Rooney dan Ballack: Atas Nama Angka 100

Cerita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Rooney dan Ballack: Atas Nama Angka 100

Salah satu hal paling membanggakan yang bisa dicapai oleh seorang pemain sepakbola adalah membela tim nasional. Terlebih lagi jika pemain yang bersangkutan mampu menjadi andalan di negaranya dan berhasil membela tim nasional sebanyak 100 kali. Itulah pencapaian yang berhasil ditorehkan oleh Wayne Rooney bersama tim nasional Inggris semalam.

Sebuah pencapaian besar, tentunya. Namun lagi, besar atau tidaknya sebuah prestasi adalah sesuatu yang relatif. Apa yang dipandang oleh Rooney sebagai sebuah pencapaian besar tidak ada artinya ketimbang, katakanlah, gelar juara Piala Dunia. Apa yang oleh Rooney didamba-dambakan pernah ditolak mentah-mentah oleh seorang legenda sepakbola Jerman.

Beberapa hari sebelum pertandingan melawan Slovenia, beberapa hari sebelum hari bersejarah itu tiba, media Inggris ramai memuat segala hal yang berhubungan dengan pertandingan ke-100 Rooney bersama tim nasional Inggris.

Kilas balik karir Rooney di tim nasional. Wawancara khusus. Momen-momen penting dan bersejarah. Bedah gol-gol terbaik. Statistik karir. Apapun. Bahkan, termasuk di antaranya adalah debat mengenai pantas atau tidaknya Rooney dipandang sebagai salah satu pemain terbesar sepanjang sejarah Inggris.

Rooney sendiri tidak menyembunyikan rasa bangganya atas pencapaian ini. Tidak pula ia berusaha untuk menyembunyikan bahagia yang ia rasa. Padahal, sebagaimana telah disebutkan di awal tulisan, semuanya serba relatif.

Sementara Rooney membutuhkan 100 pertandingan untuk bisa membanggakan diri, Toni Kroos boleh jadi hanya memerlukan tujuh laga saja untuk merasa bahagia; untuk menjadi juara Piala Dunia.

Sementara Rooney bisa dengan bangga menyebut dirinya sebagai satu dari sedikit pemain yang bisa membela tim nasional negara asal sepakbola sebanyak 100 kali (selain Billy Wright, Bobby Charlton, Frank Lampard, Ashley Cole, Bobby Moore, Steven Gerrard, David Beckham, dan Peter Shilton), Thomas Müller boleh berdalih “aku menghabiskan banyak waktuku merawat kuda, namun aku juga seorang juara Piala Dunia.”

Semua memang serba relatif. Tak ada ukuran pasti tentang besar kecilnya sebuah pencapaian. Semua tergantung kepada pembandingnya. Apa yang dibanggakan dan diidam-idamkan oleh Rooney tidaklah diinginkan oleh Michael Ballack. Ia menyudahi karirnya bersama tim nasional Jerman di angka 98 karena menolak tawaran dua pertandingan untuk menjadikannya genap 100.

Dua pertandingan yang secara khusus ditawarkan kepada Ballack tersebut dipandang sebagai sebuah penghinaan oleh sang pemain sendiri.

Pada tahun 2010, ban kapten tim nasional Jerman yang sejatinya merupakan milik Ballack dipindahkan ke lengan Philipp Lahm. Ballack merasa sakit hati karena pihak tim nasional, menurutnya, tidak melakukannya dengan hormat. Toh, bukan salah Ballack jika ia cedera dan tidak mampu membela tim nasional.

Deutscher Fussball-Bund (DFB, PSSI-nya Jerman) berusaha “menebus dosa”. Dua pertandingan ditawarkan kepada Ballack. Dua laga yang akan menyempurnakan jumlah pertandingannya bersama die Mannschaft. Dua pertandingan yang satu di antaranya adalah laga perpisahan untuk sang pahlawan.

Ballack menolak. Angka, menurutnya, tidaklah penting. Apa yang didambakan oleh Rooney, ia pandang sebagai sebuah penghinaan. Konteksnya tentu saja berbeda. Bagaimanapun, pandangan kedua nama mengenai pertandingan ke-100 bisa menjadi pengingat untuk kita semua: semuanya serba relatif.

Komentar