Kebetulan-kebetulan yang Logis dalam Sepakbola

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Kebetulan-kebetulan yang Logis dalam Sepakbola

Mark Bentley menambah panjang lembar cerita Cinderella di sepakbola. Kisahnya barangkali akan menjadi yang terhebat pada tahun ini. Bentley hanyalah pesepakbola yang membela kesebelasan tingkat ketujuh Liga Inggris, Grays Athletic. Namun, satu gol serta sekali kesuksesan menahan penalti membuat namanya melambung tinggi.

Bentley merupakan player-manager Grays Athletic. Ia baru saja ditunjuk pada Januari silam. Kini, ia menjadi sorotan. Ia ada di pinggir lapangan saat kesebelasan yang diasuhnya tertinggal 1-2 dari Hampton & Richmond Borough di pertandingan Isthmian Premier League. Bentley menarik keluar salah satu pemainnya agar ia sendiri dapat bermain. Entah apa yang ada di dalam kepala Bentley saat mengambil keputusan tersebut.

Apapun alasannya, Bentley telah mengambil keputusan yang tepat. Ia berhasil mencetak gol penyeimbang. Dan ketika terpaksa mengambil keputusan untuk bermain sebagai penjaga gawang setelah penjaga gawang kesebelasannya tak dapat meneruskan permainan karena cedera, Bentley kembali menjadi penyelamat dengan menggagalkan penalti Hampton & Richmond Borough. Grays Athletic akhirnya kembali mencetak gol dan menang dengan skor 3-2.



Ada yang bilang ini sebuah kejadian kebetulan, ada pula yang berpikiran kalau ini merupakan hasil dari pemikiran yang matang. Benarkah demikian?

Kisah Bentley seperti membuka kembali cerita lama saat Manchester United menjadi juara Liga Champions pada 1999. Dua gol dalam rentang 112 detik mengubah aura bahagia di penjuru Kota Munich.

Jangan tanyakan apa yang terjadi, karena cerita tersebut terlampau termahsyur -- apalagi bagi penggemar Manchester United. Siapapun, termasuk Sir Alex Ferguson, tidak pernah menyangka United bisa membalikan ketertinggalan. Padahal, di benaknya sudah ada pembenaran jika ia kalah dalam final yang dihelat di Stadion Camp Nou, Barcelona tersebut.

Shindunata dalam buku Bola-Bola Nasib, menyoroti komentar Ferguson yang menyatakan bahwa kunci kemenangan MU terletak pada tekad pemain untuk tidak menyerah.

“Taktik dan teknik memang perlu, tetapi yang menentukan kemenangan kami adalah spirit yang berkehendak untuk menang,” kata Ferguson. Namun, benarkah demikian?

Kemenangan MU sejatinya tidak berasal dari keberuntungan. Dua tendangan sudut yang merupakan awal mula gol tersebut ditendang oleh David Beckham. Mungkin saja gol tersebut tidak akan terjadi jika MU tidak melatih tendangan sudut dengan Beckham sebagai eksekutornya.

Teddy Sheringham yang mencetak satu gol dan satu assist, nyatanya baru dimasukkan pada menit ke-67. Posisinya saat tendangan sudut seharusnya merupakan hasil dari latihan yang berulang. Ia selalu berada dalam posisi yang sama: tiang dekat.

Pun dengan Ole Gunnar Solskjaer yang baru masuk pada menit ke-81 menggantikan Andy Cole. Berbeda dengan Sheringham, Solksjaer selalu berada di depan kiper saat tendangan sudut. Ini pula yang membuatnya bisa meneruskan sundulan Sheringham saat mencetak gol kedua United; dan dengan rendah hati Fergie masih menyebutnya sebagai hasil dari kerja keras.

Tidak ada yang lebih baik dari Johan Cruyff dalam mengartikulasikan peran "kebetulan" dalam sepakbola.

Meski bermain tiga dekade lalu, Johan Cruyff telah meramalkan dalam puisinya, coincidence is logical. Keberuntungan atau ketidakberuntungan kerap dijadikan sebagai sebuah alasan. Namun, dalam sebuah logika, ini adalah kesalahan: appeal to coincidence. Logika tidak mengenal apa itu keberuntungan; Menurut Cruyff sesuatu yang kebetulan itu bisa dijelaskan secara logis.

Sepakbola pada masa kini, serta segenap teknologi yang menyertainya, akan membuat mantra Cruyff ini menjadi sahih. Sepakbola sesuatu yang bisa diramalkan, karena sepakbola adalah bagian dari sistem matematis. Dalam sepakbola 1+1 mungkin saja hasilnya bukan dua, namun bisa diramalkan seberapa besar kemungkinan angka dua muncul.

Teknologi adalah kalkulator scientific yang tak lagi mahal. Ia bisa menghitung peluang dengan cepat.

Manajer Bayern, Ottmar Hitzfield, barangkali tidak memperhatikan bagaimana pola gerak Solskjaer dan Sheringham. Gol pertama yang mengoyak gawang Oliver Khan mestinya membuat Hitzfield sadar kalau posisi Solskjaer dan Sheringham membahayakan lini pertahanannya.

Keberuntungan itu akan semakin pudar saat kita lihat keduanya tidak terkawal. Satu-dua kali tendangan sudut barangkali tidak akan berarti apa-apa. Namun, apa jadinya jika Sheringham dan Solskjaer terus-terusan berlatih tendangan sudut dengan Beckham sebagai penendang? Terlebih tidak ada pemain belakang yang mengawal.

Keberuntungan itu hanya akan hadir jika terus dilatih, karena keberuntungan tidaklah gratis. Ini bukan anugerah cuma-cuma yang diberikan nasib, kata Romo Sindhu, tapi penghargaan dari nasib kepada mereka yang telah berjuang dengan susah payah.



Sumber: dailymail.co.uk

Komentar