5 Hal yang Layak Dipelajari dari J-league

Cerita

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Football Analyst | Promising Sports Brand Strategist | Liverpool #YNWA

5 Hal yang Layak Dipelajari dari J-league

Liga Jepang atau lebih dikenal dengan sebutan J-league, memang tidak semewah Liga Inggris atau liga di negara-negara Eropa. Klub-klub sepakbola di Jepang juga bukan klub seterkenal klub-klub Eropa. Penonton Liga Jepang Dunia mungkin juga tidak sampai setengah dari penonton Liga Inggris di seluruh dunia.

Jika dilihat dari jumlah uang yang berputar di dalamnya, Liga Jepang juga tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Liga Inggris. Liga Jepang tidak memiliki kesepatakan kontrak hingga £ 3 Milyar dengan stasiun televisi. Kontrak kerjasama dengan sponsor yang didapat klub-klub Jepang pun tidak semewah klub-klub di Liga Inggris.

Apalagi soal basis suporter yang dimiliki. Dengan tidak banyaknya orang di dunia yang menyaksikan pertandingan Liga Jepang tentu tidak banyak fans-fans klub-klub Jepang. Bahkan sekalipun anda bertanya kepada orang Jepang, sebagian besar dari mereka juga lebih memilih untuk menjadi fans klub-klub Eropa ketimbang klub Liga Jepang.

Namun hal tersebut sama sekali tidak menunjukan bahwa Liga Jepang tidak dikelola dengan baik. Dengan segala keterbatasan yang masih dimiliki saat ini, klub-klub sepakbola berhasil mengembangkan bisnis mereka masing-masing. Semua klub yang bermain di Liga Jepang baik J-league maupun J2 memiliki penghasilan dari bisnis yang mereka kelola sendiri.

Karena itu, tidak ada salahnya belajar dari negri Sakora ini dalam pengelolaan Liga. Terdapat beberapa poin penting yang menjadi kunci sukses pengelolaan liga sepakbola di Jepang. Yah, mungkin saja bisa menjadi bahan pelajaran bagi penyelenggara Liga di Indonesia (jika mau).


  1. Konsumen adalah raja


Sebelum kompetisi J-league digelar pertama kali pada taun 1993, berbagai macam penelitian dan survey dilakukan terlebih dahulu untuk mengetahui apa yang diinginkan masyarakat Jepang dari pertandingan sepakbola. Dari hasil penelitian tersebut didapat beberapa poin penting yang diinginkan masyarakat Jepang pada sebuah pertandingan sepakbola yaitu: kebersihan, keamanan, kursi terpisah, area keluarga (untuk melakukan kegiatan dengan anak-anak), dan akses yang mudah.

Jika anda datang ke stadion yang menggelar pertandingan Liga Jepang saat ini, anda akan menemui nilai-nilai dari semua poin tersebut. Anda akan duduk di bangku yang terpisah dengan penonton lain. Jika pergi menonton dengan keluarga, anda akan mendapatkan area untuk bercengkrama dengan keluarga anda. Berbagai fasilitas yang dibutuhkan tersedia dan sangat mudah dijangkau. Makanan dan souvenir dijual dengan harga yang terjangkau. Hal ini kemudian membuat banyak orang Jepang bersedia untuk membeli tiket pertandingan sepakbola.


  1. Harga tiket yang terjangkau


Harga tiket paling mahal untuk sebuah pertandingan J-league hanya mencapai ¥5000. Sekali lagi, ini adalah tiket termahal, jadi hanya sebagian kecil orang yang membayar dengan harga ini. Sebagian besar orang hanya membayar tiket seharga ¥2000 atau kurang. Jika membeli tiket musiman, mereka bahkan tidak membayar lebih dari ¥1000 untuk satu pertandingannya. Angka ini bisa dikatakan sangat murah jika dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk hiburan-hiburan lain di Jepang.

Namun anda jangan langsung mengkonversinya ke rupiah. Jika langsung dikonversi ¥2000 kini berkisar Rp 200.000, akan terlihat mahal jika kita melihat secara langsung seperti ini.

Sekedar perbandingan, biaya sekali makan di Jepang adalah sekitar ¥500, maka ¥2000 setara dengan biaya untuk 4 kali makan. Jika kita bandingkan dengan di Indonesia, anggap saja biaya sekali makan adalah Rp 20.000 maka biaya 4 kali makan adalah sekitar Rp 80.000. Ya kurang lebih inilah nilai yang setara dengan ¥2000 bagi orang-orang Jepang.


  1. Tidak ada toleransi bagi perilaku buruk suporter


Klub asal kota Saitama, Urawa Red, terkenal memiliki kelompok suporter yang sangat fanatik. Hal ini membuat Urawa menjadi klub dengan rataan jumlah penonton paling banyak di J-league. Namun hal ini juga sempat mendatangkan masalah bagi Urawa.

Beberapa tahun yang lalu, sekelompok suporter membawa banner yang bertuliskan “japanese only”. Mereka secara terang-terangan menolak kehadiran warga asing di Saitama Stadium, markas Urawa Red.

Melihat hal ini, pihak J-league langsung mengambil sikap. Mereka menganggap ini adalah sebuah tindakan rasisme yang tidak boleh dibiarkan terus terjadi. Urawa Red mendapatkan denda dan ancaman bertanding tanpa suporter.

Dari sini, tidak banyak suporter yang mencoba-coba membuat ulah di stadion. Mereka sadar hal tersebut akan merugikan klub yang mereka dukung.


  1. Kecil tapi kompetitif


Liga Jepang sama sekali tidak memprioritaskan jumlah klub yang bermain, melainkan kualitas dari klub yang ada. Saat pertama kali dibentuk, J-league hanya terdiri dari 10 tim dan tidak ada J2. Jumlah ini kemudian bertambah sedikit demi sedikit seiring dengan perkembangan J-League.

Hingga akhirnya kini terdapat 18 tim yang bermain di J-league dan 22 tim yang bermain di J2. Dan tahun ini kompetisi kasta ketiga baru digelar yang terdiri dari 13 klub semiprofesional. Maka jika ditotal, pada umurnya yang ke 21 ini, Liga Jepang hanya memiliki 53 tim yang bertanding di semua kompetisi. Mereka sadar, untuk apa memiliki banyak klub namun tidak sehat secara finansial.


  1. Menginspirasi generasi muda


Satu hal yang tidak kalah penting dari Liga Jepang adalah bagaimana mereka mencoba menggaet generasi muda. Selain dengan memperlihatkan aksi-aksi heroik para pemainnya di lapangan, pihak klub juga secara tidak langsung melakukan usaha untuk mendapatkan fans-fans masa depan di luar lapangan.

Berbagai kemudahan diberikan untuk para suporter muda ini dari mulai diskon harga tiket hingga tiket gratis yang diberikan kepada beberap kelompok umur. Berbagai kesempatan juga dibuka untuk membuat generasi muda terlibat langsung dalam penyelenggaraan pertandingan. Klub J-league membuka kesempatan bagi anak-anak muda yang mau menjadi volunteer pertandingan atau acara-acara klub, beberapa diantaranya bahkan menjadi pekerjaan sambilan yang mendapatkan bayaran.

Klub J-league juga aktif melakukan kerjasama dengan sekolah dan universitas di sekitarnya untuk menarik minat para pelajar hadir ke stadion menyaksikan pertandingan. Dari sini setiap klub Liga Jepang tidak perlu khawatir soal kondisi mereka di masa mendatang, karena generasi pendukung masa depan sudah mereka bangun saat ini.

Sumber gambar: www.tokyoweekender.com

Disadur dari: blog.gaijinpot.com

Komentar