Kemenangan Bersejarah yang Dirayakan dengan Makanan Cepat Saji

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Kemenangan Bersejarah yang Dirayakan dengan Makanan Cepat Saji

Para penggawa Bhutan merayakan kemenangannya atas Sri Lanka dengan skor tipis 1-0. Kemenangan tersebut langsung disambut sukacita. Mereka pun berpesta dengan makan bersama di KFC.

“Pesta” yang dilakukan Bhutan sebenarnya bisa dimengerti. Ini adalah kemenangan pertama mereka dalam pertandingan pra-kualifikasi Piala Dunia 2018. Selain itu, ini juga untuk menghapus rasa malu dan kesialan yang menimpa sepakbola negara yang terletak di pegunungan Himalaya tersebut. Saat ini, Bhutan berada di peringkat terakhir atau ke-209 dalam peringkat FIFA edisi 12 Maret 2015.

Dalam empat tahun terakhir, FIFA bahkan tidak mencatat adanya pergerakan poin di peringkat Bhutan. Mereka mengoleksi poin nol (0) dalam empat tahun terakhir. Ranking tertinggi yang pernah dicapai Bhutan adalah peringkat ke-187 pada Desember 2008.


Makan dulu, lads (Sumber: mirror.co.uk)

Sepanjang 1982, kemenangan mereka bisa dihitung jari. Sebelum kemenangan atas Sri Lanka, mereka cuma menang tiga kali! Rataan kemenangan mereka hanya 7% berbanding 87% kekalahan.

Kemenangan tidak datang setiap saat. Barangkali, itu yang ada dalam pikiran para pemain Bhutan. Kemenangan terakhir mereka raih pada 2008 saat mengalahkan Afghanistan, yang kala itu masih lumpuh karena dibombardir Amerika Serikat.

Artinya, perlu waktu tujuh tahun bagi mereka untuk bisa meraih kemenangan! Tujuh tahun!

Di sepakbola, Bhutan memang terbelakang. Kekalahan terbesar pernah mereka dapatkan saat dibantai Kuwait dalam kualifikasi Piala Asia. Tidak tanggung-tanggung karena gawang mereka kebobolan 20 gol. Masih dalam ajang yang sama, di tahun yang sama, Bhutan juga dibantai Yaman 2-11.

Dengan kemenangan atas Sri Lanka di Colombo, Bhutan kini menyiapkan diri untuk leg kedua di kandang sendiri. Jika mereka mampu melanjutkan tren positif, setidaknya mereka bisa mengangkan diri dari jurang peringkat FIFA.

Bagi Sri Lanka, kemenangan ini jelas mimpi buruk. Pelatih Sri Lanka, Kavazovic, sebelumnya memasang target tinggi. Kepada media lokal, ia menargetkan untuk menang 4-0. Namun, Kavazovic punya masalah besar. Alasan “buta kekuatan lawan” memang menjadi alasan yang tepat.

Di zaman yang serba canggih di mana pelatih bisa memantau lawan lewat Youtube, tapi tidak untuk Bhutan. Tidak ada seorang pun di jajaran pelatih yang mengetahui para pemain Bhutan, apalagi bagaimana cara mereka bermain.

Sepakbola bukanlah olahraga yang menjadi keunggulan Bhutan. Olahraga nasional mereka adalah memanah. Berada di pegunungan Himalaya, Bhutan seperti negara yang terisolir. Televisi bahkan dilarang hingga akhir 1990-an.

Wajar rasanya jika mereka memilih berpesta ke sebuah tempat yang mencolok dengan warna merah menyala. Walaupun sebenarnya, kita juga tahu makanan cepat saji bukanlah makanan yang tepat bagi atlet.

Pelatih Bhutan, Chokey Nima, juga tidak melarang para pemainnya “berpesta”. Ia tahu bagaimana menyakitkannya kekalahan. Nima merupakan penggawa Bhutan yang dibantai Kuwait 20 gol tanpa balas.

Para pemain yang membawa Bhutan menang atas Sri Lanka merupakan generasi penonton Piala Dunia 1998, di mana televisi mulai diperbolehkan di Bhutan. Sebelumnya, Nima mengakui kalau mereka sulit untuk mengembangkan sepakbola karena tidak ada yang bisa dicontoh. Yang mereka lakukan adalah menonton kaset VHS pertandingan-pertandingan sepakbola di masa dulu.

Kemenangan juga diraih peringkat ke-198, Brunei Darussalam yang absen dari sepakbola pada 2013. Mereka mengalahkan tim terburuk lainnya, Chinese Taipei yang menempati peringkat ke-188 FIFA. Brunei menang 1-0 dalam laga yang digelar di Stadion Kaohsiung tersebut.

Namun, belum jelas apakah Brunei—mungkin lewat Sultannya—ikut juga berpesta.

Baca juga: Dua Kesebelasan yang Berduel dan Mimpi-Mimpi yang Baru Dimulai

Mimpi Indah Pengangguran Sepakbola




Sumber: phototourexperts.com

Komentar