Muto dan Hasil dari Menolak Chelsea

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Muto dan Hasil dari Menolak Chelsea

“Premier League adalah liga yang hebat,” ujar Yoshinori Muto sebagaimana dikutip dari Express. “Namun saya belum siap bermain untuk Chelsea. Saya tidak ingin terburu-buru dan saya ingin berkembang dengan pasti.”

Sementara bermain di Inggris menjadi impian banyak pemain sepakbola, Muto menolak Chelsea yang terang-terangan meminatinya. Entah ada hubungannya atau tidak dengan gelar sarjana ekonomi yang baru diraihnya dari Keio University pada Maret lalu, Muto mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang. Ia memilih untuk tidak bergabung dengan Chelsea karena ingin berkembang. Atau, bisa jadi, ia memilih untuk tidak bergabung dengan Chelsea karena tahu The Blues tidak melihatnya sebagai pemain utama, melainkan citra Chelsea di Jepang.

Ketertarikan Chelsea terhadap Muto muncul tidak lama setelah Chelsea mengumumkan kerja sama mereka dengan Yokohama Rubber, perusahaan asal Jepang, negara asal Muto. José Mourinho, ketika disinggung mengenai ada atau tidaknya unsur kepentingan luar lapangan dalam ketertarikan Chelsea terhadap Muto, berkata: “Beginilah sepakbola modern. Beginilah manajemen modern. Kita tidak dapat sepenuhnya menutup pintu terhadap kepentingan komersial.”

Pada akhirnya Muto memilih FSV Mainz 05, kesebelasan yang belum pernah meraih gelar juara kompetisi profesional, ketimbang Chelsea sang juara bertahan Premier League. Bersama kesebelasan asal negara bagian Rheinland-Pfalz tersebut Muto menorehkan rekor demi rekor. Yang terbaru melibatkan tiga gol dalam satu pertandingan.

“Bakatnya luar biasa,” ujar Ranko Popovi?, pelatih yang memberinya kesempatan menjalani debut di kesebelasan utama FC Tokyo. “Sudah lama saya tidak melihat pemain yang sangat cerdas seperti Muto. Ia berbeda dengan semua pemain lain karena ia berasal dari keluarga baik-baik, ia mendapatkan pendidikan yang bagus, ia masuk perguruan tinggi. Ia sangat pintar, cerdas, dan memiliki hal yang tidak dapat kita pelajari.”

Semua kesuksesan yang sudah Muto raih sejauh ini memang tidak lepas dari kecerdasan yang ia miliki. Muto berkembang karena ilmunya bertambah, bukan semata karena tubuhnya lebih terbiasa dengan dunia sepakbola profesional.

“Apa yang langsung terlihat darinya begitu saya melihatnya dalam latihan adalah kekuatan dan daya ledaknya yang mentah,” ujar Massimo Ficcadenti, pelatih kepala FC Tokyo. “Ketika saya berbicara dengan asisten saya, saya berkata kepada mereka, ‘jika ia (Muto) juga bisa belajar cara bermain, ia dapat menjadi pemain sepakbola yang hebat’.”

Muto, masih menjalani aktivitasnya sebagai mahasiswa jurusan ilmu ekonomi di Keio University ketika menjalani musim profesional pertamanya (musim 2014) tampil cukup baik. Muto mencetak 13 gol dalam musim profesional pertamanya. Musim keduanya tidak selesai karena ia meninggalkan FC Tokyo di pertengahan musim. Namun dalam 17 pertandingan di paruh musim pertama, Muto sempat mencetak 10 gol. Ia meninggalkan Tokyo untuk Mainz dengan catatan 23 gol dari 51 pertandingan J-League.

Christian Heidel, Yoshinori Muto

Ketika diperkenalkan sebagai pemain baru Mainz, Muto tampil dalam setelan jas berwarna biru tua. Penampilannya begitu rapi sehingga Tobias Sparwasser, juru bicara kesebelasan, sampai merasa harus menegaskan bahwa Muto adalah salah satu pemain paling rapi dalam sejarah Mainz.

“Ia jelas salah satu pemain dengan pakaian terbaik yang pernah kami perkenalkan,” ujar Sparwasser dalam jumpa pers perkenalan Muto. “Ia bahkan lebih bersinar dari presiden (Harald Strutz) dan itu saja sudah menegaskan sesuatu!”

Tak hanya dengan pakaian yang ia kenakan, Muto juga membuat orang-orang di rumah barunya terkesan dengan kemampuannya berbahasa Jerman. Ia masih belajar. Dalam setiap sesi wawancara, Muto masih ditemani seorang penerjemah. Namun dalam perkenalan resminya Muto berbicara dalam bahasa Jerman.

“Halo, saya Yoshinori Muto! Saya senang dapat bermain untuk kesebelasan yang hebat dan saya...” Muto berhenti sejenak untuk menemukan kata yang ia cari. “... saya akan memberi kemampuan terbaik saya untuk Mainz dan walau Jerman adalah bahasa yang sulit, saya akan mempelajarinya. Terima kasih banyak.”

Dengan kontrak berdurasi empat tahun Muto memiliki banyak waktu untuk memperbaiki bahasa Jermannya. Namun ia tahu ia harus tampil sebaik mungkin secepat mungkin dan performa yang harus ia tampilkan bukan hanya kemampuan berbahasa. Terlebih lagi karena ia terbebani keharusan menyamai Shinji Okazaki, pemain Jepang tersubur di Bundesliga. Dan ia harus melakukannya tanpa bimbingan dari sang senior yang memilih meninggalkan Mainz untuk Leicester City tidak lama setelah Muto bergabung dengan Karnevalsverein.

Muto menjalani debutnya dari bangku cadangan, tampil dalam 12 menit terakhir pertandingan Bundesliga pekan pertama. Di pekan kedua ia tampil sebagai starter dan bermain penuh melawan Borussia Mönchengladbach. Muto tidak mencetak gol namun membuat Martin Schmidt, pelatih kepala Mainz, terkesan. Muto berlari sejauh 12 km dalam pertandingan penuh pertamanya.

“Yoshi, dengan mesin dan hasratnya, melakukan apa yang dilakukan Okazaki sebelum ia meninggalkan kami,” ujar Schmidt. “Saya senang melihat penampilannya. Ia mengganggu dan menekan lawan tanpa belas kasihan dan, karenanya, menjadi barisan pertahanan kami yang pertama, mungkin malah yang terpenting. Dengan bekerja sangat keras, ia meringankan tekanan para pemain belakang kami.”

Muto yang banyak berlari dan mengandalkan kecepatannya ketika menyerang berkali-kali terjebak offside. Namun Schmidt tidak melihatnya sebagai indikator tingkat kecerdasan bermain yang rendah.

“Jika ia tidak bermain seperti itu, tidak banyak berlari, lini belakang Gladbach pasti mampu menekan lebih tinggi,” ujar Schmidt. “Ia bukan penyerang yang diam saja dan menunggu bola. Ia memang tidak boleh bermain seperti itu, karena itu tidak cocok dengan strategi permainan kami.”

Yoshinori Muto, gol pertama untuk Mainz

Penampilan di pekan kedua membawa Muto kembali tampil sebagai starter di pekan ketiga, melawan Hannover 96 di Coface Arena. Pada pertandingan ini Muto mencetak dua gol. Brace yang dicetaknya adalah yang tercepat dalam sejarah pemain Jepang di Bundesliga. Baru tampil dua kali, Muto sudah mencetak brace. Tak berhenti sampai di situ, tekanan Muto kepada lini pertahanan Hannover membuat Marcelo melakukan kesalahan. Yunus Mall? pun mendapat peluang gratis untuk mencetak gol ketiga Mainz di pertandingan tersebut.

Tujuh pekan setelahnya berlalu tanpa satu gol pun dari Muto. Namun Muto tetap menjadi pilihan utama karena kerja kerasnya penting dalam taktik menekan yang dimainkan Schmidt. Muto mengganti absennya gol dengan tiga assist. Barulah pada pekan ke-10 Muto kembali mencetak gol, saat Mainz kalah 1-3 dari  Werder Bremen.

Yoshinori Muto hattrick

Di pekan ke-11 nama Muto kembali muncul di papan skor. Tidak satu kali seperti ketika melawan Bremen. Tidak dua kali seperti dalam pertandingan melawan Hannover. Muto mencetak tiga gol. Keberuntungan menjauhkannya dari gol keempat, namun tiga pun rasanya lebih dari cukup. Tiga gol Muto menyelamatkan Mainz, yang bermain imbang 3-3 melawan FC Augsburg hari itu.

Tiga gol Muto ke gawang Augsburg berarti tiga hal. Pertama, ia membuktikan diri mampu mencetak gol tandang. Kedua, Muto menjadi pemain Jepang pertama yang berhasil mencetak enam gol dalam sebelas pertandingan Bundesliga pertamanya. Ketiga, Naohiro Takahara sekarang bukan lagi satu-satunya pemain Jepang yang berhasil mencetak hattrick dalam sebuah pertandingan Bundesliga; dan Muto mencetak tiga golnya sambil menahan sakit akibat cedera ringan yang dialaminya pada pertandingan melawan Bremen.

Komentar