Survey: Siapa yang Paling Banyak Membina Pemain Muda?

Cerita

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Survey: Siapa yang Paling Banyak Membina Pemain Muda?

Otoritas tertinggi sepakbola Eropa, UEFA, menerbitkan peraturan tentang penggunaan pemain binaan lokal (homegrown) dalam kompetisi tertinggi mereka, Liga Champions Eropa. UEFA mewajibkan setiap kesebelasan minimal mendaftarkan delapan pemain homegrown dalam setiap musimnya.

Hal ini memicu kesebelasan top Eropa untuk lebih memaksimalkan akademi dan mengorbitkan pemain binaan sendiri.

Tapi apa sebenarnya yang dimaksud dengan pemain home grown?

Pemain homegrown atau bisa disebut juga pemain lokal adalah pemain yang usianya 21 tahun atau lebih yang telah menghabiskan tiga musim di satu negara saat pemain tersebut berusia 16-21 tahun. Atau bisa dibilang pemain tersebut merupakan pemain lulusan akademi negara itu sendiri.

Banyak yang menyebut non-homegrown identik dengan sebutan pemain asing. Namun nyatanya, status pemain homegrown tak mempedulikan dari mana asal negara pemain tersebut. Cesc Fabregas adalah salah satu contoh pemain homegrown yang bukan berkewarganegaraan Inggris. Status tersebut Fabregas dapatkan karena  pada usia antara 16-21, Fabregas menghabiskan tiga musimnya bersama Arsenal.

Tiga musim yang dihabiskan para pemain untuk mendapatkan status homegrown di sebuah negara tak harus menetap dalam satu klub. Selama pemain muda tersebut bermain di liga/negara yang sama, maka pemain tersebut bisa mendapatkan status pemain home grown. Jika seorang pemain tersebut dipinjamkan ke liga luar, maka penghitungan tiga musim tersebut akan mulai kembali dari nol.

Pergerakan yang pesat dari pasar transfer kesebelasan-kesebelasan liga top Eropa baik pada musim panas ataupun musim dingin, membuat UEFA melihat potensi terhambatnya perkembangan pemain muda. Dari situlah aturan homegrown player dilahirkan. Belum lagi para saudagar-saudagar Timur Tengah, Amerika Serikat dan Eropa timur mulai memegang kendali kesebelasan Eropa. Finansial yang kuat membuat mereka beralih menuju jalan pintas yang mereka anggap pantas, yaitu belanja besar-besaran pemain top dunia.

Namun, tak semua pemilik kesebelasan di Eropa berpikiran instan seperti diduga banyak orang.

CIES Football Observatory sempat merilis daftar kesebelasan Eropa yang memiliki pemain binaan terbanyak yang tersebar baik di lima liga top Eropa maupun yang kini bermain untuk kesebelasan yang membinanya. Nama-nama seperti FC Barcelona, Manchester United dan Real Madrid menduduki posisi satu, dua, dan tiga teratas daftar tersebut lalu diikuti Olympique Lyonnais dan Paris Saint Germain.

Pada putaran pertama musim ini (2014-15), CIES Football Observatory juga menjabarkan tentang bagaimana persentase tiap liga di Eropa, khususnya Inggris, Italia, Jerman, Spanyol, dan Perancis. Angka-angka tersebut menunjukkan Liga Perancis menduduki peringkat teratas dengan rataan sebesar 24,6% disusul Spanyol 22,4%, Jerman 16,4%, Inggris 13,9% dan terakhir Italia 9,65%.

Tren ini sebenarnya menjadi tren terburuk dalam lima tahun terakhir. Jika dirata-ratakan persentase kelima liga tersebut hanya mencapai angka 17,25% saja. Persentase terbaik masih dipegang pada tahun 2010 yang mencapai angka 20,2%.

dokumen infografis CIES football observatory 2

Jika melihat paparan data diatas, tentu tak mengherankan jika Barca menduduki posisi teratas daftar pemain homegrown terbanyak di lima liga top Eropa. Segudang prestasi baik dari level klub, pelatih hingga pemain terbaik dunia pernah diboyong ke Katalonia untuk menasbihkan diri sebagi akademi sepakbola terbaik untuk beberapa tahun terakhir. Nama-nama besar seperti Lionel Messi, Andres Iniesta dan Xavi Hernandez penah bercokol di tiga teratas daftar kandidat pemain terbaik dunia. Belum lagi seperti Tiago Motta, Pepe Reina, Mikel Arteta, Thiago Alcantara dll yang sudah malang melintang di kesebelasan berbagai liga.

Akan tetapi, Barcelona bukannya tidak pernah melakukan pembelian pemain-pemain mahal. Mereka sempat menggelontorkan dana untuk merekrut Zlatan Ibrahimovic, David Villa, Neymar Jr sampai yang terbaru adalah Luis Suarez. Perpaduan antara pemain muda, pemain senior binaan klub (homegrown), dan pemain top Eropa secara otomatis membentuk ladang-ladang ilmu  dan pengalaman yang mereka bisa semai.

Lain Barcelona, lain Athletic Bilbao. Klub asal wilayah Basque, Spanyol ini terkenal teguh akan pendiriannnya untuk memakai pemain lokal binaan sendiri dan sang pemain harus merupakan keturunan wilayah Basque. Tradisi unik ini menjadikan mereka tidak perlu pontang-panting ketika UEFA menerapkan regulasi Penggunaan pemain homegrown di kompetisi level Eropa dan regulasi tentang Financial Fair Play karena stok pemain muda berbakat dari akademi mereka takkan pernah surut.

Atletic Bilbao memang sangat unik dan keteguhannya dengan tradisi membuat mereka menjadi kesebelasan yang paling setia dengan strategi pembinaan pemain, bukan sekadar homegrwon player, tapi juga pemain lokal. Simak dua cerita kami tentang Bilbao:

Iker Muniain dan Kesetiaan Pemain Lokal kepada Bilbao

Keteguhan, Kesetiaan dan Tradisi Bilbao: Kesebelasan Perserikatan dari Spanyol


Tak semuanya bisa menjadi contoh dan terlihat baik, karena di setiap peraturan pasti ada  celah untuk dilanggar. Manchester City , contohnya. Mereka dijatuhi sanksi atas pelanggaran  karena hanya mendaftarkan lima nama pemain homegrown di kompetisi Liga Champions, padahal seharusnya semua klub peserta wajib mendaftarkan delapan nama. Belum lagi mereka didenda sebesar 49 juta poundsterling dan dibatasi pengeluarannya dengan jumlah 49  juta poundsterling yang akan berpengaruh terhadap rencana transfer klub.

Dengan segelintir contoh-contoh diatas, klub-klub Eropa seharusnya tidak perlu takut untuk menginvestasikan dananya untuk pembinaan pemain muda dan pengembangan fasilitas akademi untuk menunjang pembinaan tersebut. Kesebelasan-kesebelasan besar Eropa seperti Barcelona dan Manchester United tahu betul manisnya hasil dari menanam benih-benih muda berbakat. Selain banyak gelar yang telah didapat, kesebelasan yang sudah menginvestasikan uangnya untuk akademi juga akan secara tidak langsung bisa meraih pendapatan dari penjualan pemain binaan mereka. Sehingga bayaran besar tersebut mampu menutupi pengeluaran mereka untuk akademi.

Hal ini tidak berlaku dengan pemain muda yang dibentuk di akademi kesebelasan yang lebih kecil. Mereka harus pasrah ketika pemain muda terbaiknya harus memilih hengkang menuju  kesebelasan yang lebih besar. Barcelona dan Real Madrid mungkin akan menjual pemain muda terbaiknya mencapai angaka 15 juta euro, namun jika kesebelasan kecil yang menjualnya, mungkin hanya bernilai 2 sampai 5 juta euro saja.

Kepedulian terhadap bakat-bakat sepakbola lokal nampaknya harus menjadi garapan serius untuk kesebelasan sepakbola dimanapun berada khususnya di Indonesia. Karena kebanyakan masih tak percaya akan pembinaan panjang berjenjang tiap tingkatan umur, seperti kesebelasan Eropa lazim gunakan. Indonesia masih pada pemikiran melakukan pemusatan latihan atau pelatihan nasional jangka pendek maupun jangka panjang. Padahal, dengan segala potensi yang di punya, Indonesia seharusnya mampu membangun pembinaan yang tidak kalah dari negara-negara lain.

Sumber Gambar: sportespritacademy.com

Sumber Rujukan:

https://www.soccerissue.com/2014/10/29/we-dont-need-no-education/

https://www.football-observatory.com/IMG/pdf/wp86_eng.pdf

https://www.soccerissue.com/2014/01/27/european-football-has-stopped-creating-footballers/

https://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-2655196/Manchester-City-handed-boost-seasons-Champions-League-UEFA-announce-five-home-grown-players-21-man-squad.html


Komentar