Rekam Jejak Gede Widiade di Sepakbola Indonesia

Berita

by Fahmin

Fahmin

Playing football with his hands. Writing and playing PlayStation.

Rekam Jejak Gede Widiade di Sepakbola Indonesia

Hari Rabu malam (06/02), bertempat di kantor Persija Jakarta, Duren Tiga, Jakarta Selatan, secara mengejutkan Gede Widiade mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Direktur Utama Persija Jakarta, jabatan yang diembannya sejak 2017 lalu. Bersama dengan Rafil Perdana, Chief Operating Officer (COO) Persija, keduanya secara resmi mundur dari jabatan mereka per 1 Februari lalu.

“Kami anggap cukup tugas kami di Persija. Kami menyatakan mengundurkan diri sebagai pengurus baik secara yuridis maupun struktural di Persija Jakarta,” terang Gede seperti di kutip dari Tempo.

Kedatangan Gede Widiade memang seperti angin segar bagi Persija. Macan Kemayoran yang dulunya harus berpindah-pindah tempat latihan, pada era Widiade, punya lapangan tetap untuk berlatih beserta mes di kompleks TNI Angkatan Udara di Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Persija juga punya bus tim untuk keperluan operasional. Bahkan, Gede menyediakan sebuah rumah yang digunakan untuk kantor manajemen Persija di kawasan Duren Tiga. Tak cukup sampai di situ, Gede juga berhasil mendatangkan beberapa sponsor bagi Persija.

Melihat kontribusi dan apa yang sudah dia berikan pada Persija, keputusan pengunduran dirinya dari manajemen Persija sangat disayangkan oleh The Jakmania.

Nama Gede Widiade bukan nama baru di persepakbolaan Indonesia. Sebelum datang menggantikan Ferry Paulus sebagai Direktur Utama Persija pada 2017 lalu, kiprah dan sosok Gede Widiade di ranah sepakbola nasional lekat dengan sepakbola Kota Surabaya. Kendati namanya menyiratkan dari Bali, kecintaan Gede pada Surabaya memang besar. Dia memang berasal dari pulau Dewata, namun Gede lahir dan besar di Surabaya.

“Saya memang tinggal di Jakarta, tapi hati saya tetap Surabaya,” ujarnya seperti dikutip dari laman Bola.com.

Pada musim 2011/12 dan 2012/13, saat Indonesia mengalami dualisme kompetisi, dia menjabat sebagai CEO Persebaya 1927 atau yang lebih dikenal Persebaya IPL. Tak beranjak dari Surabaya, Gede Widiade sempat juga menjadi CEO Bhayangkara ISL dengan membeli sebagian besar saham PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) di tahun 2016. Di dua kesebelasan asal Surabaya ini dia tidak segan-segan menggelontorkan uang demi kebutuhan tim.

“Saya punya angan-angan, sepakbola Surabaya berjaya dan mandiri. Itulah mengapa saya merasa terpanggil untuk masuk dan terlibat langsung di dalamnya,” tutur pria penggemar berat Barcelona itu.

Gede sendiri berulang kali membantah bahwa dia masih memiliki saham di Bhayangkara FC. Namun meski begitu, banyak pihak yang meragukan dirinya melepas kesebelasan ini begitu saja. Banyak yang menduga bahwa Gede masih memiliki saham di Bhayagkara. Hal itu terbukti seringnya dia hadir di acara kesebelasan Bhayangkara.

Di luar klub sepakbola Surabaya, Gede diketahui pernah mengelola tim asal Jawa Timur lainnya, yakni PS Mojokerto Putro. Dia sukses mengakuisisi sebanyak 90 persen saham kesebelasan tersebut pada 2013. Dia lantas mengubah nama PS Mojokerto Putro menjadi Rheza Mojokerto Putro. Nama Rheza sendiri merupakan nama anak laki-laki dari pria berdarah Bali tersebut.

Pada Januari 2018 dia bahkan dikabarkan sempat diangkat menjadi CEO peserta Liga 2, Persika Karawang, sebelum ia membantahnya.

Di Persija sendiri meskipun dia berstatus sebagai direktur utama, Gede Widiade bukanlah pemilik saham mayoritas Persija Jakarta. Dia berkali-kali mengatakan bahwa statusnya hanya sebagai profesional di tubuh Persija dengan menyebut hanya sebagai "pegawai".

“Saya dikontrak selama jangka waktu yang ada di akta. Empat tahun sampai lima tahun. Tapi sebelum itu saya bisa diberhentikan kapan saja; besok bisa, lusa bisa,” ujarnya seperti dikutip dari Goal.

Berdasarkan akta yang ada di PT Persija Jaya Jakarta, memang Gede sama sekali tidak memiliki saham. Mayoritas pemegang saham tersebut adalah PT Jakarta Indonesia Hebat (JIH) yang memegang saham hingga 80%. Dalam PT JIH sendiri terungkap juga kalau Joko Driyono yang mempunyai saham terbesar di sana. Artinya, secara legal pria yang akrab disapa Jokdri tersebut memang merupakan pemilik Persija.

Baca selengkapnya: Joko Driyono Menuju PSSI Satu

Jokdri sendiri saat ini sedang dalam proses intensif pengawasan Satgas Anti-Mafia Bola terkait adanya dugaan pengaturan skor yang masif terjadi di sepakbola Indonesia.

Lalu, apakah pengunduran Gede Widiade ada kaitannya dengan kejadian yang akhir-akhir ini menyeret nama Jokdri ke permukaan?

Tidak dijelaskan alasan mundurnya pria asal Bali ini dari manajemen Persija Jakarta. Beberapa media memang berspekulasi bahwa mundurnya Gede Widiade dari manajemen Persija ada kaitannya dengan dokumen keuangan yang diduga milik Persija yang secara sengaja diberangus.

Namun hal-hal yang diungkapkannya dalam konferensi pers seperti pemindahan mes Persija yang tanpa sepengetahuan dirinya, digesernya statusnya sebagai Dirut Persija, serta perubahan-perubahan dan restrukturisasi manajemen di tubuh Persija sepertinya menjadi alasan kuat mengapa dia akhirnya memutuskan untuk mundur dari manajemen Persija.

“Pengunduran diri ini bukan bersifat politis tapi ini semua normal. Saya mohon maaf kepada semuanya, terutama The Jakmania, sebagai pemain ke-12,” ucapnya.

Satu hal yang pasti, pada konferensi pers semalam, dia menyampaikan kelegaannya sebab dia telah memenuhi target yang dibebankan padanya. Di bawah arahannya, Persija melewati musim terbaiknya sebagai sebuah kesebelasan. Setidaknya dia membawa Persija menjadi juara Boost Sport Fix Super Cup, Piala Presiden, dan yang paling prestisius membawa pulang trofi Liga 1 Indonesia 2018, trofi yang terakhir kali mereka raih 17 tahun lalu.

Komentar