Mengenal Sculli, Mafia yang Menyaru Jadi Pemain Sepakbola

Cerita

by Aqwam Fiazmi Hanifan

Aqwam Fiazmi Hanifan

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Mengenal Sculli, Mafia yang Menyaru Jadi Pemain Sepakbola

“Ada mafia menyusup ke ultras dan para ultras adalah mafia dalam dirinya sendiri,”

itulah kalimat pembuka dalam laporan investigasi yang dilakukan harian La Repubblicca. Sepakbola Italia dan mafia memang tak bisa terpisahkan. Keberadaan organisasi mafia dalam sepakbola Italia bak seperti candu yang menyebar dan mengikat berbagai aspek dalam sepakbola.

Dalam kultur tribun misalnya, sudah jadi rahasia umum bahwa kelompok-kelompok ultras selalu berafiliasi dengan kelompok mafia atau kriminil tengik yang jadi incaran polisi. Di AC Milan ada Giancarlo Lombardi yang pernah mencoba membunuh Andrea Galliani.

Di Lazio ada Fabrizio Piscitelli, bandar narkoba yang menjadi pemimpin Irriducibilli. Di Juventus ada Loris Gancini pemimpin Viking Curva Sud yang ditengarai sebagai anggota mafia Cosa Nostra. Inter pun sama, pendiri Boys San yakni Caravita Franco adalah pentolan mafia klan Calabria dari Rappocciolo.

Dalam sebuah laporan La Republicca menyatakan bahwa hampir di setiap kelompok ultras di Italia, salah seorang pemimpinya pasti memiliki kedekatan dengan perkumpulan mafia dan rekam jejak kriminal yang buruk. Afiliasi dengan para mafia ini yang membuat pemain, pemilik klub atau fans biasa takut pada kelompok ultras. Namun hal itu tak berlaku bagi Giussepe Sculli.

Bagi penggemar Liga Italia nama ini tak begitu asing didengar terutama bagi fans Lazio dan Juventus. Sculli tenar bukan karena prestasi. Dia populer berkat keberaniannya yang melawan ultras Genoa. Kala itu, Sculli yang membela Genoa terpaksa dicerca fans sendiri setelah timnya kalah telak dari Siena dengan skor 4-0, padahal pertandingan baru berjalan satu babak.  Di saat jeda itulah fans Genoa mengamuk, memboikot pertandingan dan meminta semua pemain Genoa melepas jersey.

Para pemain pun menangis karena ketakutan. Namun siapa sangka dengan berani, Sculli menghampiri salah satu pemimpin kelompok ultras. Memiting lehernya dan menatap tajam si pemimpin itu. Dengan tegas ia berujar. "Aku tidak mau menuruti kalian. Jersey ini milik saya,!" sontak saja kerusuhan bisa dikendalikan dan ultras mundur secara teratur.

Kejadian ini membuat banyak pihak memuji Sculli. Beberapa media seperti Corriere dello Sport bahkan membuat liputan mendalam tentang pribadinya. Namun siapa sangka, keberanian yang dilakukan oleh Sculli tak ayal karena sosok ini memang hidup di sekitar lingkungan mafia Ndrangheta - salah satu klan mafia terbesar dan paling berpengaruh di dunia.

Tak hanya itu saja, darah mafia memang mengalir dalam tubuh Sculli. Pemain ini memiliki hubungan darah dengan Giuseppe Morabito, bos dari Ndrangheta. Bahkan Sculli adalah cucu yang paling dicintai Morabito.

Sebelum ditangkap tahun 2004, Morabito adalah sosok buronan paling dicari di Italia. Saat ditangkap Morabito mengakui bahwa dalam pelariannya dia selalu hadir di stadion saat Sculli bertanding. Berawal dari kebiasannya itulah Morabito bisa tertangkap oleh polisi.

Sebagai seorang pemain sepakbola, karir Sculli dicurigai sering bekerja sama dengan mafia untuk melakukan pengaturan skor. Dan benar saja,  pada tahun 2006, Sculli dinyatakan bersalah mengatur skor pertandingan Crotone melawan Messina pada pertandingan serie B musim 2001/2002. Terbukti pengaturan skor ini melibatkan sang kakek yakni Morabito. Akibat ulahnya ini dia di-banned delapan bulan di kompetisi sepakbola Italia.

Seolah tak kapok pada tahun 2011, Sculli pun tertangkap kembali melakukan pengaturan skor yang melibatkan Lazio, Lecce dan Genoa. Beredar foto-foto yang memperlihatkan Sculli berhubungan akrab dengan Safet Altic, kelompok kriminal Serbia yang dikenal sering melakukan pengaturan skor di Eropa. Sculli pun kembali dihukum.

Ya begitulah Sculli, gen mafia yang mendarah daging di dalam tubuhnya membuatnya tetap bebal dan angkuh layaknya mafia-mafia Italia selatan yang necis tapi keji. Sepakbola dijadikan sebagai kedok sifat buruknya itu. Cerita Sculli ini mungkin hanya bagian kecil dari keterlibatan organisasi kriminal dalam sepakbola. Di setiap negara pasti ada banyak cerita-cerita dengan alur dan pemeran yang sama. Namun jika kita berkaca pada diri sendiri, di negeri ini siapakan yang memerankan sosok mafia itu? pemain-kah? pelatih-kah? fans-kah? atau federasi?

sumber foto: la republicca.

Komentar