Mereka yang Sukses Menarikan Samba di Liga Primer

Cerita

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, MSc sport science, BSc architecture, licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Mereka yang Sukses Menarikan Samba di Liga Primer

Brasil adalah tanah kelahiran Samba. Penyelenggara Piala Dunia 2014 tersebut juga sudah menjadi rumah bagi beberapa legenda sepakbola terbaik dunia mulai dari Pele, Romario, Socrates, sampai Ronaldo. Menyebut empat saja rasanya memang masih kurang, tapi kalau kami harus menyebutkan satu per satu pemain legendaris asal Brasil, rasanya satu tulisan tidak akan cukup.

Kemudian mari kita beralih ke Inggris. Inggris (katanya) adalah tanah kelahiran sepakbola. Maka sudah sepatutnya pemain terbaik dunia lahir di Inggris.

Meskipun tidak demikian, kita bisa saja mengkombinasikan pemain-pemain terbaik sepakbola dunia untuk bermain di tanah kelahiran sepakbola. Sungguh perpaduan yang pas: pemain Brasil di tanah Inggris.

Namun anehnya, Liga Primer Inggris telah berjuang untuk mendapatkan servis terbaik dari para penggawa asal Brasil. Jika harus diabsen, siapa yang meragukan kualitas Robinho, Mario Jardel, Kleberson, Anderson, Robinho, dan kawan-kawannya?

Liga Inggris sudah lama menjadi “kuburan” bagi para jagoan Samba. Benarkah? Mungkin saja pernyataan tersebut tidak berlaku lagi pada musim ini.

Saat ini ada 12 pemain asal Brasil yang bermain di Liga Primer. Sementara di divisi di bawah Liga Primer, ada lebih banyak lagi pemain asal Brasil, tapi di antara mereka semua, mungkin hanya Fabio da Silva (Cardiff City) dan Heurelho Gomes (Watford) yang paling familiar.




































KesebelasanPemain asal Brasil
ArsenalGabriel Paulista
ChelseaFilipe Luís, Oscar, Ramires, Willian
LiverpoolPhilippe Coutinho, Lucas Leiva
Manchester CityFernandinho, Fernando
Manchester UnitedRafael da Silva
Queens Park RangersSandro
Tottenham HotspurPaulinho

Kemudian saat tim nasional Brasil terakhir kali bermain, yaitu saat menghadapi Turki dan Austria pada pertandingan persahabatan di Bulan November tahun lalu, ada 5 pemain asal Liga Primer yang dipanggil. Mereka adalag Luís, Fernandinho, Oscar, Willian, dan Coutinho.

Contoh terbaru, pada pertandingan akhir pekan lalu, ada bek tengah Arsenal, Gabriel, yang bermain gemilang saat menghadapi Everton, dan juga Coutinho yang mencetak gol cantik untuk Liverpool saat menghadapi Manchester City.

Pada tulisan kali ini, selain pemain-pemain yang masih bermain di atas, kami akan mencoba untuk mengingat kembali siapa saja pemain-pemain Brasil yang dinilai sudah sukses menarikan Samba di tanah Inggris sejak era Liga Primer bergulir.

Baca juga tulisan terkait yang pernah kami tulis di #AboutTheGame Detik Sport: Menarikan Samba di Tanah Inggris

Elano (Manchester City)

Mari kembali ke masa ketika Thaksin Shinawatra menguasai Manchester City. Saat itu ia membeli banyak pemain, tapi uang 8 juta poundsterling ia habiskan untuk mendatangkan Elano dari FC Shakhtar Donetsk pada tahun 2007.

Tak perlu berlama-lama, pemain yang berusia 26 tahun itu langsung terlibat dalam tim utama dan berhasil mencetak lima asist dalam tujuh pertandingan pertama. Ia kemudian berhasil mencetak empat gol dalam tiga pertandingan berikutnya.

Dari 80 pertandingan di semua ajang bagi City, Elano bisa mencetak 18 gol yang membuatnya menjadi idola baru untuk suporter The Citizens.

Namun, perubahan dalam manajemen dan masuknya “uang kaget” dari Sheikh Mansour, membuat kesebelasan membeli lebih banyak lagi pemain baru. Elano kemudian tidak mendapatkan tempat dan harus merelakan posisi tim utama.

Ia kemudian dijual ke Galatasaray pada tahun 2009. Saat itu ia masih berusia 28 tahun dan merupakan pemain langganan di timnas Brasil. Saat ini, Elano masih bermain bagi Santos di usianya yang sudah 33 tahun.

Edu (Arsenal)

Arsene Wenger sudah terkenal dalam perekrutan pemain potensial. Ia juga sudah mempersilakan tujuh pemain Brasil untuk mendapatkan debutnya di Liga Primer. Mereka adalah Sylvinho, Edu, Gilberto Silva, Júlio Baptista, Denílson Pereira Neves, André Santos, dan yang terbaru yaitu Gabriel.

Eduardo César Daude Gaspar atau Edu adalah akuisisi kedua Wenger untuk pemain Brasil. Ia bergabung setelah Sylvinho.

Edu adalah pemain terkenal dari era “The Invincibles”. Ia tampil dalam 29 pertandingan selama musim tak terkalahkan tersebut. Cedera memang sempat mengancam karirnya, tapi ia bisa kembali dengan lebih baik lagi.

Dua gelar Liga Premier, tiga medali Piala FA, dan dua gelar Community Shield adalah saksi bisu dari salah satu “pahlawan tanpa tanda jasa” dari skuat terbaik Wenger.

Lima musim di Arsenal, ia bermain 127 kali dan mencetak 15 gol. Ia kemudian pindah ke Valencia CF di musim 2005/06 dan saat ini menjabat direktur sepakbola bagi kesebelasan Corinthians.

Geovanni (Hull City)

Hampir semua pemain Brasil yang sukses di Liga Primer adalah mereka yang bermain bagi kesebelasan yang pernah meraih gelar juara. Tapi tidak demikian dengan Geovanni Deiberson Maurício.

Pada awal musim 2007/08, ia pindah dari Cruzeiro ke Manchester City. Di City, ia hanya bermain 20 kali dan mencetak satu gol. Kesuksesannya memang baru terjadi setelah ia pindah dari Kota Manchester.

Nama Geovanni saat ini sudah disejajarkan sebagai salah satu pemain legenda Hull City. Ia pindah ke Hull pada Bulan Juli 2008, dan langsung mencetak gol pada debutnya melawan Fulham, sekaligus membuatnya sebagai man of the match.

Tak perlu waktu lama, ia sudah menjadi pemain andalan manajer Phil Brown dan juga menjadi pemain spesialis eksekutor bola mati. Ia menyelesaikan musim pertamanya sebagai pencetak gol terbanyak Hull dengan 8 gol.

Penampilan gemilangnya berhasil menghindari Hull dari degradasi. Kemudian ia pun memperpanjang kontraknya.

Geovanni memulai musim keduanya dengan baik, mencetak empat gol hanya dalam tujuh pertandingan, termasuk melawan Southend United di Piala Liga.

Sayangnya, pada akhir musim Hull harus degradasi dan ia setuju untuk membatalkan kontraknya. Di usianya yang sudah 35 tahun, sekarang ia masih bermain bagi Clube Atlético Bragantino di Serie B Liga Brasil.

Gilberto Silva (Arsenal)

Setelah memulai karirnya sebagai pemain tengah, Gilberto Silva menunjukkan kualitas defensifnya sebagai seorang jangkar bagi "The Invincibles". Peran jangkarnya ini membuat Patrick Vieira bebas berkreasi dan menjelajah ke depan kotak penalti.

Gilberto sering disebut sebagai “dinding tak terlihat” di Brasil. Ia menempatkan dirinya di antara dua bek tengah dan pemain lainnya di lini tengah. Tugas utamanya adalah memutus serangan lawan.

Dalam perannya ini, ia adalah bagian dari unit defensif untuk Arsenal dan juga Brasil. Ketika bermain, dia lebih pasif daripada kebanyakan pemain di pertahanan. Daripada mengatasi lawan, dia lebih cenderung untuk membayangi lawan.

Akibatnya, ia memiliki catatan yang luar biasa bersih untuk seorang gelandang bertahan. Ia pernah dua kali tidak menerima satu kartu kuningpun (apalagi kartu merah) dalam 45 pertandingan berturut-turut.

Menurut Prozone pada Bulan Januari 2007, Gilberto adalah salah satu “gelandang elit level Liga Champions” di Inggris bersama dengan Paul Scholes (Manchester United) dan Frank Lampard (Chelsea).

Tidak seperti Vieira, Gilberto tidak pernah benar-benar tergantikan di Emirates.

Sampai saat ini, setelah perginya Gilberto di musim 2008/09, Wenger tidak kunjung berhasil menemukan gelandang jangkar yang cocok bagi Arsenal. Tapi saat ini, Francis Coquelin mungkin menjadi pemain yang paling berpotensial menggantikan Gilberto.

Gilberto memang berhasil satu kali menjuarai Liga Primer, dua Piala FA, dua Community Shield, dan sekali menjadi runner-up Liga Champions UEFA di musim 2005/06, serta menjuarai Piala Dunia 2002 saat masih bermain di Arsenal. Namun, ia tidak pernah bisa mengalahkan pemain di bawah ini untuk menempatkan posisi paling agung dalam daftar pemain asal Brasil yang sukses di Liga Primer.

Juninho Paulista (Middlesbrough)

Pada pertengahan tahun 1990-an, Juninho Paulista menjadi pemain Brasil terbaik dan yang paling dicintai di Liga Premier. Sekarang, hampir 20 tahun kemudian, dia masih bisa mengklaim gelar tersebut.

Ketika gelandang mungil tersebut pindah dari Sao Paulo ke Middlesbrough pada tahun 1995, itu adalah penandatanganan terbesar untuk kesebelasan Teeside tersebut. Juninho menjadi pemain Brasil kedua yang pindah ke North East setelah Mirandinha pindah ke Newcastle United pada tahun 1987.

Perawakan dan senyumnya yang khas dengan cepat membuat Juninho menjadi pahlawan di Boro.

Pada tahun 1997, ia membawa Boro ke final Piala FA dan juga Piala Liga. Sayang dalam keduanya Boro harus kalah. Kemudian pada pada hari terakhir musim 1996/97, Middlesbrough bermain imbang 1-1 dengan Leeds United, yang membuat mereka terdegradasi. Juninho kemudian menangis.

Banyak yang berpendapat bahwa momen tersebut adalah saat Juninho dibaptis menjadi seorang legenda Middlesbrough dan juga Liga Primer Inggris.

Ia akhirnya meninggalkan Boro dan bergabung bersama Atlético Madrid untuk mengejar peluangnya masuk ke skuat Brasil untuk Piala Dunia 1998.

Di luar Liga Primer, hal yang unik sempat terjadi di Atlético saat ia dipinjamkan ke Vasco da Gama dan sempat bermain bersama dengan Juninho Pernambucano. Dua pemain bernama “Juninho” ini akhirnya harus menggunakan nama “Paulista” dan “Pernambucano” di nama punggung mereka.

Juninho kembali ke Middlesbrough pada tahun 2002 setelah sebelumnya ia sempat dipinjamkan. Akhirnya pada tahun 2004, ia memenangkan Piala Liga dengan Middlesbrough dan memastikan bahwa ia akan menjadi pahlawan selamanya ketika ia menyatakan bahwa Piala Liga ini lebih berarti baginya daripada memenangkan Piala Dunia 2002 bersama Brasil, seperti yang diceritakannya kepada BBC.

Cintanya kepada Middlesbrough adalah saat Juninho dan seluruh pemain lainnya asal Brasil akan selalu dikenang di tanah Inggris.

Komentar