Seorang Badut, Seorang Kit Man, Seseorang yang Luar Biasa....

Cerita

by Randy Prasatya

Randy Prasatya

Everything you can imagine is real.

Seorang Badut, Seorang Kit Man, Seseorang yang Luar Biasa....

Neil Baldwin lahir di Newcastle-under-Lyme dan puluhan tahun hanya dibesarkan oleh sang ibu setelah ayahnya meninggal dunia ketika ia masih kanak-kanak. Sebagai seorang anak, ia didiagnosis memiliki ketidakmampuan belajar atau biasa disebut dengan disleksia. Ketidakmampuan belajar ini pun beragam. Mulai dari kesulitan untuk memusatkan perhatian dan berkonsentrasi, sulit menghapal, sulit mengenali bentuk, sampai sulit sekali membedakan huruf.

Hal tersebut memaksa Baldwin untuk meninggalkan sekolah di usia 16 tahun. Di sela-sela menghabiskan waktu kosongnya, Baldwin hampir setiap akhir pekan selalu dibawa ke stadion oleh ibunya untuk menyaksikan Stoke City bertanding dan setiap hari menyaksikan pertunjukan sirkus melalui televisi (TV). Hal itu pun mendorong niatnya untuk menekuni teknik bersirkus.

Setelah memasuki usia dewasa, atas izin dan restu sang ibu, Baldwin kemudian bergabung dengan Sir Robert Fossett Circus, sirkus tertua di Inggris, serta menggunakan nama Nello the Clown sebagai nama pangungnya selama tiga musim.

Awalnya semua berjalan lancar. Aksi sirkusnya banyak dinanti-nanti oleh para penonton dari anak-anak hingga orang dewasa. Dan tentu saja berkat aksi-aksi Baldwin, tim sirkus yang dipimpin oleh tuan Capello, mendadak mendapatkan bayaran yang lebih besar dari biasanya. Masing-masing pemain biasa mengantongi 25 pound sekali main. Nama Baldwin pun makin meroket di dunia sirkus.

Berkat kepopuleran Baldwin, Capello selaku pemain sirkus senior mulai kehilangan pamor. Hari demi hari di setiap pertunjukan, Capello selalu menunjukan gestur ketidaksukaan dengan Baldwin. Bahkan Capello tak segan-segan memotong upah Baldwin sesuka hatinya. Berkat perlakuan yang sewenang-wenang itulah akhirnya Baldwin meninggalkan pekerjaannya sebagai pesirkus.

Setelah meninggalkan dunia sirkus Baldwin pun mendapat sebuah pertanyaan dari ibunya. Perempuan dengan wajah yang lemah dan keriput itu menanyakan apakah sudah mendapatkan pekerjaan baru. Dengan rasa percaya diri Baldwin mengatakan jika ia telah mendapatkan panggilan dari Keele University yang berada di kota kelahirannya. Kuliah? Ya, terkadang Baldwin mengikuti sesi kuliah layaknya mahasiswa yang terdaftar resmi di Universitas Keele.

Di hari pertama kedatangannya di Universitas Keele, Baldwin tanpa mempunyai rasa malu memperkenalkan dirinya ke setiap mahasiswa dan mahasiswi yang belalu-lalang di area kampus. Tentu saja itu menjadikan cara agar ia tak terlihat seperti orang asing di lingkungan kampus.

Dengan caranya itu pula Baldwin bertemu dengan Malcolm Clarke di tahun 1964 yang sama-sama menjadi pendukung fanatik Stoke City.

"Aku tidak cukup tahu siapa dia saat itu. Ia terlihat seperti tidak memilik rasa malu,” ujar Malcolm yang kini menjabat sebagai Football Supporters Federation. Namun semenjak pertemuan itu pun mereka berdua menjalin persahabatan yang begitu erat hingga kini.

Dave Hadfield, seorang jurnalis dan wartawan yang banyak menulis buku mengenai rugby, memberi kesaksian bagaimana "kelakuan" Baldwin di Keele University.

Di hari pertamanya menginjakkan kaki di Keele, sebagai mahasiswa baru, Hadfield disambut oleh Baldwin di gerbang kampus. Ia menyodorkan tangannya mengajak bersalaman dan memberi pelukan kecil sambil berkata, demikin Hadfield mengenang: "Selamat datang di Universitas Keele."

Cara-cara sok kenal sok dekat ala Baldwin ini juga sukses ia terapkan ketika menerobos masuk gedung parlemen untuk bertemu Tonny Benn, yang kala itu menjabat sebagai anggota parleman di Inggris.

Saat-saat Baldwin Mencari Pekerjaan

Saat penyamarannya sebagai mahasiswa terungkap oleh ibunya, karena sebenarnya ia tak pernah menjadi mahasiswa di sana, Baldwin akhirnya benar-benar mencari lowongan pekerjaan ke berbagai perusahaan dengan didampingi sang ibu. Namun tak ada satupun jenis pekerjaan yang sesuai dengan keinginan Baldwin. Ketika memasuki sesi wawancara dan ditanya posisi apa yang diinginkan, Baldwin selalu mengutarakan jika ia ingin bekerja sebagai manajer Stoke City atau sebagai pendeta. Praktis hal tersebut sedikit membuat jengkel ibunya dan tentu semua orang yang mewawancarai Baldwin.

Tapi mimpi Baldwin untuk mengabdi kepada Stoke City akhirnya menjadi kenyataan di tahun 1991. Saat itu Baldwin menghadiri penyambutan pelatih baru Stoke, Lou Macari, yang ketika itu datang untuk pertama kalinya ke markas Stoke, Victoria Ground.

Bergabung bersama para pendukung Stoke, Baldwin tak henti-hentinya meneriaki nama Macari dengan penuh harapan mantan pemain Manchester United tersebut mampu mengangkat Stoke ke divisi utama.

Siang berganti malam, suhu semakin merendah, Baldwin tinggal seorang diri yang masih berdiri tepat di sekitaran pintu masuk pemain di Victoria Ground. Tentu saja tekadnya untuk tetap menunggu Macari dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan baru. Terutama bekerja dan mengabdi untuk Stoke.

Macari pun akhirnya merasa jika ada sesuatu yang aneh dengan seseorang yang berada di luar. Setelah melihat lebih teliti dari dalam ruangan, Macari merasakan tingkah laku Baldwin seperti menggambarkan perwujudan yang hilang di dalam tubuh Stoke. Tanpa ragu lagi Macari menghampiri Baldwin dan menanyakan apa yang ia lakukan di Victoria Ground.

Dan lagi-lagi Baldwin mengatakan jika ia memang sengaja menunggu Macari. Karena mantan pemain sirkus ini sedang menganggur dan merasa jika Macari akan membutuhkannya. Setelah melalui pembicaraan yang tidak begitu lama, entah iba atau memang butuh, akhirnya Macari menawarkan pekerjaan untuk Baldwin sebagai kit-man.

Dan semenjak masuknya Baldwin sebagai pekerja di Stoke, ruang ganti pemain berubah menjadi cair dan selalu penuh dengan canda tawa. Bahkan tak jarang Baldwin diperintahkan Macari sebagai motivator di ruang ganti sebelum memulai pertandingan, melalui ucapan dan gesture-nya yang jenaka. Dan hasilnya cenderung positif bahkan membanggakan. Stoke hampir selalu meraih kemenangan setiap kali Baldwin diperintahkan Macari untuk memberikan pengarahan kepada pemain sebelum bertanding. Berkat duet Baldwin dan Macari, Stoke akhirnya dapat promosi ke Divisi Utama Liga Inggris di musim 1992/1993.

Bahkan bukan menjadi hal yang aneh jika kala itu pendukung Stoke sangat sering mengeluarkan chant-chant untuk Baldwin. Rasa humor, percaya diri, dan ketulusannya membuat para pendukung Stoke mengangapnya seperti pahlawan bagi Stoke City.

6889067-large
Lou Macari (Kiri) dan Neil Baldwin (Kanan)

Penghormatan untuk Baldwin

Di akhir jabatan, Macari memainkan Baldwin sebagai pemain Stoke di pertandingan testimoni melawan Aston Villa. Ia bermain di lima menit terakhir untuk kesebelasan tercinta. Kedua tim mengabaikan fakta bahwa dia sudah tua, kelebihan berat badan dan Stoke bermain dengan 12 pemain di lapangan. Para pemain membiarkannya menggiring bola dan melakukan tembakan ke gawang. Tentu saja tanpa sepengetahuan Baldwin dan atas komando Macari yang ingin melihatnya mencetak gol untuk Stoke. Tapi gol untuk Baldwin tidak terjadi.

Pada 12 Maret 2000, juga digelar pertandingan testimonial untuk memberikan penghargaan atas apa yang sudah diberikan Baldwin. Pertandingan itu berlangsung antara Neil Baldwin Football Club, kesebelasan yang mendadak dibentuk untuk laga itu dan hanya untuk satu laga itu saja, dengan Kevin Keegan sebagai presiden-nya, melawan kesebelasan All-Stars yang diperkuat Macari, Asa Hartford dan Gordon Cowans.

Kisah Baldwin dan Macari memperlihatkan hubungan pelatih dan kit-man yang begitu kuat. Dan Macari membuat mimpi Baldwin menjadi kenyataan. Malcolm menggambarkan Baldwin sebagai sosok terbaik dalam hidupnya. Dalam film berjudul Marvellous, yang pertama kali ditayangkan di BBC, Baldwin mengatakan kepada Malcolm: "Saya selalu ingin bahagia, maka saya memutuskan untuk bahagia."

Ya, Marvellous merupakan sebuah biopic tentang hayat dan karya Baldwin. Film yang disutradarai Julian Farino itu dianggap sebagai film yang bagus dan layak tonton untuk memahami keluguan dan optimisme kemanusiaan. Seorang kolomnis di The Guardian, Sam Wollaston, menyebut film tentang kisah Baldwin ini sebagai "a very nice film".

Baldwin tidak pernah merasakan kehilangan orang terbaik dalam hidupnya. Sebab, meskipun ia baru mengenal seseorang selama satu hari, ia akan mengatakan jika itu teman terbaiknya. Siapa pun itu. Selain Macari dan Malcolm, Baldwin juga berteman dengan Uskup Agung Canterbury dan pesepakbola Gary Lineker. Bahkan Baldwin diketahui menjalin hubungan pertemanan yang dekat dengan Pangeran Edward.

Kisah dari kehidupan Neil Baldwin membuktikan bahwa dia sanggup untuk sukses di berbagai bidang seperti manusia kebanyakan, bahkan terakhir ia mendapatkan gelar Honorary Doctor dari Universitas Keele.

Sebuah kisah luar biasa tentang manusia dan kemanusiaan, bukan?

======

Sumber cerita: diolah dari berbagai sumber

Komentar