Drama Korea dalam Isu Transfer di Sepakbola

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Drama Korea dalam Isu Transfer di Sepakbola

Real Madrid resmi mengumumkan Rafael Benitez sebagai pelatih baru mereka untuk musim depan pada Rabu (3/6)  siang WIB. Benitez dikontrak dengan durasi tiga tahun. Benitez masuk menggantikan Carlo Ancelotti yang diputus kontrak karena tak mampu menghadirkan satupun gelar. Namun, selalu ada yang menjanggal soal isu rekrutmen di sepakbola: Mereka seringkali berbohong.

Sehari jelang diumumkan pemutusan kontrak, Ancelotti masih sempat berkata pada wartawan yang memburunya, “sampai ketemu besok,” begitu ucapnya. Nyatanya, bukan Ancelotti yang ditemui wartawan, melainkan Presiden Real Madrid, Florentino Perez, yang mengumumkan pemutusan kontrak Ancelotti. Entah di mana posisi Ancelotti, yang jelas, kala itu ia tak sedang bersuka hati.


">May 22, 2015

Sama halnya dengan apa yang diucapkan Benitez. Akhir April silam, ia menjawab pertanyaan sejumlah wartawan. Ia menyatakan bahwa karirnya kemungkinan besar bisa berkembang dengan mengasuh Napoli. Lalu, apa yang terjadi sebulan kemudian? Ia memutuskan untuk pergi.

Kepada Goal pada akhir Mei lalu, Benitez beralasan bahwa ia mundur karena faktor keluarga. Kabarnya, Benitez kerap pulang-pergi Naples-Liverpool untuk menemui keluarganya. “Keluarga saya menjadi kunci bagi saya dalam membuat keputusan ini,” kata Benitez saat mengadakan konferensi pers bersama Presiden Napoli, Aurelio de Laurentiis.

Sehari berselang, masih dikutip dari Goal, Wakil Presiden Real Madrid, Eduardo Fernandez de Blas, menyatakan secara tersirat bahwa Benitez telah mencapai kesepakatan dengan Los Blancos.

“Ancelotti adalah sosok fenomenal, pria sejati yang selalu saya kagumi dan semua orang di Madrid. Dia adalah pelatih terbaik di dunia sampai akhirnya dipecat beberapa hari yang lalu, sama seperti Jose Mourinho dua tahun lalu, dan kini status tersebut akan ada pada Rafa Benitez,” kata Eduardo.

Meski mengaku ingin dekat dengan keluarga, yang menimbulkan persepsi bahwa ia akan menggantikan Brendan Rodgers di Liverpool, atau mungkin menggantikan Roberto Martinez di Everton. Namun, kenyataanya tak demikian.

Usai makan malam dengan Presiden Napoli, Benitez segera menuju bandara. Seperti yang dilansir Tribun News, Rupanya, sudah ada perwakilan dari Real Madrid yang mengirimkan pesawat pribadi untuk menjemput pelatih berusia 55 tahun tersebut. Benar, tujuan Benitez bukanlah Liverpool, melainkan Madrid. Ia bahkan sempat berkomentar seperti ini, “Saya siap dan saya sudah tidak sabar untuk berada di sana.”

Kabarnya, Florentino Perez sudah merayu Benitez sejak ia menukangi Liverpool!

Baca juga: Cara mengetahui kebohongan media terkait rumor transfer

Komunikasi Konteks Tinggi

Apa yang dilakukan Benitez dengan segala kebohongannya tersebut, nyatanya bisa diaplikasikan pada sejumlah pesepakbola jelang akhir musim. Mereka yang bersinar sudah pasti menjadi buruan; bukan cuma kesebelasan tapi juga wartawan. Mereka menjadi target utama untuk dipaksa bicara, mengonfirmasi sebuah isu agar menjadi fakta.

Pakar Komunikasi, Edward T. Hall, membagi dua tingkat budaya komunikasi: komunikasi konteks tinggi dan komunikasi konteks rendah. Komunikasi konteks rendah dicirikan lewat pesan verbal yang eksplisit langsung pada tujuan; sedangkan komunikasi konteks tinggi sebaliknya.

Komunikasi tingkat tinggi biasanya dimiliki oleh orang timur karena sesuai dengan adat ketimuran. Biasanya, mereka tidak pernah menyatakan satu hal secara langsung, tapi berputar-putar. Tujuannya macam-macam, salah satunya untuk tidak menyinggung perasaan orang tersebut.

Sementara itu, komunikasi konteks rendah menjadi ciri masyarakat “barat” di mana mereka akan menyatakan yang sebenarnya. Jika mereka mau, tingga bilang “yes”, kalau tidak ya, “no”. Akan tetapi, teori macam ini agaknya sudah mulai pudar. Di mana masyrakat “barat” pun agaknya terpengaruh dengan adat ketimuran yang enggan menyinggung orang.


Ilustrasi komunikasi konteks rendah (kiri) dan konteks tinggi (kanan).

Apa yang terjadi pada Benitez mencirikan betapa komunikasi konteks tinggi ia usung dalam wawancara jelang keberangkatannya ke Madrid. Ia bicara di hadapan wartawan tidak atas kebebasan dirinya sendiri, melainkan didampingi oleh Presiden Napoli.

Benitez agaknya enggan untuk memberikan pernyataan kalau alasannya pindah ke Real Madrid adalah karena probabilitas kemenangan yang jauh lebih besar ketimbang Napoli. Di Madrid, Benitez pun (seharusnya) digaji lebih tinggi dan mendapat fasilitas yang jauh lebih lengkap. Siapa yang tak ingin melatih kesebelasan sebesar Real Madrid?

Hubungan Benitez dengan Presiden Aurelio sempat merenggang pada September tahun lalu. Aurelio bahkan sempat mengancam memecat Benitez karena prestasi yang buruk. Namun, Benitez bisa menjaga hubungan dan membawa Napoli kini berada di zona Eropa.

Dengan menyatakan alasan yang sebenarnya kepada wartawan, tentu itu akan menyinggung Aurelio. Maka, Benitez pun berputar-putar mencari jawaban terbaik dari segala jawaban: faktor keluarga.

Agaknya, Napoli pun mafhum dengan apa yang diinginkan Benitez. Ini yang membuat Aurelio balik menyanjung Benitez dan memberikan apresiasi bagi dirinya.

Pakar komunikasi, Prof. Deddy Mulyana, dalam Ilmu Komunikasi, menyatakan bahwa salah satu tujuan penggunaan komunikasi dengan tingkat tinggi adalah untuk menjaga harmoni. Ini dianggap penting untuk menjaga hubungan agar tidak terjadi keretakan dalam sebuah organisasi maupun institusi sosial.


Sila cek di mana Spanyol berada. (Sumber gambar: globalandco)

Apa yang dilakukan sejumlah pemain pun agaknya dilakukan untuk menjaga hubungan baik dengan kesebelasan dan penggemar; termasuk untuk menghormati kontrak kerja dan proses kepindahannya. Dalam praktiknya, seringkali kesebelasan meminta pemain untuk sengaja tidak menggembar-gemborkan kepindahannya. Ini sekaligus dilakukan untuk menjaga nilai transfer pemain agar tidak bergejolak.

Tanpa kebohongan dan segala komunikasi konteks tinggi, agaknya isu-isu transfer tak lagi menjadi menarik. Tidak ada lagi diskusi di warung kopi, maupun diskusi antar redaktur olahraga soal siapa yang menggantikan siapa, dan bagaimana kemungkinan jika si A bermain di klub B.

Ini yang membuat isu transfer setiap musimnya selalu menghadirkan berita yang menarik; mulai dari berita yang benar-benar menggemparkan, hingga cerita-cerita humanis yang mengiringi setiap isu transfer.

Jika diperhatikan, kisah-kisah transfer tersebut tak ubahnya seperti drama Korea yang bertutur dengan syahdu, kadang meledak-ledak (terutama di tiap episode 12, dan dua episode jelang tamat), dan penuh emosi yang menggelora. Buat penggemar Barcelona, siapa yang tak tahan melihat Luis Figo bermain di Camp Nou tapi berbaju Real Madrid? Pun dengan Zlatan Ibrahimovic yang menyebrang dari Juventus ke Inter Milan.

Lalu, ada pula romantisme yang tersaji dalam kepulangan Cesc Fabregas dari Arsenal ke Barcelona. Tidak sedikit pula penggemar yang bercucuran air mata saat mengetahui Xavi Hernandez pergi dari Barcelona; tidak sedikit pula penggemar yang sedih bukan kepalang menyaksikan pertandingan terakhir Steven Gerrard di Anfield.

Drama dalam tiap transfer bergulir, selalu disisipi oleh kebohongan lewat komunikasi tingkat tinggi dan semacamnya. Eh, bukankah setiap orang selalu menikmati saat dibohongi? Terutama soal perasaan ya.

Sumber gambar: claretandhugh.info

Komentar