Sang Kaisar yang Jatuh Karena Kehidupan Malam

Cerita

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng!

Sang Kaisar yang Jatuh Karena Kehidupan Malam

Publik Internazionale Milan mesti bersedih ketika pemain terbaiknya, Ronaldo, hengkang ke Real Madrid. Padahal penyerang asal Brasil itu diharapkan bisa menularkan aura postinya setelah menjuarai Piala Dunia 2002 di Jepang dan Korea Selatan.

Akan tetapi di sisi lain, Inter sebetulnya tidak terlalu gusar. Diam-diam mereka sudah menanamkan investasi baru kepada penyerang Brasil lainnya. Dia sama-sama lahir di Rio Janeiro, sama seperti Ronaldo. Pemain tersebut memiliki kekuatan yang besar di kotak penalti lawan. Sungguh berbahaya membiarkan ruang tembak baginya. Apalagi ia dilengkapi dengan kemampuan dribel dan stamina yang prima.

Dirinya didatangkan dari Flamengo, kesebelasan yang sudah diikutinya sejak junior pada tahun 1997. Menembus skuat senior pada tahun 2000 atas rekomendasi Emerson Leao dan bertahan satu musim di sana. Namanya juga terdaftar di Tim Nasional Brasil U-17 dan U-20. Atas alasan-alasan tersebut, Inter Milan jatuh cinta dan merekrut pria bernama lengkap Adriano Leite Riberio ini.

Kesebelasan berjuluk I Nerazurri tersebut tidak memaksakan Adriano di musim pertamanya. Pada musim 2001/2002, Adriano cuma berseragam selama setengah musim. Berlaga sebanyak delapan kali dan menyumbangkan satu gol. Pada Januari 2002 ia dipinjamkan ke Fiorentina dan menunjukkan kapasitasnya sebagai penyerang Brasil jempolan. Bersama kesebelasan berjuluk La Viola, 15 penampilannya membuahkan enam gol.

Beberapa kesebelasan pun mulai mengendus potensi yang dimiliki olehnya. Parma akhirnya berhasil memboyong Adriano dengan dana hampir 15 juta euro. Parma memanfaatkan kondisi Nerazurri yang tengah menginginkan jasa bek Parma yaitu Fabio Cannavaro.

Bersama I Gialloblu, pria yang dijuluki Sang Kaisar ini semakin melesat lagi, dua musim mencetak 23 gol dari 37 penampilannya. Nerazurri seolah menyesal melepas Adriano pergi. Kubu Inter akhirnya berusaha menego kembali Adriano untuk dikembalikan ke Inter Milan. Akhirnya Adriano berhasil didatangkan kembali dengan harga sekitar 16 juta euro.

Pada saat inilah Adriano berada di puncak karirnya. Pada musim 2005/2005, Adriano berhasil membawa Inter Milan meraih scudetto. Ditambah lagi, Inter Milan berhasil menjadi juara Coppa Italia dan gelar Super Italia pada tahun yang sama. Dalam dua musim pasca kembali, Sebanyak 40 gol di berbagai ajang berhasil dikoleksinya.

Namanya pun merupakan langganan tim nasional Brasil. Dirinya mengecap 48 laga dan mencetak 27 gol. Kontrak baru hingga 30 Juni 2010 adalah ganjaran yang setimpal bagi dirinya dari Inter.

Kehidupan Malam dan Frustasi Adriano

Pasca menandatangani kontrak baru, penampilan Adriano justru menurun. Pada musim 2006/2007, Adriano hanya membekukan lima gol dari 23 penampilannya di Serie-A. Penurunan performanya disebut-sebut sebagai dampak dari kebiasaan Sang Kaisar di luar lapangan. Seolah kalap dengan pencapaiannya, ia sering pulang larut karena menghabiskan malam di diskotek-diskotek.

Sepanjang musim itu Adriano tidak hanya mengoleksi jumlah lima gol. Akan tetapi ditambah dengan dua kali ditangkap oleh polisi. Ditambah cedera yang melilit dirinya, performanya semakin merosot.

Media-media di Italia terus menyorotinya dan tekanan bertubi-tubi menyerangnya. Bahkan ia pernah tertangkap kamera sedang transaksi narkoba, meski kemudian dibantahnya. Akan tetapi, Adriano mengakui sebagai pecandu alkohol. Rupanya konsumsi hiburan dan alkohol, merupakan pelampiasan depresi Adriano, terutama setelah ayahnya meninggal dunia.

"Saya memang lepas kontrol ketika ayah saya meninggal dan saat itu saya merasa tidak memiliki siapa-siapa. Saya banyak minum untuk melupakan apa yang terjadi ketika tidur tidak pernah berhasil (melupakan)," akunya.

Hingga pada akhirnya, Januari 2008 ia dipinjamkan ke Sao Paulo. Penampilannya masih cukup impresif, dari 19 laga berhasil mencetak 11 gol. Akan tetapi tidak didukung oleh kedisiplinannya.

Pada laga 10 Februari 2008, Adriano menanduk bek Santos, Domingos, dan mendapatkan skors dua laga. Di internal tim, Adriano sering datang terlambat lebih dari 30 menit saat sesi latihan. Juga pernah meninggalkan latihan lebih awal.

Kembali ke Inter Milan, performa Adriano belum membuat direksi percaya lagi. Dari 12 laga mencetak tiga gol. Inter Akhirnya melepasnya ke Flamengo pada Januari 2009. Bersama kesebelasan asalnya itu, Sang Kaisar sempat bangkit.

Dari 30 laga musim perdananya, 19 gol berhasil ia sumbangkan. Bahkan sempat membuat dua kali hattrick ketika mengalahkan Internacional 4-0 dan rivalnya Fluminense dengan skor 5-3.

Cedera sempat melilit kariernya bersama Flamengo, tapi tetap berkontribusi karena 10 laga mencetak 11 gol. Dirasa belum habis, Adriano kembali berkarir di Italia. Kali ini AS Roma yang berharap tuahnya masih ada.

Namun sayang, ekspektasi Roma kepadanya memudar. Kondisi fisiknya jauh di bawah para pemain lainnya, ditambah postur badannya yang semakin gemuk. Sang Kaisar pun cuma diberi kesempatan lima kali turun dan tidak mencetak satu gol pun.

Pontang-Panting di Negeri Sendiri

Tepatnya pada bulan Maret, ia kembali pulang ke Brasil. Lalu membela Corinthians. Di sana Adriano masih tidak lepas dari keterpurukan. Jumlah bermainnya semakin sedikit karena cedera pecah tendon achilles. Total selama dua musim cuma berlaga tujuh kali.

Pada 12 Maret 2012, Adriano kembali bergabung dengan Flamengo. Namun kali ini dia gagal mengulang prestasi manisnya. Pasalnya tidak ada satu laga pun dinikmati olehnya.

Nasib yang sama juga dia dapatkan di Atletico Paranaense. Akan tetapi d isini diberikan tugas lebih, yaitu melakukan pengembangan pemain muda. Namun Adriano cuma bertahan tiga bulan setelah dia mangkir dalam dua sesi latihan.

Adriano lalu menganggur kembali dan banyak kabar jika dia sudah berpindah menjadi seorang kriminal, terutama dalam urusan narkoba. Adriano dikabarkan menjadi penjual narkoba di favela Villa Cruzeiro.

Komentar