Juventus Sebagai Tokoh Utama Sepakbola Italia

Cerita

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Football Analyst | Promising Sports Brand Strategist | Liverpool #YNWA

Juventus Sebagai Tokoh Utama Sepakbola Italia

Juventus akhirnya berhasil menahan imbang Real Madrid pada pertandingan leg kedua semifinal Liga Champions. Gol yang dicetak oleh mantan pemain Real Madrid, Alvaro Morata, berhasil membuat kedudukan imbang 1-1 yang bertahan hingga akhir pertandingan. Hasil ini sudah cukup untuk membawa Juventus meraih tiket final setelah pada pertandingan pertama mereka berhasil unggul 2-1 di Juventus Stadium.

Dengan ini, Juventus berhasil mengakhiri penantian 12 tahunnya untuk kembali lolos ke babak final Liga Champions setelah terakhir kali mereka berhasil mencapai babak ini adalah pada 2003. Juventus juga membuat Italia akhirnya mengirimkan wakilnya kembali di final Liga Champions setelah terakhir kali terjadi pada tahun 2010 lalu ketika Inter Milan berhasil menjadi juara.

Klub-klub asal Italia memang mengalami kemunduran prestasi setelah dilanda kasus Calciopoli pada 2006. Berbagai masalah mulai melanda Serie A Italia yang membuat prestasi klub-klub Italia pun meredup di kompetisi Eropa. Serie A Italia bahkan harus digeser oleh Bundesliga Jerman dan La Liga Spanyol dalam peringkat kompetisi UEFA. Hal ini membuat Italia hanya memiliki dua klub yang mendapat tiket otomatis ke Liga Champions ditambah satu tim yang harus melalui babak kualifikasi.

Padahal, seperti yang kita ketahui, pada era 80-an dan 90-an, Serie A merupakan liga yang menjadi pusat perhatian dunia. Banyak pemain-pemain besar dunia yang memilih untuk berkarir di sini. Dari mulai Michel Platini, Diego Armando Maradona, Ronaldo, hingga Zinedine Zidane.

Kejayaan Liga Italia masih terus berlangsung hingga memasuki awal 2000-an, di mana ketika itu laporan Delloitte soal klub-klub sepakbola dengan pemasukan terbesar, memasukan lima klub Italia dalam 10 besar klub dengan pemasukan paling besar. Puncaknya, pada tahun 2003, Liga Italia benar-benar berhasil merajai Eropa setelah berhasil menciptakan mengirimkan dua wakilnya pada partai final Liga Champions 2003, AC Milan dan Juventus.

Namun tiga tahun berselang setelah partai all Italian Final tersebut, Liga Italia mulai mengalami masa-masa keterpurukan. Kasus pengaturan skor membuat popularitas Liga Italia menurun drastis. Di dalam negeri, rasisme serta kekerasan di stadion pun membuat stadion-stadion Liga Italia sepi penonton. Kondisi ini membuat Liga Italia menjadi semakin terpuruk, hingga satu per satu bintang dunia yang bermain di Liga Italia memilih untuk pindah ke Liga lain di Eropa.

Klub yang menjadi tokoh utama rangkaian kasus yang terjadi di Liga Italia adalah Juventus. Pada kasus Calciopoli yang terjadi pada tahun 2006, Juventus menjadi klub yang menerima hukuman paling berat dengan harus terlempar ke Serie B dan dianulirnya dua gelar scudetto Serie A.

Akibat kasus ini, nama Juventus pun menjadi buruk karena dicap sebagai klub yang menjadi tokoh utama kasus pengaturan skor. Beberapa pemain  bintang Juventus pun langsung memilih untuk pindah mencari klub lain agar tetap bisa bermain di kompetisi level tertinggi. Meski ada juga beberapa pemain bintang  tetap setia membela Si Nyonya Tua meski harus bermain di kompetisi level kedua.

Namun kini, Liga Italia Serie A mulai kembali menggeliat. Meski belum sehebat pada masa jayanya pada era 80-an dan 90an, tapi kondisi saat ini sudah lebih baik ketimbang beberapa tahun lalu.

Dan lagi-lagi, tokoh utama kebangkitan Italia kali ini pun kembali jatuh kepada klub yang menjadi kambing hitam kasus sembilan tahun yang lalu, Juventus. Juventus berhasil mengangkat nama baik Liga Italia dengan peningkatan prestasi yang diraihnya. Mereka berhasil menyingkirkan Real Madrid pada babak semifinal dan meraih tiket Liga Final Liga Champions 2015.

Tidak hanya itu, Juventus juga bisa dikatakan menjadi klub yang menjadi model bagi klub-klub Italia lainnya. Pada 2011, Juventus berhasil menyelesaikan pembangungan stadion milik sendiri yang membuat mereka menjadi klub Italia pertama yang memiliki stadion milik sendiri. Selain Juventus, klub-klub Italia memang masih menggunakan stadion milik pemerintah Italia.

Meskipun stadion baru Juventus, Juventus Stadium, berukuran lebih kecil dari stadion lama mereka, Delle Alpi Stadium, namun Juventus justru menerima pemasukan hasil pertandingan lebih besar. Dikabarkan peningkatan pemasukan yang diterima Juventus dengan menyelenggarakan pertandingan di stadion milik sendiri mencapai 183%.

Hal ini membuat kondisi keuangan Juventus kembali membaik. Mereka kembali berhasil masuk ke dalam jajaran 10 besar klub dengan pemasukan terbesar di dunia. Pemain-pemain besar dunia pun mulai berdatangan untuk membela si nyonya tua. Carloz Tevez didatangkan dari Manchester City dan Alvaro Morata dari Real Madrid. Dua pemain ini kemudian menjadi bomber andalan Juventus. Ditambah lagi, Juventus pun hingga kini mampu mempertahan bintang muda asal Perancis yang menjadi incaran banyak klub raksasa dunia, Paul Pogba.

Hasilnya, prestasi Juventus juga sedikit demi sedikit kembali membaik. Setelah tahun lalu mereka berhasil sampai di perempat final Liga Champions, kini mereka berhasil sampai ke partai puncak. Juventus kembali membuktikan statusnya sebagai klub nomor satu di Italia. Dari segi tata kelola klub dan prestasi, Juventus kembali memimpin klub-klub Italia. Krisis yang terjadi pada tahun 2006 lalu tidak membuat mereka terpuruk dan kini berhasil bangkit untuk kembali menjadi yang terbaik di Italia.

Baca juga cerita soal sepakbola Italia yang memang tidak pernah jauh dari krisi sebelum menuju kebangkitan disini

Komentar