Attack! Attack! Attack!

Cerita

by Pangeran Siahaan

Pangeran Siahaan

When i die and they lay me to rest, I`m gonna go on a piss with Georgie Best

Attack! Attack! Attack!

Bayangkan jika Anda seorang pelatih yang sedang menghadapi lima menit terakhir sebuah pertandingan. Kesebelasan anda mendominasi penguasaan bola sejak menit pertama, namun skor masih 0-0.

Penyerang andalan pun anda umpat karena gagal menyontek umpan silang matang ke dalam gawang di menit 23. Nasib pun dikutuk karena sundulan bek tengah anda yang maju ke kotak penalti untuk menyongsong sepak pojok menghantam mistar gawang di menit 54. Wasit pun tak luput dari makian karena lima menit sesudah kesialan tadi, anda tak mendapatkan penalti meski jelas-jelas pemain anda ditarik di dalam kotak.

Dengan berbagai rentetan ketidakmujuran itu, anda mulai merasa hari ini sebagai hari sial. Hal-hal tak rasional sebenarnya lazim terjadi di sepakbola. Meski anda sesungguhnya, atau biasanya, jauh lebih logis, kali ini anda sempat tergoda bujuk rayu fatalisme: “Mungkin nasib telah menentukan hari ini tak akan berakhir dengan kemenangan.”

Ketika anda mulai bisa menerima gagasan bahwa laga akan berakhir seri, saat itulah anda mulai menyadari bahwa lawan sebenarnya juga sudah puas bermain imbang. Setelah didominasi sejak babak pertama dengan penguasaan bola di bawah 40 %, lawan merasa bahwa tidak kalah adalah hasil yang baik. Lawan anda tahu bahwa mereka bukan kesebelasan terbaik pada pertandingan ini. Pemain mereka inferior, kalah kualitas. Demikian juga dengan pelatihnya yang juga inferior. Mereka tahu kesebelasan anda sebenarnya bukanlah tandingan mereka, tapi selama skor masih 0-0, anggapan bahwa kesebelasan anda lebih baik hanya klaim kosong tanpa bukti. Selama skor masih 0-0, lawan berhak untuk mendongakkan dagu dan mendaku dirinya sama hebat dengan anda.

Mudah ditebak, gagasan macam itu membuat anda terusik. Bagaimana bisa kesebelasan yang anda tahu benar tak berkualitas bisa mendapatkan poin dari anda? Anda kesal dan melampiaskan emosi dengan melempar botol air minum ke tanah. Brak! Orang-orang melihat anda. Kamera televisi menayangkan botol yang anda banting sedang melayang dan kemudian memantul lagi ke udara dalam gerak lambat yang menakjubkan.

Yang membuat anda lebih kesal adalah karena lawan memutuskan memarkir bis di sisa waktu yang tinggal sedikit untuk mengamankan angka. Mereka menumpuk hingga sembilan pemain dalam dua lapis di depan kotak penalti. Setiap bola memasuki pertahanan langsung mereka halau tanpa kompromi. Mereka bahkan tak tertarik untuk sekali saja melakukan serangan balik yang serius. Bagi mereka status quo sudah sangat menyenangkan. Satu angka sudah cukup untuk memuaskan mental medioker mereka.

Tapi anda bukan mereka. Anda tidak medioker. Anda tidak suka status quo. Kenapa harus puas dengan satu angka ketika masih ada kesempatan untuk meraih tiga? Kenapa harus menyerah pada nasib ketika apa yang mereka bilang sebagai nasib sebenarnya hanya seberapa gigih kita mendobrak paksa pintu yang digembok?

Ya, saat anda memang sedang melihat gerbang yang digembok, juga jalan yang terlihat buntu, cul de sac. Tapi menyadari bahwa anda orang yang tak sudi mengamini mediokritas, saat itulah anda kembali bersikeras mencari jalan keluar.

Tiba-tiba anda ingat seseorang pernah berkata, walau lupa di mana dan kapan mendengar atau membacanya, bahwa jalan yang sama sekali tak menyodorkan hambatan boleh jadi tak akan pernah membawa anda ke mana pun. Saat pertandingan mendekati injury time, dan skor masih 0-0, anda menyadari bahwa di balik jalan buntu boleh jadi ada hal menarik dan menjanjikan, yang mungkin menyenangkan mungkin juga tidak.  Dan untuk tahu hal itu, anda pertama-tama tentu harus membongkar gembok dan kebuntuan itu.

Sebagai pelatih, anda tahu betul bahwa sepakbola ialah pematah hati berantai dengan kegetiran tak terkira. Tapi anda tidak peduli. Jika sepakbola adalah candu, anda tak akan pernah mau pergi ke rehab. Dan salah satu bentuk candu dalam sepakbola adalah harapan bahwa di babak kedua nanti, atau pada detik berikutnya, atau menit berikutnya, atau menit berikutnya lagi, atau menit berikutnya di injury time… sesuatu akan tercipta, sesuatu yang menyenangkan akan terjadi: gol yang datang agak sedikit terlambat.

Bagi suporter yang sedang jemu melihat kesebelasan kesayangannya menemui kebuntuan, harapan kadang mulai membuncah saat melihat seorang pemain cadangan melakukan pemanasan di tepi lapangan. Itulah salah satu momen ketika benih-benih harapan mulai merekah. Proses merekahnya harapan akan berlangsung secara bertahap dan mendapat pemenuhannya ketika sang pemain cadangan berdiri di pinggir lapangan, menunggu wasit mengizinkannya masuk, dan akhirnya melangkah di atas rumput yang hijaunya terasa dan terlihat lebih bersinar.

Ya, pergantian pemain. Ini yang harus anda lakukan.

Waktu semakin tipis. Lawan bertahan total. Anda ingin gol. Anda ingin kemenangan. Siapa yang harus anda masukkan?

Hanya ada satu jawaban logis: masukkan penyerang baru.

Belum tentu ia akan mencetak gol, tapi anda tahu bahwa menyerang jadi keharusan bagi yang tak sudi bersekutu dengan mediokritas. Harus agresif. Terus agresif. Semakin agresif. Anda tahu bahwa besok bisa jadi anda akan menyerah, tapi tidak hari ini.

Fortis fortuna adiuvat - Terence

Komentar