Liga Spanyol Tak Akan Setara dengan Liga Inggris

Cerita

by Frasetya Vady Aditya 46192

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Liga Spanyol Tak Akan Setara dengan Liga Inggris

Awal Juni lalu, legenda Belanda, Marco van Basten, menyatakan bahwa Liga Primer Inggris tidak akan pernah menghasilkan kesebelasan macam Barcelona yang mampu mendominasi Eropa. Meskipun berada dalam kondisi keuangan yang sehat, penuh dengan uang, tapi secara teknik, Inggris masih berada di bawah Liga Spanyol, La Liga.

Pernyataan Van Basten menarik untuk dicermati karena kita tidak tahu "La Liga" mana yang dimaksud oleh Van Basten; apakah itu Barcelona, Real Madrid, ataukah Atletico Madrid?

Bahasa Indonesia mengenal majas sinekdoke? yang berarti majas yang menggunakan kata dengan makna yang menunjukan hal lain di luar kata tersebut. Majas sinekdoke terbagi menjadi dua: (1) pars pro tato yang menunjukkan bagian untuk keseluruhan, serta (2) totem pro parte yang menunjukkan keseluruhan untuk sebagian.

Pernyataan Van Basten mengandung majas pars pro tato dan totem pro parte secara bersamaan. Pertama, dia menyatakan bahwa dengan tidak mendominasi Eropa berarti tidak berada di puncak. Kedua, dia menyatakan bahwa La Liga mendominasi Eropa.

"Ada di puncak" tidak melulu soal mendominasi Eropa dengan gelar juara; ada komponen lain yang tidak bisa disepelekan: finansial. Pun pernyataan bahwa La Liga mendominasi Eropa sebenarnya berbicara hanya tentang Barcelona dan Real Madrid, bukan Levante atau Getafe.

Melihat kondisi yang ada sekarang ini, dengan mengesampingkan prestasi gemilang Barcelona dan Real Madrid di Eropa, La Liga tak akan pernah sekompetitif Liga Inggris. Bahkan, bukan tidak mungkin akan ada penurunan kualitas yang amat timpang antara satu kesebelasan dengan lainnya, yang membuat persaingan di La Liga hanya melulu soal Barcelona dan Real Madrid.

Di luar Spanyol, siapa yang mau menonton pertandingan Elche dan Cordoba?

Ketimpangan tersebut secara nyata terlihat dari tidak meratanya pembagian keuntungan di Liga Spanyol. Komponen terbesar melibatkan kerjasama hak siar yang dikelola berbeda dengan Liga Inggris yang dianggap menguntungkan semua kesebelasan, dan Liga Spanyol yang hanya menguntungkan kesebelasan-kesebelasan besar.

Barcelona bisa mendapatkan 140 juta euro dari hak siar, sedangkan kesebelasan lain macam Almeria hanya mendapatkan 18 juta euro. Perbedaan ini diperparah dengan tidak adanya semangat dari kesebelasan-kesebelasan besar untuk membuat La Liga lebih kompetitif.

Masih Ada Campur Tangan Federasi

Presiden Federasi Sepakbola Spanyol, Angel Maria Villar (Sumber: uefa.com)


Masih belum lekang dari ingatan saat Federasi Sepakbola Spanyol, RFEF, membekukan kompetisi La Liga. RFEF tak puas terhadap peraturan baru Pemerintah Spanyol (Royal Decree) yang mengatur pembagian pendapatan hak sial.

Dalam aturan baru tersebut RFEF merasa tidak dilibatkan. Pun halnya dengan Asosiasi Pesepakbola Spanyol, APE, yang mengeluh karena mendapatkan porsi pendapatan yang kecil.

Pemerintah Spanyol membuat aturan di mana penjualan hak siar mesti dilakukan secara kolektif. Berdasarkan petikan wawancara Sid Lowe di ESPN, 90 persen dari uang hak siar akan dibagikan untuk Divisi Primera dan 10 persen untuk Divisi Segunda. Dari 90 persen tersebut, 50 di antaranya akan didistribusikan secara merata kepada semua kesebelasan, sedangkan 50 persen lainnya didistribusikan berdasarkan sejumlah kriteria seperti hasil selama lima musim terakhir dan dampak sosial yang dihasilkan oleh kesebelasan seperti jumlah keanggotaan klub, penjualan tiket, dan jumlah yang dihasilkan dari televisi.

Berdasarkan aturan tersebut, tidak ada kesebelasan yang mendapatkan 20% lebih dari total nilai hak siar, dan tidak ada yang mendapat lebih sedikit dari 2%. Ini membuat perbandingan pemasukan antar kesebelasan bisa ditekan dari 10-1 menjadi 4.5-1.

Saat pembekuan tersebut, operator Liga Spanyol, LFP memiliki sikap yang bertentangan dengan federasi. LFP lewat pernyataan resmisnya setuju dengan royal decree. Sistem tersebut setidaknya memberikan kesempatan bagi kesebelasan kecil yang tidak diminati oleh perusahaan siaran.

"Tidak ada keraguan bahwa ini akan menghadirkan manfaat besar bagi semua orang yang terlibat dengan sepakbola Spanyol," tulis pernyataan resmi LFP.

Sebenarnya alasan utama mengapa hak siar Liga Spanyol tidak akan setara dengan Liga Inggris yakni pembagian keuntungan untuk federasi dan asosiasi pemain. LFP, sebagai operator dan pihak yang paling mengerti pengelolaan liga, paham bahwa dengan penjualan hak siar secara terpisah, tak akan meningkatkan daya saing kesebelasan lain di liga.

RFEF berpendapat bahwa penjualan hak siar dalam bentuk satu paket akan membuat Liga Spanyol lemah. Dikutip dari CNN, mereka pun tidak senang uang hak siar digunakan untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan sepakbola.

Campur tangan federasi ini yang membedakan Liga Spanyol dengan Liga Inggris. Federasi Inggris, FA, pasti terlibat dengan kerjasama hak siar, merekapun mendapatkan presentase keuntungan. Namun, FA tidak bisa melakukan intervensi karena nadi dari penyelenggaraan kompetisi ada pada Premier League, operator Liga Inggris, yang berisi 20 kesebelasan yang "independen?".

Secara sejarah pun Premier League merupakan bentuk ketidakpuasan kesebelasan besar atas liga yang disusun oleh federasi. Ini yang membuat Premier League memiliki independensi; yang membuat mereka tidak bergantung pada FA.

Karena semua hanya tentang Real Madrid dan Barcelona.

Awal musim lalu, Presiden Barcelona, Josep Maria Bartomeu, menginginkan agar hak siar Liga Spanyol dilakukan secara kolektif. Ia punya semangat agar kompetisi menjadi jauh lebih kompetitif layaknya Liga Inggris. Namun, Bartomeu menyiratkan ketidakinginannya jika uang hak siar tersebut dibagi secara rata. Ia beranggapan Barcelona dan Real Madrid adalah ujung tombak dari penjualan hak siar La Liga, yang membuat porsi Barcelona dan Real Madrid harus lebih besar.

Pada Februari 2015 atau empat bulan sebelum kisruh hak siar, Barcelona dikabarkan telah menjalin kesepakatan dengan perusahaan telekomunikasi, Telefonica. Kerjasama ini sekaligus mengakhiri kerjasama panjang Barcelona dengan Mediapro. Kesepakatan ini dikabarkan hanya berlangsung untuk musim depan, 2015/2016, karena mulai musim 2016/2017, pengadopsian sistem kolektif dalam royal decree di Spanyol mulai diterapkan.

Namun, kerjasama tersebut nyatanya membawa polemik yang lebih panjang. Dalam penawaran paket hak siar internasional untuk musim ini, LFP, tidak menyertakan empat kesebelasan: Barcelona, Celta Vigo, Espanyol, dan Real Sociedad.

Hal ini terbilang mengejutkan karena tanpa Barcelona, nilai jual La Liga akan merosot tajam. Ini terjadi karena LFP telah melakukan kerjasama hak siar dengan Mediapro, sedangkan Barcelona untuk musim depan telah menggandeng Telefonica.

Presiden LFP, Javier Tebas, berharap pihaknya dapat membujuk Barcelona dan tiga kesebelasan lainnya lain tersebut. LFP dikabarkan akan kembali melakukan negosiasi.

Dikutip dari Antara, Real Madrid dan Barcelona belum memublikasikan komitmen mereka terhadap sistem hak siar kolektif. Sejumlah analis memperkirakan mereka hanya akan melakukannya jika mendapatkan tingkat pemasukan yang sama seperti yang mereka dapatkan saat ini.

Dalam pembagian nilai hak siar musim 2013/2014, total Liga Inggris mengeluarkan 1,8 miliar euro dengan kesebelasan paling bawah mendapatkan 75 juta, dan kesebelasan teratas 117 juta. Liga Spanyol mengeluarkan 755 juta euro yang 280 juta di antaranya diperoleh Barcelona dan Real Madrid, sedangkan kesbeelasan terbawah hanya mendapatkan 18 juta euro.

Memang wajar jika Barcelona dan Real Madrid menginginkan porsi yang sama besar walaupun penjualan hak siar dilakukan secara kolektif. Namun, cara tersebut membuat keduanya tak begitu memedulikan nasib kesebelasan lain dan Liga Spanyol itu sendiri dalam jangka panjang. Liga Spanyol lama-lama hanya tentang "El Clasico" dan laga-laga yang dimainkan Barcelona serta Real Madrid. Sisa pertandingan lain menjadi tidak berarti. Penggemar hanya menanti mereka berdua yang membuat sponsor pun berpikir ulang untuk meningkatkan nilai kontrak, karena kesebelasan lain tak lebih sebagai pajangan belaka.

Pihak Ketiga



Kesebelasan Liga Primer Inggris menggantungkan pengeluaran kesebelasan dari pendapatan hak siar yang nilainya lebih dari 60 juta pounds tiap musim. Uang tersebut selain digunakan untuk biaya operasional, juga sebagai modal untuk membeli pemain dan mendidik para pemain di tim muda.

Hal berbeda dilakukan oleh sejumlah kesebelasan di Spanyol. Saat mereka punya skuat yang lengkap, tidak jarang manajemen malah menjual pemain yang dihargai mahal. Contoh paling nyata terlihat pada Atletico Madrid yang sering menjual pemain mahal seperti Fernando Torres senilai 20 juta pounds ke Liverpool, Sergio Aguero senilai 45 juta pounds ke Manchester City, Falcao senilai 60 juta euro ke Monaco, dan Diego Costa senilai 32 juta pounds setara dengan klausul buy-out.

Namun, tidak ada yang berubah signifikan dari Atletico. Ini disinyalir karena para pemain yang mereka jual ada hubungannya dengan kepemilikan pemain oleh pihak ketiga (Third party-ownership/TPO).

Spanyol dan Portugal adalah dua negara yang masih memperbolehkan sistem TPO. Ini jelas bertentangan dengan semangat UEFA yang menginginkan sistem TPO dihapuskan di Eropa. Negara yang jelas menolak sistem TPO adalah Inggris, utamanya setelah kasus Carlos Tevez dan Javier Mascherano yang ditransfer ke West Ham United.

Sistem TPO membuat sebagian (atau sebagian besar) keuntungan dari penjualan pemain tidak sepenuhnya menjadi milik kesebelasan. Klub hanya mendapatkan sebagian (banyak di antaranya sebagian kecil) dari keuntungan penjualan pemain.

Sistem ini dalam jangka panjang akan menyengsarakan kesebelasan kecil. Mereka terpaksa masuk dalam lingkaran TPO karena tidak punya modal untuk membeli pemain yang memiliki kualitas bersaing dengan kesebelasan lain.

Dalam jangka pendek, sistem TPO ini barangkali memang menguntungkan karena dapat membuat kesebelasan lebih kuat. Para pemain memiliki kualitas tinggi tanpa harus dibayar dan digaji mahal oleh kesebelasan.

Sistem ini pula yang membuat selamanya kesebelasan kecil di Spanyol tak akan mampu bersaing dengan kesebelasan kecil di Inggris. Ketergantungan terhadap TPO membuat mereka tak bisa menentukan jalan hidup mereka sendiri.

Bergantung pada TPO membuat kesebelasan kecil akan sulit menyeruak di tengah persaingan dengan kesebelasan besar. Salah satunya karena sistem TPO memungkinkan mereka untuk tak pernah menjadi besar. Ini yang membuat daya tawar mereka bagi siaran internasional lebih rendah karena mereka hidup sekadar hidup.

Bayangkan, kesebelasan semacam Queens Park Rangers saja bisa mengontrak Park Ji-sung yang berarti mereka telah mengunci pemirsa di Korea Selatan. Ini karena QPR memiliki dana yang cukup untuk mengontrak pemain terkenal yang secara jangka panjang mampu memberikan keuntungan bagi kesebelasan seperti penjualan merchandise dan penambahan jumlah penggemar di luar negeri.

Simpulan

Almeria vs Cordoba; bukan Atleti vs Real Betis. Awas tertukar!

Sehebat dan sedigdaya apapun Barcelona serta Real Madrid mereka tidak akan mampu mengangkat nilai Liga Spanyol jauh lebih tinggi. Meski Real Madrid juara Eropa 10 kali, mereka tak akan mampu mengangkat kesebelasan kecil untuk lebih diminati.

Bandingkan dengan terpaan media Inggris yang kadang membuat suatu hal yang tidak penting menjadi menarik; seperti bagaimana pada pertengahan musim ini kita dipaksa menyaksikan West Bromwich Albion hanya karena mereka dilatih oleh Tony Pulis. Siapa Pulis? Ia digadang-gadang sebagai satu-satunya pelatih di Premier League yang masih merawat cara bermain "kick n` rush". Sialnya, Pulis mampu meraih kemenangan demi kemangan dan membawa West Brom lepas dari zona degradasi.

Hal serupa pun dialami oleh Alan Pardew yang pada musim lalu ditampilkan layaknya drama. Ia pindah dari Newcastle setelah mampu mengangkat The Magpies dari zona degradasi ke papan tengah. Alasannya karena ia tak diberi jatah untuk membeli pemain. Pardew pindah ke kesebelasan tempatnya bermain: Crystal Palace. Untuk melengkapi segala drama tersebut Pardew berhasil membawa Palace lolos dari zona degradasi, sedangkan Newcastle hampir saja terdegradasi pada akhir musim.

Yang membedakan dengan Liga Spanyol adalah betapa pedulinya orang-orang untuk sekadar menyaksikan West Bromwich Albion, atau "partai tidak penting" seperti Newcastle menghadapi Palace. Namun, drama yang disajikan oleh media membuat partai Newcastle menghadapi Palace layaknya pertandingan terbesar abad ini yang mempertemukan mantan pemain yang melatih kesebelasan menghadapi mantan kesebelasan yang pernah dilatih.

Cerita-cerita semacam ini tersaji bukannya tanpa alasan. Penggemar, khususnya di Asia, jauh lebih mudah mengakses Liga Inggris yang hadir lebih siang ketimbang Liga Spanyol. Untuk mengakses siaran pun biasanya terbagi ke dalam tiga waktu yang dibagi lagi menjadi tiga saluran televisi. Ini membuat 10 pertandingan tiap pekan, bisa disiarkan dan disaksikan oleh penonton di seluruh dunia. Bagaimana dengan Liga Spanyol? Maukah Anda bangun tengah malam untuk menyaksikan Almeria menghadapi Cordoba?

Nilai dari hak siar bukan sekadar pembagian uang siapa yang dapat lebih banyak dan siapa yang lebih sedikit. Potensialnya pendapatan dari hak siar, membuatnya menjadi ceruk untuk investasi. Bagi klub mereka bisa berinvestasi untuk pemain dan akademi yang dampaknya akan berlanjut kepada persaingan liga yang lebih kompetitif.



Sumber gambar: panoramaaudiovisual.com

Komentar