FIFA Luncurkan Aturan Baru untuk Cegah Aksi Rasisme di Piala Konfederasi

Berita

by Abelio Pramayoga

Abelio Pramayoga

True football fans and an introvert writer. #RESPECT

FIFA Luncurkan Aturan Baru untuk Cegah Aksi Rasisme di Piala Konfederasi

Aksi rasisme di lapangan belakangan masih sering terjadi. Seperti yang dialami pemain Pescara asal Ghana, Sulley Muntari, bulan lalu yang mendapat perlakuan rasisme karena warna kulitnya. Ia akhirnya berjalan keluar lapangan dan tak menyelesaikan pertandingan sebagai bentuk protes kepada wasit yang memimpin saat itu karena ia diberi kartu kuning setelah melaporkan perlakuan tersebut. Muntari bahkan sempat mengancam akan melakukan hal itu lagi jika ada perlakuan yang sama dan mengajak pemain yang seperti dirinya untuk melakukan aksi tersebut.

Jelang perhelatan Piala Konfederasi 2017, tindakan rasisme dikhawatirkan masih akan menjadi masalah bagi Rusia selaku tuan rumah kompetisi tersebut. Apalagi mereka juga akan menggelar Piala Dunia setahun setelahnya.

Baca juga: Setiap Hari Rasisme Itu Selalu Ada dan (Sebenarnya) Bisa Dihentikan

Karenanya, FIFA menindaklanjuti isu ini dengan merilis aturan baru untuk wasit yang memimpin pertandingan. Wasit kini bisa menghentikan pertandingan jika mereka melihat ada indikasi tindakan diskriminasi dari penonton melalui prosedur tiga langkah. Tiga langkah tersebut dimulai dari menghentikan sejenak pertandingan dan memberikan peringatan kepada penonton untuk menghentikan aksi diskriminasi mereka. Jika tindakan diskriminasi masih ditemukan, maka prosedur kedua diberlakukan yaitu menunda pertandingan tersebut sampai waktu yang ditentukan. Terakhir, wasit berhak membatalkan pertandingan jika diskriminasi masih berlanjut.

Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengatakan ini merupakan penemuan inovatif dari pihaknya untuk menghentikan kasus tindakan diskriminasi di lapangan berdasarkan beberapa kasus yang terjadi belakangan.

“Pekerjaan kami [regulasi pencegahan] yang sudah diterapkan di semua pertandingan kualifikasi FIFA untuk pertama kalinya akan kami terapkan di turnamen FIFA. Bersamaan dengan perilisan aturan prosedur tiga langkah ini, ini merupakan penemuan terbaru kami untuk memerangi tindakan diskriminasi secara global yang akan dimulai di Piala Konfederasi 2017,” ungkap Infantino seperti dilansir Irish Examiner.

Selain merilis aturan tersebut, FIFA juga berencana menempatkan tim observasi tindakan diskriminasi pada Piala Konfederasi nanti. Mereka akan dilatih dan berkoordinasi bersama Football Against Racism Europe Network (Farenet) untuk mengawasi dan mengumpulkan bukti-bukti tindakan diskriminasi di lapangan. Bukti itu kemudian diserahkan komite kedisiplinan FIFA untuk bahan evaluasi.

“Kedua program akan menjadi alat tambahan bagi wasit dan ofisial pertandingan untuk mencegah tindakan diskriminasi dan memastikan atmosfer pertandingan tetap berjalan adil dan terhormat,” tandas Infantino dikutip BBC Sport.

Dengan aturan tersebut, Piala Konfederasi 2017 dan Piala Dunia 2018 di Rusia akan menjadi negara pertama yang menerapkan aturan tersebut. Rencananya, aturan ini akan dijalankan secara bertahap di laga persahabatan atau laga internasional lainnya.

Komentar