Di Matteo: Tentang Dendam, Berkat, dan Doa

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Di Matteo: Tentang Dendam, Berkat, dan Doa

Roberto Di Matteo nampaknya memang tak bisa jauh dengan Chelsea FC. Ia hanya perlu melewati tujuh pertandingan saja bersama FC Schalke 04, klub barunya setelah Chelsea, untuk kembali dipertemukan di tempat yang sama dengan klub yang membesarkan namanya sebagai seorang pemain sekaligus klub yang dibesarkan namanya oleh Di Matteo ketika dirinya berkarir di dunia kepelatihan.

Satu pertanyaan besar yang diajukan oleh banyak pihak adalah mengenai kemungkinan adanya dendam terhadap Chelsea dalam diri Di Matteo, mengingat dirinya dipecat secara sepihak walaupun sudah berhasil membawa Chelsea meraih gelar juara Champions League mereka yang pertama.

Pertanyaan tersebut terdengar konyol dan mencari perhatian saja karena Chelsea bukanlah klub pertama yang memperlakukan Di Matteo layaknya sosok yang tidak berjasa. Di Matteo pernah diperlakukan sama oleh West Bromwich Albion dan ia merasa bahwa apapun yang terjadi adalah berkat untuknya.

“Saya telah berada dalam sepakbola untuk waktu yang lama sehingga tidak ada yang membuat saya terkejut. Itu adalah sebuah blessing in disguise karena jika mereka tidak memecat saya, saya tidak akan pernah meraih apa yang saya raih hari ini,” ujar Di Matteo kepada FourFourTwo, dalam sebuah wawancara eksklusif yang dimuat pada edisi bulan April tahun ini.

“West Brom adalah pengalaman yang baik. Kami kembali ke Premier League setelah satu musim yang baik. Kami memulai musim berikutnya dengan baik dan tidak sehari pun berada di zona degradasi. Begitulah sepakbola,” tutup Di Matteo mengenai West Brom, klub yang ia bawa meraih promosi ke Premier League. Klub yang memecatnya di pertengahan jalan di musim pertama kerja sama keduanya di Premier League.

Meminjam kalimatnya sendiri, Di Matteo adalah sosok yang berpikiran maju, tidak terjebak di masa lalu. Apa yang telah terjadi, terjadilah. Tidak pernah ia telalu dalam memikirkan hal-hal buruk yang terjadi kepadanya. Tidak pula ia berlama-lama mengingat hal-hal indah yang telah terjadi bersama Chelsea, seperti saat meraih kemenangan atas Bayern München di kandang lawan, pada pertandingan final Champions League tahun 2012.

“Sejujurnya, saya tidak sebanyak itu berpikir mengenai München 2012. Saya adalah seseorang yang melihat maju, bukan mundur – saya hidup di masa kini, walaupun banyak orang yang terus mengingatkan saya kepada malam itu,” ujar Di Matteo dalam konferensi pers prapertandingan.

Dalam kesempatan yang sama, ia juga mengakui bahwa perasaan akan campur aduk dalam dirinya setelah pertandingan. Namun selama bola masih bergulir dan pertandingan masih berjalan, hanya ada satu tujuan yang ingin ia capai: membawa Schalke menang, tak peduli seberapa sulit lawan yang mereka hadapi.

Di Matteo sepenuhnya sadar bahwa mengalahkan Chelsea bukanlah hal yang mudah. Karenanya, selain berusaha ia tidak lupa berdoa dan berharap agar Chelsea bermain di bawah standar. Karena memang hanya itu yang bisa ia lakukan. “Sebagai seorang pemain Anda dapat menentukan hasil dengan mencetak, menggagalkan, atau membantu pemain lain mencetak gol. Menjadi seorang manajer sangat berbeda. Anda memiliki strategi, yang kemudian harus Anda serahkan kepada kaki-kaki dan kepala para pemain,” ujar Di Matteo kepada FourFourTwo, ketika ditanya mengenai perbedaan menjadi pemain dan manajer Chelsea.

Komentar