PSG Gagal Lagi

Berita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

PSG Gagal Lagi

Kekesalan Nasser Al-Khelaifi memuncak. Presiden Paris Saint Germain (PSG) itu tak lagi bisa menyembunyikan kekecewaannya tatkala melihat PSG tersingkir di 16 besar Liga Champions musim ini. Dua kekalahan dari Real Madrid menjadi faktor dominan yang membuat PSG gagal melaju lebih jauh di Liga Champions.

Pada pertandingan leg pertama di Santiago Bernabeu, PSG tak berkutik saat dikalahkan Madrid 1-3. Penderitaan Les Parisiens berlanjut di leg dua yang berlangsung di Parc des Princes, Rabu (7/3) dini hari WIB. Dalam pertandingan tersebut, PSG lagi-lagi kalah dari Madrid dengan skor 1-2. Dua kekalahan tersebut memastikan PSG tersingkir dengan kekalahan agregat 2-5 dari Madrid.

"Kami sama sekali tak senang dengan hasil ini. Kami sangat kecewa," kata Al-Khelaifi kepada L`Equipe.

Al-Khelaifi melanjutkan, kekalahan 1-3 dari Madrid di leg pertama seharusnya bisa dibalas PSG saat melakoni pertandingan leg dua. Ada banyak keuntungan yang seharusnya bisa diambil PSG di leg dua, selain karena bermain di kandang sendiri, selisih ketinggalan mereka juga tidak terlalu lebar. PSG cukup menang dengan skor 2-0 untuk lolos ke perempat final.

Sayang, keinginan Al-Khelaifi melihat PSG bangkit di leg dua tak terwujud. Meski di pertandingan babak pertama sempat mendominasi permainan, namun dua gol dari Cristiano Ronaldo dan Casemiro hanya mampu dibalas PSG melalui gol semata wayang Edinson Cavani.

"Di babak pertama, kami mendominasi. Tapi sayangnya tidak ada gol yang kami cetak. Kami cuma kurang gol saja. Dengan satu gol di babak pertama, sebenarnya pertandingan akan berubah. Kartu merah Verratti membunuh peluang kami," sambungnya.

Tak salah bila Al-Khelaifi kecewa berat dengan hasil yang diraih PSG di Liga Champions musim ini. Bagaimana tidak, sejak Al-Khelaifi mengambil alih kepemilikan klub pada Oktober 2011 lalu, pencapaian terbaik PSG di Liga Champions mentok di perempat final. Bahkan, dalam dua musim terakhir, Les Parisiens selalu tersingkir di fase 16 besar.

Padahal, di bawah kepemimpinan Al-Khelaifi sebagai pemilik baru klub, PSG memiliki ambisi besar untuk menaklukkan panggung Eropa. Berbagai upaya untuk merealisasikan tersebut pun dilakukan dengan mendatang pelatih berkualitas seperti Carlo Ancelotti hingga Unai Emery. Selain itu, PSG pun tak segan menggelontorkan dana besar untuk mendatangkan pemain bintang ke Parc des Princes.

Dilansir dari situs Transfermarkt.com, sejak tahun 2011, PSG diperkirakan telah mengeluarkan dana hingga 865,15 juta euro untuk mendatangkan pemain berlabel bintang sekelas Zlatan Ibrahimovich, Thiago Silva, Angel Di Maria, hingga Neymar.

Langkah Al-Khelaifi menjadikan PSG sebagai kesebelasan tim bertabur bintang setidaknya tak sia-sia bila patokan prestasi diukur dari pencapaian di ajang domestik. Sebab, sejak kepemimpinan Al-Khelaifi, PSG menjelma sebagai kesebelasan super di pentas domestik. Terbukti dengan pencapaian PSG yang meraih 11 gelar di ajang domestik (empat gelar Ligue 1, tiga Coupe de France, lima Coupe de la Ligue, dan lima Trophee des Champions).

Tapi di Liga Champions, PSG belum menghasilkan apa-apa. Dalam upayanya meraih kejayaan di pentas Liga Champions, PSG kerap menemui kesulitan. Hal tersebut membuktikan bahwa mengeluarkan uang yang banyak tak menjamin sebuah kesebelasan bisa segera meraih kesuksesan sesuai yang diharapkan.

***

Selain skuat mumpuni, dan pengalaman bermain di Liga Champions, tradisi pun tak dimungkiri menjadi faktor lain yang memengaruhi sebuah kesebelasan bisa berprestasi di Liga Champions. Dalam sejarah perjalanan klub, PSG bukanlah kesebelasan dengan tradisi hebat di Liga Champions.

Pencapaian tertinggi PSG hanya mencapai semifinal pada musim 2003/04. Tentu berbeda dengan Real Madrid, Bayern Muenchen, Barcelona, atau bahkan Juventus yang memiliki tradisi lebih baik di Liga Champions, sehingga bisa menjadi langganan juara di ajang tersebut.

Tapi, bukan berarti PSG tidak punya peluang untuk memenangkan trofi Liga Champions suatu saat nanti. Kuncinya, PSG perlu bersabar, karena memenangkan Liga Champions bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan proses yang cukup panjang untuk mencapai kejayaan tersebut.

Madrid misalnya, meski mereka berstatus sebagai pengoleksi gelar juara terbanyak Liga Champions, tetap ada proses yang dilalui Madrid sebelum mencapai kejayaan tersebut. Bahkan, dalam beberapa periode Los Blancos sempat juga mengalami kegagalan demi kegagalan dalam upaya meraih gelar Liga Champions. Pada musim 2003/2004 sampai 2009/2010, Madrid selalu terhenti di babak 16 besar. Sebelum menjuarai pada 2014, Madrid pun harus menunggu selama 12 tahun untuk kembali merasakan gelar juara Liga Champions.

"Itu (kembali tersingkir di Liga Champions) kekecewaan besar untuk Paris, untuk klub, pemain, dan fans. Kami perlu menenangkan diri dan berpikir bagaimana meningkatkan tim. Menjuarai Liga Champions membutuhkan proses yang panjang, Anda tidak bisa melakukan itu dalam semalam. Tapi, kami berada di jalur yang tepat untuk meraihnya," tukas Al-Khelaifi.

Komentar