Pesimisme Paul Scholes Terhadap Kekuatan Manchester United

Cerita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Pesimisme Paul Scholes Terhadap Kekuatan Manchester United

Bekas gelandang Manchester United, Paul Scholes, bicara tentang salah seorang debutan yang akan bermain di Old Trafford pekan depan. Ia adalah Daley Blind, pemain timnas Belanda yang direkrut jelang akhir bursa transfer.

Dengan mahar 14 juta pounds, United berharap Blind bisa memperkuat lini pertahanan mereka pada musim ini. Blind merupakan pemain yang bisa bermain di sejumlah posisi seperti bek kiri, wing back kiri, dan gelandang bertahan.

Scholes, yang membuat 499 penampilan bersama Manchester United dalam karirnya, mempertanyakan penempatan Blind pada musim ini. Kehilangan Rio Ferdinand dan Nemanja Vidic, membuat United kehilangan stok bek yang sarat pengalaman.

Bek kiri yang menjadi tempat langganan Patrice Evra pun kini menganggur. Ditinggalkan ke Juventus, bek kiri United hanya diisi Luke Shaw yang cedera dan Marcos Rojo. Ada kemungkinan, Rojo ditempatkan lebih sebagai bek tengah dalam formasi tiga bek yang diusung Van Gaal.

Praktis, pos wingback kiri menjadi milip Ashley Young yang dianggap masih belum memahami peran barunya tersebut. Kepada Sunday Express, Scholes pun mengutarakan pendapatnya.

“Aku tak terlalu yakin, di posisi mana dia (Blind) akan bermain. Aku pikir, dia tak cukup kuat untuk beroperasi sebagai bek kiri di Inggris,” kata Scholes.

Pernyataan Scholes terbilang mengagetkan karena Blind dianggap sukses dipasang sebagai wingback kiri saat main di timnas Belanda.

“Satu-satunya tempat untuknya ada di lapangan tengah. Dia adalah pesepakbola dengan talenta yang sangat baik, tapi apakah dia adalah jawaban? Kita tunggu dan lihat apa yang akan terjadi,” ujarnya.

Komentar Scholes ini seperti merefleksikan rasa kurang percaya yang ada di dalam diri penggemar United. Meski dilatih oleh Louis van Gaal dengan segala prestasinya, toh ia masih memerlukan waktu untuk membenahi organisasi permainan.

Maklum saja, lini depan United kini begitu garang: Robin van Persie, Wayne Rooney, Falcao, Juan Mata, Angel di Maria, adalah kombinasi nama yang seharusnya mampu mencetak seratus gol dalam semusim.

Faktanya, hanya dua gol yang bisa dilesakkan Rooney dan kolega dalam dua pertandingan terakhir, sementara mereka kebobolan tiga gol. Sebuah anomali dalam sepuluh musim terakhir di mana United memiliki minus selisih gol.

Penampilan Marcos Rojo sendiri baru akan teruji dalam pertandingan menghadapi Queens Park Rangers sepekan ke depan. Sebuah penampilan yang begitu dinantikan melihat performa sang pemain di timnas yang menjanjikan.

Van Gaal tak akan merekrut pemain yang tidak sesuai dengan filosofinya. Maka, pembelian Rojo adalah opsi terbaik untuk mencapai filosofi Van Gaal di United.

Sebuah momentum di mana fans akan melihat Di Maria, Ander Herrera, Falcao, Marcos Rojo, Daley Blind, dan Luke Shaw di atas lapangan secara bersamaan, sekaligus memupus rasa ke-tidakpercayadiri-an fans terhadap United pada musim ini.

Tentu, jika filosofi tersebut belum terlihat andai semua pemain tersebut dimainkan, ada tanda tanya besar yang menggelayut di atas kepala fans. Apa yang sebenarnya terjadi dengan United? Jika hidup adalah roda yang berputar, agaknya, fans masih belum siap melihat The Reds Devil ada di roda terbawah terlalu lama.

Sumber gambar: independent.co.uk

Komentar