Pada Akhirnya, Indonesia Tetap Menangis (Sedih)

Berita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Pada Akhirnya, Indonesia Tetap Menangis (Sedih)

Dalam dua turnamen multinasional akhir yang diikuti oleh Indonesia, khususnya Asia Tenggara, kita kerap menyaksikan para pemain Indonesia menangis seusai laga. Namun, apakah maksud dari tangisan para pemain timnas Indonesia tersebut?

Tangisan seseorang bisa memiliki banyak makna. Ada kalanya tangisan adalah ungkapan kesedihan dari seseorang, karena merasa kecewa atau tidak puas akan sesuatu. Tapi, ada kalanya juga tangisan adalah bentuk dari ungkapan bahagia, karena merasa berhasil meraih sesuatu yang diinginkan.

Para pemain timnas Indonesia kerap mengeluarkan tangisan seusai laga. Para pemain, kerap terlihat tertunduk setelah pertandingan selesai, dan mengeluarkan tangisan, bahkan kadang sampai berderai air mata. Pernahkah terpikir apa maksud dari tangisan para pemain timnas Indonesia tersebut?

Dalam ajang Piala AFF 2016, setelah laga melawan Thailand di Stadion Rajamangala, para pemain Indonesia tertunduk dan menangis. Beberapa ada yang menutup matanya, tapi beberapa juga ada yang tidak ragu-ragu membuka wajahnya, dan menangis sejadi-jadinya dengan memalingkan pandangan ke arah udara.

Hal yang sama kembali terlihat dalam ajang SEA Games 2017. Para pemain timnas U22 Indonesia kembali menangis. Hampir serupa dengan ekspresi yang ditampakkan para pemain Indonesia dalam ajang Piala AFF 2016, para pemain timnas U22 pun ada yang tertunduk dan menangis, ada juga yang tidak malu-malu menengadahkan wajah mereka ke udara, menangis sejadi-jadinya.

Pernahkah terpikir apa maksud dari tangisan mereka tersebut? Bahagia, ataukah sedih? Jika melihat dari situasi yang mereka alami saat itu, itu adalah suasana penuh sedih dan haru. Pada final Piala AFF 2016, Indonesia kalah dari Thailand. Sedangkan dalam babak semifinal SEA Games 2017, timnas U22 Indonesia takluk atas timnas U22 Malaysia. Tidak diragukan lagi, tangisan mereka adalah tangisan kesedihan.

Kesedihan itu begitu tampak. Kegagalan dalam meraih trofi, sesuatu yang akrab dengan Indonesia selama ini, mewujud dalam sebentuk tangisan sedih dari para pemain. Mereka sedih karena tidak bisa memberikan sesuatu untuk negara yang mereka cintai. Mereka sedih karena gagal mengantarkan Indonesia meraih trofi. Kesedihan yang bisa diwajarkan ketika ada sesuatu hal yang gagal diraih, padahal sebenarnya hal itu bisa diraih.

Lalu, apakah kita harus larut dalam kesedihan tersebut? Tentu tidak. Kegagalan hari ini adalah keberhasilan di hari esok. Kita boleh gagal hari ini, namun di hari esok, kita bisa meraih keberhasilan dengan catatan kita mau belajar dari kegagalan hari ini. Indonesia harus berusaha untuk mengubah tangisan sedih itu menjadi tangisan bahagia. Bahagia karena meraih trofi, bahagia karena mencapai sesuatu yang diidam-idamkan oleh masyarakat, yaitu gelar juara.

Itu semua bisa terjadi, asal Indonesia belajar dari kegagalan yang dicapai hari ini, dan semua pihak harus mau melakukannya. Jika tidak, maka jangan harap tangisan sedih ini akan berubah menjadi tangisan bahagia di masa depan. Jangan lupakan pula, ini baru level Asia Tenggara. Masih ada level Asia dan dunia yang masih harus dijangkau oleh Indonesia di masa depan.

Tetap semangat, Indonesia!

Potret dukungan suporter timnas U22 Indonesia

(sf)

Komentar