramah dan memiliki masa depan yang lebih cerah.

Pada 2014, imigrasi Polandia hanya menampung 732 orang asing dan menolak 2 ribuan lainnya. Dari mereka yang diterima adalah 115 warga Suriah yang mengungsi karena perang sipil—yang membuat empat juga warga harus pergi dari negerinya.

Di sisi lain, perwakilan dari Amnesty International, Weronika Rokicka, menyayangkan tidak adanya penjelasan dari pemerintah Polandia kepada rakyatnya terkait solidaritas Uni Eropa. Uni Eropa bukan sekadar kelompok yang cuma memikirkan bisnis dan segala hal tentang uang. “Tidak ada yang mencoba menjelaskan kepada masyarakat Polandia bahwa salah satu kewajiban moral dan formal negara-negara Uni Eropa adalah menolong mereka yang mencari tempat bernaung karena mereka teraniaya,” tutur Weronika.

Menurut Weronika hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah menjelaskan terkait imigran lewat progra-program pendidikan karena masyarakat Polandia belum siap akan kehadiran imigran.

Berdasarkan penjelasan Weronika tentu kita bisa mengambil simpulan kalau apa yang dilakukan para suporter itu adalah mereka yang belum benar-benar terdidik. Karena semestinya, semakin mereka memahami persoalan, semakin besar pula timbul rasa simpati dan empati kepada kaum migran.

Mereka, para imigran, bukannya sedang bersenang-senang dan membawa perbekalan untuk perang ke Eropa. Para imigran justru membutuhkan ketenangan yang tidak mereka dapatkan di negaranya. Mereka adalah kaum yang terusir karena teraniaya. Untuk hal ini, Polandia seolah menutup mata. Sejumlah warga dengan pandangan politik yang ekstrem justru mencemooh agama mayoritas dari para imigran. Tidur dan makan saja susah, bagaimana mau perang?

 Baca juga: Jalan Panjang Sepakbola Jerman Memerangi Rasisme

Foto dan sumber tulisan: breitbart.com

Komentar