Eto'o dan Boko Haram yang Ter(di)lupakan

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Eto'o dan Boko Haram yang Ter(di)lupakan

Beberapa negara di Afrika mengalami krisis kemanusiaan yang disebabkan oleh manusia itu sendiri. Salah satunya yang terjadi di Nigeria di mana kelompok pemberontak, Boko Haram, menguasai sebagian wilayah dan menculik para penduduk.

Kamis (30/10) kemarin, tentara Nigeria berhasil membebaskan 338 sandera yang kebanyakan terdiri dari perempuan dan anak-anak. Peperangan menghadapi Boko Haram sudah dilakukan sejak enam tahun silam dan hingga kini masih belum ada hasil yang signifikan.

Awal bulan ini, terjadi bom bunuh diri di Kamerun yang diduga diprakarsai oleh Boko Haram. Kamerun pun menyiagakan pasukan untuk memukul mundur Boko Haram dari wilayah yang mereka duduki di Kamerun. Kamerun pun berafiliasi dengan tentara Nigeria untuk memerangi Boko Haram.

Hal ini rupanya mengambil perhatian yang begitu besar pada ikon sepakbola Afrika, Samuel Eto’o. Pemain yang pernah memperkuat Chelsea, Inter Milan dan Barcelona tersebut merasa kalau bergejolaknya krisis di barat Afrika tengah dalam bahaya, bukan karena meningkatnya serangan melainkan karena dunia melupakannya. Belum lagi agenda media yang saat ini jauh lebih menyoroti konflik di Irak dan Suriah serta di Laut Cina Selatan ketimbang mengalihkan perhatiannya ke Afrika.

“Ini adalah krisis kemanusiaan yang tak tertahankan. Seperti kata Martin Luther King, ‘Tragedi utama bukanlah penindasan dan kekejaman oleh orang-orang jahat tapi keheningan dalam benak orang-orang baik,” ucap Eto’o dikuti The Guardian.

Hal tersebut tidak bisa dibiarkan terjadi. Eto’o menyatakan dalam lebih dari satu kesempatan dan memastikan itu tak akan terjadi. Lewat badan yang ia bentuk pada 2006, Fundacion Privada Samuel Eto’o, ia berkeinginan untuk meningkatkan perhatian dunia pada krisis yang terjadi di Afrika.

Baca juga: Ledakan Saat Nonton Piala Dunia 2014 di Nigeria

Sebelumnya, ia pun telah meluncurkan inisiatif “Yellow Whistle Blower FC” di mana menggunakan peluit berwarna kuning sebagai simbol korban Boko Haram. Warna kuning diambil dari bintang di bagian tengah bendera Kamerun sementara peluit sebagai metafora untuk populasi di area terdampak. Banyak dari mereka yang merupakan peternak dan pengembara di mana peluit menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

“Inisiatif ini lahir atas kemarahan dari ketidakacuhannya manusia terhadap isu. Negeriku tengah dalam bahaya, Niger juga terdampak, sementara Chad terancam. Ada orang seperti Anda dan saya yang kehilangan segalanya begitu cepat. Tujuan kami adalah untuk membunyikan peringatan bagi orang-orang dan menggalang dana untuk bantuan langsung di lapangan,”

“Pendidikan adalah hal yang penting. Seperti yang diucapkan Nelson Mandela, bahwa itu adalah senjata paling kuat untuk mengubah dunia. Bersama Presiden Kamerun, Paul Biya, saya meyakinkan bahwa kami harus berinvestasi di pendidikan untuk pengungsi. Namun saya menolak untuk putus asa, karena keputusasaan adalah menolak kehidupan,” tutur Eto’o.

Di sepakbola, Eto’o barangkali sudah mendapatkan segalanya: juara Liga Champions hingga dua titel Piala Afrika. Namun, ia masih harus berusaha keras agar suaranya didengar. “Apa yang kami inginkan untuk masyarakat adalah menjadi lebih sensitif dan peka terhadap masalah yang kami hadapi di Afrika bagian barat. Faktanya, ini bukan bagian yang sering diperbincangkan,” tutur Eto’o.

Pemain kelahiran 1981 tersebut menyatakan kalau krisis tersebut tak melulu soal Kamerun karena juga berdampak pada banyak negara di dunia. Sayangnya hal ini tidak menjadi bahan perbincangan publik yang membuat krisis kian berat dan menyakitkan.

Lewat yayasannya, Eto’o pun mulai melakukan pergerakan di Claridge Hotel di London pada Selasa (27/10) petang waktu Inggris. Sejumlah pesepakbola yang juga sahabat Eto’o hadir seperti Deco, Louis Saha, Habib Beye, dan Benoit Assou-Ekottou. Dalam acara tersebut dilakukan pelelangan yang menghasilkan puluhan ribu pounds; salah satunya adalah sesi berlatih bersama Eto’o.

Nantinya, uang tersebut akan diberikan pada pengungsi di Nigeria dan Kamerun. Berdasarkan UNHCR, badan PBB yang mengurusi pengungsi,terdapat dua juga warga Nigeria yang terusir dari rumah dan 170 ribu di antaranya mesti melewati batas negara untuk mencari rasa aman.

Kepala UNHCR Inggris, Gonzalo Vargas Llosa, menyatakan bahwa saat ini dunia terfokus pada pergerakan imigrasi di Suriah. Padahal, krisis serupa yang tidak kalah tragisnya juga menimpa Nigeria, Kamerun, Niger, dan Chad. “Skala kebrutalan krisis di Nigeria amat mengejutkan. Keinginan kami adalah untuk memastikan hal tersebut tak terlupakan,” kata Llosa dikutip dari The Guardian.

Pemberontakan atas dasar perjuangan ideologi dengan kekerasan adalah hal paling menyakitkan dalam hidup. Ideologi adalah sesuatu hal yang bahkan tidak tampak oleh mata karena berbasis pada kepercayaan. Pemaksaan atas ideologi berarti mengubah fondasi dasar dalam hidup manusia. Sialnya, manusia rela mati untuk memperjuangkannya; karena mati dan membikin orang mati adalah bagian dari perjuangan.

Editorial kami tentang "Mengharamkan Sepakbola"

foto: ibitimes.co.uk

Komentar