Top Skor yang Tak Bermain dan Red Bull "Sang Penyelamat" Leeds

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Top Skor yang Tak Bermain dan Red Bull "Sang Penyelamat" Leeds

Sudah jatuh, tertimpa tangga, itulah Leeds United. Leeds adalah kesebelasan yang sekarang (masih) terkait banyak utang, sampai-sampai istilah "doing a Leeds" memiliki entri tersendiri di Wikipedia Bahasa Inggris.

Manajer atau "head coach" mereka saat ini, Neil Redfearn, membawa Leeds semakin berada di zona-tanda-tanya dengan tidak kunjung memainkan pencetak gol terbanyak mereka, Mirco Antenucci.

Memiliki seorang pencetak gol yang subur dalam sebuah kesebelasan tentunya menjadi berkah bagi para manajer dan suporter, tapi tidak demikian dengan manajemen Leeds. Kenapa ia tidak kunjung bermain kembali? Apakah ia cedera? Apakah ia terkena hukuman larangan bertanding?

Jawabannya ternyata lebih tidak masuk akal lagi: Antenucci yang sudah mencetak 10 gol, hanya ketinggalan dua gol lagi untuk mendapatkan perpanjangan kontrak. Lho? Terus, kenapa?

The Sun mengklaim bahwa Antenucci yang didatangkan dari Ternana Calcio awal musim ini (2014-2015) secara otomatis akan diberikan perpanjangan kontrak sebanyak 12 bulan di Elland Road.

Dalam setiap kesepakatan transfer, memang ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Bagi Antenucci yang sudah berusia 30 tahun, perjanjian kontraknya dengan Leeds kurang lebih berbunyi seperti ini: "Anda akan mendapat perpanjangan kontrak 12 bulan jika Anda berhasil mencetak minimal 12 gol musim ini".

Gol striker asal Italia ini dua pekan lalu melawan Blackpool ternyata menariknya lebih dekat ke ambang pintu perpanjangan kontrak, yang seharusnya menjadi angin segar untuk Antenucci maupun Leeds.

Namun nyatanya dewan direksi tampak mulai berkeringat. Hal ini terjadi lantaran mereka (mungkin) tidak memiliki uang untuk menggaji Antenucci musim depan.

Asisten manajer Steve Thompson secara terbuka mempertanyakan manajemen Leeds yang tidak memainkan Antenucci. Tapi hal konyol lainnya malah terjadi: Thompson diberi "cuti paksa" oleh manajemen Leeds.

"Saya harus berpikir sangat keras. Ini tidak baik. Anda mencoba untuk menempatkan sesuatu bersama-sama dengan keyakinan bahwa Anda mendapatkan dukungan [dari asisten]. Steve malah dihukum. Untuk alasan apa, saya tidak tahu persis. Saya tidak mengerti," kata Redfearn penuh kebingungan setelah kehilangan asistennya (untuk sementara waktu, semoga).

Mirco Antenucci Mirco Antenucci


Sementara Antenucci yang bernomor punggung 34 tampak sama jengkelnya dengan saga yang sedang berlangsung: "Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi. Ini seperti tidak nyata. Saya selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kesebelasan."

"Pekerjaan utama saya adalah mencetak gol. Saya sedang berada di situasi yang membingungkan," tambahnya pada akun Twitter resminya, https://twitter.com/anteseven">@anteseven.

Sampai saat ini, manajemen Leeds masih tidak berkomentar apa-apa. Dengan hanya 5 pertandingan sisa menuju akhir musim Football League Championship, Leeds sedang berada pada peringkat ke-14 dengan 52 poin, hanya sembilan poin di atas zona degradasi.

Red Bull berencana membeli Leeds United

Bungkamnya manajemen Leeds ini seolah menjadi sikap yang tepat, karena mereka mendapat angin segar dari isu berikutnya. Belum selesai satu sorotan, sorotan lainnya malah muncul untuk Leeds.

Karena sejak bangkrut Leeds belum pernah merasakan keuangan yang sehat, mereka sedang terus mencari investor yang potensial. Terbaru, kabarnya Leeds sedang didekati oleh perusahaan minuman olahraga, Red Bull.

Menurut beberapa sumber, Red Bull sedang di ambang membeli kesebelasan bersejarah yang penuh masalah tersebut.

Ini masih lah Red Bull yang sama dengan yang memproduksi minuman gula dengan kafein, memiliki tim Formula 1, memiliki kesebelasan di Jerman, Austria, dan MLS di Amerika Serikat.

Jadi apa yang Red Bull akan lakukan jika mereka membeli kesebelasan seperti Leeds? Perusahaan dengan logo dua banteng ini telah melakukan rebranding kepada setiap kesebelasan yang mereka beli.

Hal mendasar bagi rebranding ini terletak pada penamaan dengan template "Red Bull [masukkan nama kota di sini]". Alih-alih pemasaran yang aneh pada sepakbola, ini adalah pemasaran yang jitu.

Jadi kita akan melihat nama Red Bull Leeds? Bisa jadi, dengan asumsi asosiasi sepakbola Inggris (FA) mengizinkannya. Melihat kasus Hull City yang ditolak berubah namanya menjadi Hull Tigers atau Hull City Tigers, upaya Red Bull bisa saja mendapat penolakan serupa, dari FA maupun tentunya dari suporter Leeds.

Selain itu, pemblokiran perubahan nama juga terjadi di UEFA yang tidak mengizinkan nama perusahaan dicantumkan pada sebuah kesebelasan yang berlaga di kompetisi Eropa. Misalnya saja, Red Bull Salzburg lebih dikenal sebagai FC Salzburg di kompetisi Eropa.

Dengan asumsi FA tidak memungkinkan perubahan nama Red Bull Leeds, hal konkrit lain apa yang akan Red Bull lakukan untuk Leeds?

Untung dan rugi Leeds jika jadi dibeli oleh Red Bull

Untuk satu hal, pastinya Leeds akan mendapatkan kepemilikan yang lebih sehat dibandingkan Massimo Cellino (pemilik Leeds sebelumnya). Red Bull akan memberikan stabilitas yang sangat Leeds butuhkan, atau setidaknya keuangan yang relatif stabil.

Leeds tidak akan perlu khawatir masalah administrasi, kesulitan membayar utang, dan lain-lain.

Sayangnya, tentu ada sisi negatifnya. Red Bull tidak selalu melakukan pekerjaan yang mulus, mereka terkenal tidak sabaran. Seperti misalnya di Red Bull Leipzig di Jerman (Bundesliga.2), sejak 2009 sudah ada lima manajer yang datang dan pergi, dan hanya satu manajer saja yang bertahan lebih dari setahun.

Sementara itu, New York Red Bulls di MLS memiliki delapan manajer dalam sembilan tahun sejak mereka membeli kesebelasan Amerika Serikat tersebut. Mereka juga memecat enam direktur olahraga NY Red Bulls.


Baca juga: 10 Manajer dengan Rezim Pendek


Jadi, ada stabilitas di Red Bull sepertinya. Stabilitas akan pemecatan, meskipun tidak separah Cellino si "pemakan manajer".

Tapi Red Bull telah relatif berhasil. Leipzig sekarang ada di Bundesliga.2 (satu tingkat di bawah Bundesliga Jerman) setelah sebelumnya ada di divisi ke lima enam tahun yang lalau. New York memenangkan trofi pertama kalinya dua tahun lalu. Kemudian Salzburg sudah menjadi kesebelasan yang paling sukses di Austria.

Dalam beberapa tahun terakhir, Red Bull telah membatasi pengeluaran, terutama di New York. Mereka memilih tidak mendatangkan pemain dengan harga tinggi setelah pensiunnya Thierry Henry. Buktinya sekarang masih merupakan kesebelasan yang bagus.

Dilema suporter Leeds

Dimiliki oleh sebuah perusahaan yang melihat kesebelasan sepakbola sebagai peluang pemasaran memang bukan merupakan sesuatu yang elegan. Ini tidak ideal. Tidak ada yang berharap kesebelasan mereka melakukan itu.

Leeds United akan tahu apa yang akan mereka dapatkan. Para suporter juga akan tahu bahwa suporter Leeds tidak sedang diberikan harapan palsu (PHP), dan kesebelasan mereka akan stabil secara finansial. Red Bull adalah perusahaan yang penuh kehati-hatian sekaligus ambisius.

Tapi tak seorang pun di Leeds berharap bahwa Red Bull akan membeli kesebelasan kebanggaan mereka. Padahal Red Bull bisa saja pada akhirnya menstabilkan keuangan Leeds, mengantarkan mereka menuju pintu gerbang Liga Primer, dan pastinya: tidak khawatir jika kontrak Antenucci diperpanjang.

Red Bull Leeds? Mungkin tidak. Tapi bisa jadi nama stadion mereka berubah menjadi Red Bull Stadium atau yang sejenisnya, sponsor di baju mereka juga akan dengan besar terpampang logo Red Bull, dan bahkan bisa jadi seragam mereka akan berubah warna, atau diberi sedikit unsur warna merah jika tidak berubah warna merah sekalian seperti Cardiff City. Karena mereka adalah Red Bull, bukan "Bull" dengan warna yang lain.

Kita nantikan saja, mungkin kisah ini akan semakin ramai menjelang awal musim depan digelar nanti.

Sumber: The Telegraph, Soccer Gods, Wikipedia, Mirror

Komentar