Luis Aragonés, Pemain yang Tersisih dari El Real dan Melegenda di Atleti

Cerita

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Luis Aragonés, Pemain yang Tersisih dari El Real dan Melegenda di Atleti

Luis Aragones yang kita kenal adalah pelatih yang mampu mengubah nasib sepakbola Spanyol. Empat puluh empat tahun tim nasional Spanyol puasa gelar major. Sampai akhirnya, di gelaran Piala Eropa 2008, Spanyol berhasil menjadi jawara di Eropa saat ditangani Aragones.

Petuahnya yang paling berkesan, dan banyak diingat, ketika itu adalah: “Jika saya tak mencapai partai final, maka aku adalah pelatih buruk yang telah gagal mengorganisasikan tim yang buruk pula.”

Luis Aragones, yang dijuluki sebagai “orang bijak dari Hortaleza” ini pernah membela kedua kesebelasan raksasa di ibukota Spanyol yaitu Real Madrid dan Atletico Madrid. Wajar saja, toh ia sendiri memang asli kelahiran Hortaleza, salah satu wilayah di kota Madrid. Namun, Aragones adalah satu dari banyak pemain berbakat yang terbuang dari Real Madrid.

Mengawali karir sepakbola di kesebelasan Getafe, karir Luis Aragones melejit. Ia secara mengejutkan dipinang Real Madrid yang saat itu disesaki pemain bintang sekelas Alfredo di Stefano, Raymond Kopa hingga Francisco Gento. Agak mengherankan memang Real Madrid merekrut Luis Aragones. Namun, namanya juga kesemapatan, Aragones tak pikir panjang.

Namun nasibnya getir bersama El Real. Selama terdaftar sebagai pemain Real Madrid, Luis Aragones tak pernah sekalipun mencicipi bermain bagi kesebelasan yang berjuluk Los Merengues tersebut. Yang ada malah ia menjadi pemain pinjaman di kesebelasan Recreativo Huelva, Hercules CF sampai ia harus dikembalikan lagi ke kesebelasan cadangan Real Madrid yaitu Real Madrid Castilla. Ia benar-benar tak mendapatkan kesempatan unjuk gigi bersama Real Madrid.

Luis Aragones tersisih. Ia menyingkir dengan sendirinya ke selatan Spanyol dengan bergabung bersama Real Betis. Menghabiskan tiga musim di Andalusia, Aragones kembali ke kota Madrid dengan menerima pinangan rival Real Madrid, yaitu Atletico Madrid. Di kesebelsan yang berjuluk Los Cholconeros itu akhirnya ia bisa menampilkan permainan terbaiknya. Ia juga dijuluki Zapatones atau si sepatu besar. Ini mengacu pada kelihaiannya mengeksekusi tendangan bebas dan tendangan penalti.

Sepuluh tahun berkiprah bersama Atletico Madrid sudah cukup menjadikannya salah satu legenda. Gelar-gelar kompetisi lokal, seperti trofi La Liga Spanyol sebanyak tiga kali dan dua trofi Copa del Rey, dipersembahkannya kepada Atletico dan menahbiskan pemain yang lihai bermain sebagai gelandang serang ini menjadi legenda.

Luis Aragones bisa saja didaulat sebagai pahlawan kemenangan di final Liga Champions 1974 saat Atleti bertemu Bayern Muenchen di Brussels, Belgia. Pertandingan yang berkahir imbang di babak normal itu memaksa wasit menambahkan waktu tambahan 30 menit lagi. Enam menit jelang bubaran di menit 114, Luis Aragones berhasil mencetak gol untuk keunggulan Atletico Madrid.

Kemenangan di depan mata ini pupus di 90 detik terakhir ketika Hans-Georg Schwarzenbeck membalas gol dari Atletico Madrid. Skor 1-1 memaksa pertandingan diulang kembali dan akhirnya Bayern mendominasi pertandingan dengan skor 4-0. Pupus sudah harapan Aragones dan para Atleticos untuk memboyong trofi si kuping besar ke ibukota Spanyol.

Pasca kekalahan tersebut, Aragones gantung sepatu di usinya ke 36 tahun. Ia langsung mengambil alih kursi manajerial Atletico Madrid yang sebelumnya dipegang Juan Carlos Lorenzo. Atletico beruntung bisa menjadi wakil benua Eropa di Piala Interkontinental karena jawara Eropa saat itu, Bayern Muenchen, menolak berpartisipasi. Jadilah trofi antar benua menjadi penanda awal kegemilangan Aragones di karir kepelatihan.

Harapan para Atleticos untuk berpesta-pora merayakan gelar Liga Champions sebetulnya muncul kembali ketika Dego Simeone mampu membawa Los Cholconeros menuju final dan bersua Real Madrid. Bahkan demi mengenang jasa-jasa Luis Aragones, pihak kesebelasan dengan sengaja membikin tulisan kecil di kerah kostum yang dikenakan para pemain di laga final tersebut.

Namun, tulisan persembahan bagi Luis Aragones tersebut tak berdampak apapun bagi skuat Atletico Madrid. Lagi-lagi gol telat di perpanjangan waktu dari sundulan Sergio Ramos memupus mimpi mereka. Skor 1-1 di waktu normal berubah menjadi 4-1 ketika dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu saat itu. Real Madrid pun resmi mengangkat trofi Eropa mereka untuk kesepuluh kalinya.

Getir sekali memang jika harus menghubungkan Luis Aragones dengan kesialan yang didera Atletico di babak final Liga Champions. Pun seandainya ia bisa berbicara dari alam yang lain, mungkin satu pintanya bagi Atleti sekarang adalah meraih trofi yang tertunda tersebut ke Vicente Calderon. Walau begitu, Luis Aragones akan selalu dikenang sebagai pemain yang tersisih dari El Real dan menjelma menjadi legenda terbesar di kesebelasan Atletico Madrid.

Foto: Cholconero.com

Komentar