Ketika Sepakbola Dimainkan di Tengah Peperangan yang Tak Sudah

Buku

by Andreas W. Marbun

Andreas W. Marbun

Board of director.

Ketika Sepakbola Dimainkan di Tengah Peperangan yang Tak Sudah

Judul Buku: When Friday Comes: Football, War and Revolution in the Middle East

Penulis: James Montague

Penerbit: De Coubertin Books, London

Terbit: April 2008 (edisi pertama), Februari 2013 (edisi revisi)

Halaman: 302 halaman

Buku tentang sepakbola, yang ditulis berdasarkan pengalaman riset, reportase dan investigasi di berbagai negara, bukanlah barang baru. Ada banyak buku sepakbola yang disusun berdasarkan bahan-bahan yang dikumpulkan penulisnya sembari melakukan perjalanan melintasi batas-batas teritorial.

Para penggemar sepakbola di Indonesia yang gembar membaca sudah barang tentu tahu keberadaan "Memahami Dunia Lewat Sepakbola" karya Franklin Foer. Buku yang diterjemahkan dari "How Football Explains the World" ini menjadi salah satu buku cukup populer di kalangan pecinta sepakbola Indonesia. Terbit pertama kali pada 1994, buku itu diterjemahkan dan diterbitkan ke dalam bahasa Indonesia pertama kali pada 2006 silam.

Buku yang bahan-bahannya dikumpulkan Foer sembari bepergian ke berbagai belahan dunia itu cukup baik menggambarkan bagaimana fenomena globalisasi memang sudah berjalan sedemikian rupa, dan untuk banyak hal tak mungkin lagi orang memalingkan muka dari proses globalisasi. Melalui sepakbola, Foer dengan baik memperlihatkan bagaimana proses globalisasi itu berlangsung, dari negara Timur Tengah, Eropa Timur hingga Afrika.

Pada tahun yang sama dengan terbitnya buku Foer pertama kali, pada 1994, Simon Kuper juga menerbitkan buku "Football Againts the Enemy". Untuk menulis buku ini, Kuper bepergian ke sekitar 22 negara di berbagai benua. Dari Italia ke Afrika, dari Russia ke Amerika hingga ke beberapa negara di Amerika Selatan, tentu saja Brazil tak terlewatkan.

Dengan mewawancarai banyak sekali tokoh-tokoh sepakbola (dari pemain hingga pelatih, suporter hingga presiden federasi sepakbola), Kuper mencoba mendedahkan bagaimana sepakbola menjadi gema dari berbagai harapan dan ketakutan, mimpi dan cita-cita juga identitas jutaan orang yang mencintai sepakbola. Ia menggeledah bagaimana permainan sebuah kesebelasan nasional juga, hingga batas tertentu, mencerminkan impuls-impuls kebangsaan -- seperti identitas, kebudayaan dan tradisinya.

Satu dekade lebih setelah kedua buku itu terbit, Jonathan Wilson (yang masyhur karena bukunya yang lain, "Inverting the Pyramid") menerbitkan buku "Behind the Curtain: Football in Eastern Europe". Ia menjelajahi berbagai negara-negara Eropa Timur, dari pecahan Yugoslavia seperti Sarajevo, Hungaria, Rumania, Polandia, mendatangi derby-derby berdarah di Beograd hingga melacak reruntuhan Tembok Berlin.

Melalui bukunya itu, yang kurang populer dibandingkan buku "Inverting the Pyramid", Wilson bukan hanya memperlihatkan bagaimana sepakbola memang menjadi anak kandung yang sah dari kebudayaan masing-masing tempat, tapi juga memperlihatkan bagaimana sepakbola memang bisa menjadi kaca mata yang jernih untuk memandang apa yang sedang terjadi di sebuah wilayah.

Dua tahun setelah buku Wilson itu terbit, seorang jurnalis yang punya latar belakang pendidikan di bidang ilmu politik, James Montague, menerbitkan buku "When Friday Comes: Football in the War Zone". Buku yang terbit pertama kali pada 2008 ini mengisahkan perjalanan Montague bepergian di Timur Tengah untuk mengisahkan apa yang sedang terjadi di wilayah penuh pergolakan itu melalui (lagi-lagi) kacamata sepakbola.

Ide menulis buku ini pertama kali didapatkan Montague saat ia baru pindah ke Dubai, ibukota Uni Emirat Arab. Di sana, ia terperangah dengan berbagai pemandangan hibrid yang dipampangkan Dubai. Ia melihat bagaimana kehidupan supra-modern terhampar di tengah negeri yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam. Ia terperangah dengan bagaimana neoliberalisme yang kentara dibungkus oleh kebudayaan Islam.

Di tengah kegagapan budaya yang dialaminya itu, sembari bepergian ke berbagai wilayah di Timur Tengah, Montague dengan cepat menemukan satu hal: sepakbola ternyata meresap dengan begitu kuat di masyarakat Timur Tengah. Dalam berbagai lapisan sosial, orang-orang di Timur Tengah mengakui keindahan permainan ini dan hingga batas tertentu akhirnya bisa menoleransi berbagai hal polemis yang mencuat dari permainan ini.

Montague, misalnya, mengetahui bagaimana kelompok ulama senior di Arab Saudi memang cenderung tidak menyukai sepakbola. Mereka bahkan mencoba melarang permainan ini, terutama mereka tak menyukai bagaimana perayaan sebuah gol dirayakan dengan gila-gilaan. Tapi, en toch, itu tak bisa menghambat perkembangan sepakbola di Arab Saudi. Bahkan sepakbola Arab Saudi merupakan salah satu yang terkuat dan stabil prestasinya di seantero Asia.

Sebagaimana tiga penulis sepakbola yang sudah saya sebut sebelumnya di awal tulisan, Montague juga melakukan perjalanan panjang selama bertahun-tahun untuk mengumpulkan bahan-bahan tentang sepakbola di kawasan Timur Tengah. Ia pergi ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Lebanon, Yaman, Suriah, Mesir, tak terkecuali ke wilayah-wilayah berbahaya di sekitar Isral dan Palestina, termasuk di Jalur Gaza.

Dari keseluruhan bagian buku ini, bagian-bagian paling mengesankan menurut saya selalu muncul ketika Montague melaporkan apa yang ia lihat di wilayah-wilayah yang sedang diselimuti konflik dan pertikaian. Ketika berbicara tentang sepakbola di negara-negara yang relatif aman dan makmur, seperti Arab Saudi atau Qatar, misalnya, saya merasa itu tidak terlalu menarik.

Berbeda jika ia sedang mengisahkan apa yang terjadi di berbagai wilayah-wilayah konflik. Aroma ketegangan, nuansa konflik, juga bau asap marabahaya, hingga berbagai humor gelap terhampar dengan kaya.

Sangat menarik bagaimana Montague mengisahkan bagaimana sepakbola dimainkan di Lebanon, wilayah yang hingga hari ini tak henti-hentinya didera oleh peperangan antar klan politik. Dengan menakjubkan ia bercerita bagaimana kesebelasan-kesebelasan lokal lahir sebagai manifestasi berbagai kelompok politik, agama, ras hingga sekte-sekte keagamaan.

Kita sering mendengar bagaimana Syiah berperang melawan Suni, bagaimana Fatah dan Hamas berseteru, juga bagaimana Kurdi melawan dominasi rezim Saddam Hussein, misalnya. Bayangkan jika semua kelompok itu bertemu di lapangan hijau, dan itu terjadi hampir tiap pekan di Lebanon.

"Setiap hari Sabtu adalah laga derby di Lebanon," begitu kira-kira Montague menggambarkannya. Ada saja kesebelasan berlatar belakang Sunni berlaga dengan Syiah, atau Hezbullah, atau Kristen Maronit, atau sekte keagamaan Druze.

Membaca bagian-bagian buku ini, khususnya di wilayah-wilayah konflik, merupakan cara yang cukup baik untuk memahami bahwa Timur Tengah itu jamak, plural, bukan tunggal.

Mengidentikkan Timur Tengah sebagai Islam, bukan hanya tidak memadai, tapi juga keliru. Lagi pula, apa yang disebut Islam itu sendiri, dalam praktik keseharian di Timur Tengah, sangatlah jauh dari sifat tunggal. Ada Syiah, ada Sunni, ada berbagai sekte dan mazhab, juga ada berbagai etnis dan ras, juga dibelah oleh berbagai partai politik yang, kendati sama-sama Islam sekali pun, tak menghalangi mereka untuk bertikai satu sama lain.

Bahkan Israel dan Yahudi sekali pun, yang di sini seringkali dirujuk sebagai kesatuan, pada praktiknya sebenarnya tidak tunggal, melainkan plural, dan di sana-sini juga memeram potensi pertikaian yang tidak mudah diselesaikan. Belum lagi jika merujuk keberadaan orang-orang Arab-muslim yang tinggal di wilayah Israel. Selalu menjadi hal yang menyederhanakan jika men-tunggal-kan sesuatu yang sebenarnya plural, jamak dan beragam.

Pertikaian antara kesebelasan/pemain Israel yang berlatar belakang Mizrahi (Yahudi yang leluhurnya mengungsi di wilayah-wilayah Timur Tengah), atau kadang disebut Yahudi-Arab, dengan Ashkenazi (Yahudi yang leluhurnya bermigrasi ke Eropa) juga bukannya tidak ada.

Uraian mengenai Bnei Sakhnin, kesebelasan di Israel yang punya identitas sebagai kesebelasannya orang-orang Arab berkewarganegaraan Isral (dan sebagian terbesar muslim, baik Sunni atau Syiah), bisa menjelaskan hal itu dengan baik. Ketika Bnei Sakhnin menjuarai Piala Negara pada 2004, itu merupakan kali pertama orang-orang Arab yang menjadi warga negara Israel bisa merasakan kemenangan yang luar biasa.

Saat itu, para pemain Bnei Sakhnin mayoritasnya beragama muslim. Hanya ada tiga orang Yahudi saat itu yang menghuni skuat. Manajernya sendiri adalah seorang Yahudi. Dan mereka menyanyikan lagu kebangsaan Israel juga.

Dengan nada yang sama, guna mematahkan anggapan ke-tunggal-an itu, kita bisa melihat apa yang terjadi dengan kesebelasan sepakbola perempuan Palestina. Jamak orang di sini menganggap Palestina itu identik dengan Islam, padahal itu tak selamanya benar. Ada banyak orang Kristen dan Yahudi yang juga tinggal di wilayah Palestina atau bahkan mendukung perjuangan Palestina dari pendudukan Israel.

Cerita Montague tentang kesebelasan perempuan Palestina bisa dengan sangat baik, sekaligus mengharukan, mematahkan anggapan ketunggalan Palestina itu. Didera oleh berbagai hambatan dan rintangan, sebagian karena persoalan politik dan sebagiannya lagi karena persoalan doktrin keagamaan, para pemain sepakbola kesebelasan Palestina berjuang dengan caranya sendiri untuk tampil, bermain dan tentu saja membela panji-panji Palestina.

Dan tahukah anda, bahwa kesebelasan perempuan Palestina dipimpin oleh Honey Thaljieh, seorang Kristen, yang dengan penuh semangat dan dedikasi memimpin rekan-rekannya?

Ada banyak cerita menarik terkait bagaimana sepakbola dipraktikkan dalam keseharian yang penuh persoalan dan pertikaian. Tak sedikit humor gelap terselip di dalamnya.

Misalnya, laporan Montague tentang sepakbola di Yaman. Salah satu persoalan di sana adalah penggunaan meluas daun khat. Ini semacam obat-obatan tradisional yang punya pengaruh adiktif. Mereka mengunyahnya dalam kehidupan sehari-hari, mungkin seperti sirih di beberapa wilayah di Indonesia. Tidak terkecuali para pemain sepakbola.

Masalahnya, efek khat ini cukup "memabukkan". Dengan cepat, khat bisa memompa semangat dan adrenalin, tapi setelah itu dengan cepat mereka mengalami kelesuan. Pengaruh buruk khat inilah yang membuat Drug Enforcement Administration (DEA), lembaga yang mengurusi persoalan narkoba di Amerika, memasukkan khat sebagai zat yang harus diawasi secara ketat. Tidak heran jika zat ini dilarang di berbagai negara, seperti Kanada dan Jerman. Anda bisa bayangkan seperti apa para pemain yang getol mengkonsumsi khat.

Montague dengan ciamik mengisahkan detail-detail mengenai hal-hal sehari-hari seperti khat ini dalam tulisannya. Dan dengan itulah buku ini menjadi kaya dengan warna dan nuansa.

Cerita-cerita Montague perihal bagaimana ia melintasi berbagai perbatasan juga sangat menarik untuk disimak. Bagian-bagian ini memperlihatkan dengan baik bahwa, kendati mengambil tema sepakbola, buku ini juga bisa diperlakukan sebagai buku perjalanan (travelogue) yang tidak ada ruginya dibaca oleh para traveler yang merencanakan perjalanan ke Timur Tengah.

Montague seringkali diselamatkan atau dibantu oleh "statusnya" sebagai penulis/jurnalis sepakbola tiap kali menghadapi kesukaran mengurus persoalan administrasi di perbatasan atau saat mencari tumpangan di tengah jalan pada malam hari. Di sini, sepakbola tampil sebagagai bahasa dunia yang bisa menyatukan siapa saja ke dalam percakapan yang akrab dan intim tanpa memandang agama, kelas dan asal-usul paspor.

Tapi tidak berarti kemudian sepakbola bisa diberi beban untuk memecahkan persoalan konflik di Timur Tengah. Benar bahwa Sunni dan Syiah di Irak bisa saling mendukung saat kesebelasan nasional sedang bertanding, benar bahwa pendukung Fatah dan Hamas bisa berdamai saat kesebelasan Palestina berlaga melawan negara lain. Tapi tidak serta merta persoalan bisa diselesaikan dengan sepakbola.

Sejak bagian awal bukunya, Montague sudah memberi wanti-wanti: sepakbola bukanlah panasea, semacam obat mujarab, untuk memecahkan berbagai persoalan yang mendera Timur Tengah. Sama sekali tidak. Dan Montague juga sudah memberi peringatan sejak awal, sepakbola di Timur Tengah memang penting, bisa mempersatukan, tapi persatuan itu tak selamanya bisa langgeng di luar lapangan dan di luar stadion. Politik dan berbagai kepentingan ekonomi telah memecah berbagai hal di Timur Tengah dan itu semua menjelam menjadi konflik yang tak kunjung sudah sebagaimana kita ketahui melalui berbagai pemberitaan.

Sepakbola itu indah, kira-kira demikian yang ingin dikatakan Montague. Dan keindahan itu seringkali tak berarti di bawah politik yang kejam, ambisius dan mematikan.

Komentar