Pasang Surut Perjalanan Antonio Reyes

Cerita

by Randy Prasatya

Randy Prasatya

Everything you can imagine is real.

Pasang Surut Perjalanan Antonio Reyes

Jose Antonio Reyes lahir di Utrera, sebuah kota yang terletak di provinsi Andalusia, Seville. Bakatnya sudah terlihat sejak usia dini saat bermain untuk Sevilla pada usia 10 tahun. Reyes benar-bener menonjol di usianya itu, banyak yang percaya dia akan menjadi masa depan Sevilla.

Reyes akhirnya disodorkan kontrak profesional oleh Sevilla saat usia 16 tahun. Ia pun terlihat seperti akan menuai kesuksesan. Bahkan ia seperti ditakdirkan untuk dicatat dalam buku-buku sejarah Sevilla.

Setelah Sevilla promosi ke La Liga tahun 2001, Reyes memainkan peran yang jauh lebih menonjol lagi. Ia mencatatkan 92 kali penampilan dan mencetak 24 gol selama tiga musim. Kesebelasan-kesebelasan pun banyak yang mengincar tanda tangan Reyes yang ketika itu baru berusia 20 tahun.

Usaha  Joaquín Caparrós yang ingin lebih banyak mengandalkan jasanya pun harus kandas, sebab Reyes memilih untuk menandatangani kontrak dengan Arsenal di musim 2003/2004 saat jendela transfer Januari. Biaya transfer sebesar £10.500.000 berhasil disepakati dan akan bertambah menjadi  £17.000.000, apabila Arsenal menuai sukses bersama Arsenal.

Reyes memulai karir sepakbolanya di Inggris seperti yoyo. Ia membuat awal yang menghebohkan di pertandingan keduanya berseragam Arsenal. Reyes mencetak gol bunuh diri ketika Arsenal berhadapan dengan Middlesbrough di Piala Liga, sekaligus menjadi gol perdana Reyes bersama Arsenal. Namun gol bunuh diri itu membuka jalannya untuk menorehkan beberapa gol penting sepanjang sisa musim perdanannya di Arsenal, termasuk dua gol melawan Chelsea yang memaksa the blues keluar dari Piala FA. Selain menyingkirkan Chelsea, gol-gol Reyes di dua pertandingan terakhir musim 2003/2004 juga membantu mempertahankan rekor tak terkalahkan Arsenal di Liga Premier.

Di pra musim 2004/2005 bersama Arsenal, Reyes menunjukan tanda-tanda kemajuannya. Tapi sayang, kegemilangannya pra musim tidak berjalan baik ketika menjalani pertandingan di Premier League. Ia bahkan tidak konsisten. Itu terlihat ketika ia hanya mencetak gol di enam pertandingan pertama Arsenal, kemudian berlanjut dengan mencetak tiga gol selama sisa musim 2004/2005. Alhasil ia hanya mampu mencetak sembilan gol dari 30 penampilannya di liga.

Pada awal musim 2005/2006, inkonsistensi Reyes bersama Arsenal pun mulai jadi santapan media. Reyes mulai dikabarkan ingin kembali ke kampung halamannya. Kabar tersebut membuat sebagian orang yang terlibat di Arsenal terkejut. Termasuk keluarga yang menemaninya selama hidup di Inggris, seperti Mari dan Francisco, kedua orang tuanya, hingga saudara kandungnya, Jesus.

Selain kerinduannya dengan kampung halaman, Reyes juga mengalami hubungan yang sulit dengan media yang terus mengeksploitasi isu soal kembalinya ke Spanyol. Stasiun radio Spanyol, Cadena COPE, mengirim orang untuk mengaku sebagai Emilio Butragueno, Direktur Real Madrid. Orang kiriman dari stasiun radio Cadena COPE tersebut membuat percakapan mengenai transfernya ke Real Madrid. Selain percakapan mengenai Real Madrid, Reyes juga mengungkapkan bahwa kehidupan di London jauh dari apa yang bayangkan dan ia sangat ingin kembali ke Spanyol.

Akibat pernyataan Reyes yang telah tersebar luas itu pula Arsenal menggunakan tenaga Reyes seperlunya. Meskipun ia memiliki porsi bermain yang tinggi di Piala Liga, tapi itu tak berarti karena harus diusir pada partai final Piala FA 2005-2006 saat melawan Manchester United. Hal ini pula yang menjadi batu kerikil terakhir Reyes selama di Arsenal.

Pada Agustus 2006 ia mengungkapkan keinginannya untuk tidak didaftarkan di kualifikasi Liga Champions saat melawan Dinamo Zagreb. Hal itu untuk memudahkan kepindahannya ke Real Madrid dan memberinya kesempatan untuk tampil di Liga Champions bersama El Real karena namanya belum pernah didaftarkan untuk Liga Champions musim itu.

Batas waktu transfer pun semakin mendesak. Reyes seperti akan kehabisan waktu untuk kembali ke negara asalnya. Sadar waktu sudah tak lama lagi, Real Madrid pun turut berusaha mati-matian mewujudkan angan-angan Reyes untuk kembali ke Spanyol. El Real pun menyodorkan Julio Baptista untuk menggoyang kekerasan hati Wenger. Dan Wenger akhirnya menyerah. Reyes pun diberi jalan untuk pulang ke Spanyol bersama Real Madrid dengan opsi tukar pinjam pemain antara Reyes dan Baptista.

Sekembalinya ke Spanyol, Reyes seperti menemukan kembali bentuk permainannya. Ia mencatatkan 30 penampilan di La Liga, tapi sekali lagi ia gagal untuk menunjukan permainan yang konsisten. Momen paling penting saat berseragam Real Madrid ketika ia mencetak gol pertamanya melalui tendangan bebas saat melawan Real Sociedad untuk menutup kemenangan 2-0.

Momen lainnya pun datang saat ia memulai dari bangku cadangan di pertandingan terakhir musim 2006/2007 setelah masuk menggantikan David Beckham dengan posisi Real Madrid tertinggal 0-1. Ia akhirnya mencetak gol penyeimbang dan gol penutup untuk kemenangan 3-1 Real Madrid saat mengalahkan RCD Mallorca. Berkat kemenangan itu pun Real Madrid keluar sebagai juara La Liga.

Ya, Bukan Ruud van Nistelrooy, Raul Gonzalez, atau David Beckham yang menjadi pahlawan Real Madrid dalam mengamankan titel Liga Spanyol pada partai pamungkas itu, tapi justru Jose Antonio Reyes.

?????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????
Sumber gambar realmadridbalkan.org

Reyes pun berpikir jika ia telah melakukan hal yang cukup untuk mengamankan statusnya menjadi permanen di Real Madrid. Penawaran Atletico Madrid membuatnya harus menunggu pilihan dari keputusan Arsenal. Pada 30 Juli 2007, staf Arsenal berangkat menuju Atletico Madrid untuk menyepakati nilai transfer yang diperkirakan sekitar € 12 juta.

Musim pertamanya dengan Atletico Madrid ternyata banyak menuai bencana . Sebab Javier Aguirre, pelatih Atletico Madrid saat itu, lebih sering menurunkan Maxi Rodriguez ketimbang Reyes. Alhasil, pemain yang kerap bermain di sisi lapangan itu dipaksa untuk lebih sering menusuk ke jantung pertahanan lawan. Solusi taktikal untuk memberi menit bermain itu sayangnya gagal juga mendongkrak penampilannya. Ia hanya mencetak satu gol dari 26 penampilannya di La Liga.

Sadar akan nasib Reyes yang terancam, kubu Atletico akhirnya meminjamkan Reyes ke Benfica guna menjaga rasa percaya dirinya. Namun Benfica tidak hanya sekadar meminjam, mereka membeli 25% hak kepemilikan Reyes dengan kocek  € 2.650.000, dan mengajukan opsi untuk membeli 75%. Di Benfica pun akhirnya Reyes benar-benar mampu menjaga kepercayaan dirinya bermain. Ia mampu menjalankan pemahaman taktik yang baik dengan Pablo Aimar, yang kemudian mengangkat penampilannya secara drastis.

Berkat penampilannya yang apik di Benfica, Reyes akhirnya kembali ke Atletico Madrid dan bergabung dengan pelatihnya saat di Benfica, Quique Flores, yang mengambil alih posisi Abel Rossino. Bersama Flores di Atletico Madrid, Reyes terbukti jauh lebih berhasil ketimbang dulu. Ia sukses merebut posis Maxi Rodríguez di sayap kanan. Reyes juga sukses menjadi penyuplai yang baik untuk Diego Forlan dan memainkan peran penting membawa Atletico Madrid menjuarai Europa League tahun 2010.

Saat itu pun permainan Reyes terus tampil cemerlang dan menjadi pemain yang sangat penting di Atletico Madrid. Dan hingga tiba waktunya di musim 2011-12 dengan perginya Quique Flores, Reyes kembali tampil tidak konsisten.

Kedatangan Gregorio Manzano menggantikan Flores sebagai pelatih, membuat Reyes kesulitan beradaptasi dengan taktik baru. Puncaknya pun terjadi saat ia diganti ketika Atletico Madrid tertinggal 0-3 dari Athletic Bilbao. Hingga akhirnya Reyes mulai menghadapi situasi yang sudah sering ia hadapi: menit bermain yang sedikit.

Baca juga: Memahami Rumah

Berkat minimnya menit bermain yang diberikan Manzano, Reyes pun hengkang di bulan Januari 2012. Ia kembali pulang ke kesebelasan masa kecilnya dengan menandatangani kontrak lima tahun bersama Sevilla. Kabarnya Reyes menjadi pemain yang amat pendiam di dalam skuat Unai Emery. Tapi selama di Sevilla kali ini Reyes mampu memberikan banyak pengalaman kepada pemain muda. Reyes juga kerap disebut-sebut sebagai figur penting  Unai Emery atas pencapaian Sevilla meraih gelar Europa League musim 2013-2014.

Bahkan di Europa League musim ini pun Reyes masih menjadi andalan Unai Emery dengan torehan penampilan 10 kali sebagi starter. Pengalamannya berkancah di Eropa mampu menjadi katalisator penting bagi Sevilla. Bahkan di partai final saat menghadapi Dnipro, Reyes membuat satu umpan manis untuk gol kedua Sevilla yang dicetak Carlos Bacca.

Meski semua perjuangannya di level klub banyak menuai pasang surut, Reyes sejatinya punya karir internasional yang tidak buruk-buruk amat, walau memang tidak bisa dibilang cemerlang. Dia adalah bagian dari skuat Spanyol tang mampu menbawa pulang trofi Piala Eropa U-19 tahun 2002, bersama Andres Iniesta dan Fernando Torres. Reyes juga membuat 21 penampilan di skuat senior Spanyol dengan torehan empat gol.

Seperti itulah perjalanan karir Jose Antonio Reyes. Ia seperti ditakdirkan sebagai pemain kelas dua yang selalu tampil mematikan saat kesebelasannya sedang sungguh-sungguh membutuhkannya.

Tapi sejauh apapun Reyes melanglang buana, Sevilla ternyata adalah rumah yang sejati baginya: tempat terbaik dan ternyaman untuk terus membuat cerita indah di penghujung karirnya nanti.

Baca juga: Kisah Perjalanan Pahlawan Sevilla, Carlos Bacca 

Komentar