Steven Naismith dan 76 Tiket Gratis

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Steven Naismith dan 76 Tiket Gratis

Sah-sah saja jika para pemain sepakbola menyimpan semua kekayaan untuk mereka sendiri. Namun tentunya lebih baik lagi jika mereka berbagi. Tak perlu membelikan rumah atau barang mewah; selembar tiket pertandingan saja sudah wah.

Para pemain sepakbola profesional pantas menikmati segala kemewahan yang mereka miliki. Bagaimana pun, semua kenikmatan hidup yang mereka dapatkan adalah buah manis dari kerja keras mereka selama belasan (bagi para pemain senior, puluhan) tahun. Seperti seniman, para pemain sepakbola profesional menghabiskan banyak waktu mereka untuk menguasai dan menyempurnakan keahlian yang mereka pilih sebagai jalan hidup.

Dan banyak pemain sepakbola profesional berasal dari keluarga miskin. Mereka, pada masa kecilnya, harus tidur bersama tiga orang atau lebih saudara di satu ranjang yang sama, di dalam rumah yang tidak besar-besar amat. Mereka menyukai sepakbola namun sepatu untuk memainkan olah raga ini saja mereka tidak punya. Maka jika kini mereka berfoya-foya dan hidup serba nikmat, sah-sah saja.

Biarlah mereka seperti itu. Selain karena itu hak mereka, toh tidak semuanya demikian. Tidak sedikit pemain sepakbola yang menyumbangkan harta mereka kepada orang-orang yang kurang beruntung. Kepada orang-orang yang membutuhkan. Kepada orang-orang yang tidak mereka kenal. Kepada orang-orang yang, barangkali, mengutuk mereka jika bermain buruk. Para pemain sepakbola ini tidak peduli. Mereka hanya ingin memberi.

Para pemain sepakbola baik hati ini melakukan tindakan terpuji dengan banyak cara. Entah dengan memberi bantuan kepada korban bencana, menyumbang ke yayasan amal, menjadi duta organisasi kemanusiaan, atau bermain di pertandingan amal. Steven Naismith, gelandang serang Everton, membantu dengan cara yang lebih dekat. Sepanjang musim ini Naismith menyediakan 76 tiket gratis untuk pertandingan kandang Everton. Sasarannya: para pendukung Everton yang tidak memiliki pekerjaan.

Sepakbola modern dan tingginya nilai jual Premier League membuat sepakbola semakin jauh dengan orang-orang dari kelas pekerja. Bagi yang memiliki pekerjaan saja, tiket pertandingan Premier League tidak murah. Mereka yang bekerja saja tidak selalu mampu menonton pertandingan setiap pekan. Lantas mengapa tiket tidak diberikan kepada mereka? Mengapa orang-orang yang tidak bekerja malah dimanja?

Naismith berpendapat bahwa tidak semua tuna karya mengalami nasib seperti ini karena salah mereka. Memang nasib saja yang belum berpihak.

“Untuk mereka yang mencari pekerjaan, keuangan akan ketat.” Ujar Naismith sebagaimana diwartakan Liverpool Echo.  “Tiket pertandingan sepakbola bisa saja menjadi kemewahan yang tak terjangkau dan ini adalah tindakan kecil untuk membantu mereka yang berada dalam situasi tersebut menikmati pertandingan sepakbola di Goodison Park.”

Naismith memiliki caranya sendiri untuk menjamin tiket tidak jatuh ke tangan yang salah. Ia mendistribusikan ke-76 tiket yang ia sediakan lewat Jobcentre Plus di seluruh Liverpool. Nantinya, tiket tersebut akan diberikan kepada mereka yang sedang mencari namun belum memiliki pekerjaan.

Dengan bayaran sebesar 42.308 pound sterling per pekan, menyediakan empat tiket pertandingan per satu pertandingan kandang bukan perkara sulit bagi Naismith. Untuk memberi sedikit gambaran mengenai harga tiket pertandingan kandang Everton, tiket termurah untuk pertandingan kandang melawan Manchester City adalah 42 pound sterling dan untuk Chelsea adalah 38 pound sterling. Jelas tidak mahal untuk Naismith.

Memberi, toh, bukan perkara punya atau tidak punya. Memberi adalah soal bersedia atau tidak. Faktanya, di Everton saja ada enam pemain yang bayarannya lebih tinggi dari Naismith. Gaji Naismith bahkan tidak sampai separuh gaji Romelu Lukaku, dan patut dicatat Lukaku bukan pemain dengan bayaran termahal di Everton. Hal tersebut tidak mencegah Naismith berbuat baik.

Naismith, anak dari keluarga kelas pekerja dan pernah lima tahun tinggal di Glasgow sebelum berdomisili di Liverpool, paham betul artinya kesulitan finansial. Karenanya ia berusaha memberi sedikit bantuan lewat tiket gratis. Ini bukan yang pertama; musim lalu juga Naismith melakukan hal serupa.

“Saya berasal dari keluarga kelas pekerja dan saya telah menyaksikan kesulitan yang ditimbulkan pengangguran kepada orang-orang, keluarga, dan komunitas mereka,” ujar Naismith sebagaimana dikutip dari Liverpool Echo. “Saya merasa memiliki kewajiban, tugas untuk menolong dengan segenap kemampuan saya.

“Liverpool dan Glasgow adalah dua kota besar di Britania dan dalam banyak hal memiliki kesamaan. Keduanya didirikan dari kekuatan sungai – Clyde dan Mersey. Keduanya adalah kota kelas pekerja, dan, seperti banyak kota besar di seluruh dunia, mereka memiliki masalah sosial dan ekonomi yang sama. Pengangguran adalah salah satunya.”

Bantuan Naismith tidak banyak, namun sangat terasa. Ia tidak memberi barang mewah namun penerima bantuannya, tidak bisa tidak, pasti merasa bahagia.

Komentar