Tentang Sistem Penalti "ABBA" dan Efeknya Kelak di Masa Depan

Berita

by Sandy Firdaus 164267

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Tentang Sistem Penalti "ABBA" dan Efeknya Kelak di Masa Depan

Percayakah Anda bahwa 60% babak adu penalti dimenangkan oleh tim yang dapat giliran menendang pertama?

Mungkin sekilas hal ini adalah hal yang tampak ngawur dan tidak berdasarkan fakta ilmiah. Tapi, angka 60% ini muncul setelah peneliti dari London School of Economics and Political Science melakukan sebuah penelitian tentang hal ini. Hasilnya, muncullah angka tersebut, bahwa 60% babak adu penalti dimenangkan oleh tim yang mengambil tendangan pertama. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Hasil penelitian tersebut menggambarkan bahwa faktor psikologis adalah faktor utama yang membuat tim yang dapat giliran menendang pertama lazim memenangkan babak adu penalti. Tim yang mendapat giliran menendang kedua, akan terbebani secara psikis sehingga mereka kerap kali gagal menang dalam babak adu penalti. Inilah mengapa ketika adu penalti, kadang bukan kemampuan menendang yang menentukan, melainkan mental.

Akhirnya, untuk memecahkan bias statistik tersebut, FIFA mengusulkan sebuah skema baru dalam babak adu penalti. Skema ini mirip dengan skema tiebreak dalam permainan tenis, yaitu skema "ABBA". Begini kira-kira cara kerja skema "ABBA". Tim A yang dapat giliran menendang pertama akan menendang, lalu dilanjut oleh tendangan kedua tim B. Jika biasanya tendangan akan kembali dilakukan tim A, maka dengan sistem "ABBA" ini, tendangan dilanjutkan kembali oleh tim B.

Singkatnya begini: A menendang, dilanjutkan oleh B, lalu dilanjutkan lagi oleh B, baru kembali ke A. Atau skemanya bisa dibalik: B menendang, dilanjut ke A, kemudian A menendang lagi, baru dilanjut ke B. Dengan skema ini, diharapkan angka 60% yang merujuk kepada kemenangan tim yang menjadi penendang pertama dalam babak adu penalti dapat berubah.

"Statistik menunjukkan bahwa 60% babak adu penalti dimenangkan oleh tim yang menjadi penendang pertama. Kami percaya dengan skema "ABBA" ini, bias statistik tersebut akan berubah dan kami akan segera menguji skema baru ini," ujar Stewart Regan, anggota dari IFAB (badan yang mengatur tentang peraturan sepakbola) dilansir dari The Telegraph.

Penjelasan lebih dalam tentang peran IFAB dapat dibaca di sini.

Skema "ABBA" ini pun sudah diuji dalam turnamen Piala Eropa Perempuan U17 yang berlangsung pada Mei 2017. Timnas perempuan Jerman U17 menjadi tim yang pertama kali memenangkan babak adu penalti dengan skema "ABBA" ini. Mereka melakukannya kala menaklukkan timnas perempuan Norwegia U17 dalam babak semifinal.

Skema ini kembali dilangsungkan dalam perhelatan Piala Dunia U20 yang digelar di Korea Selatan pada 20 Mei sampai 11 Juni 2017 mendatang. Pertandingan Portugal dan Uruguay adalah pertandingan pertama di Piala Dunia U20 yang harus diselesaikan lewat babak adu penalti berskema "ABBA" ini.

Babak semifinal antara Uruguay dan Venezuela pun harus diselesaikan lewat penalti berskema "ABBA" kembali. Kali ini, Veenzeula-lah yang memenangkan babak adu penalti ini dan berhak melaju ke babak final Piala Dunia U20, menghadapi Inggris yang mengalahkan Italia di babak semifinal.

Sampai saat ini, skema "ABBA" ini masih masuk dalam tahap pengujian. Ia masih akan dicoba dalam beberapa laga timnas junior, sebelum akhirnya bisa diterapkan dalam ajang-ajang besar macam Piala Dunia timnas senior ataupun gelaran turnamen konfederasi besar lain macam Piala Eropa timnas senior, ataupun Copa America timnas senior. Setidaknya, IFAB masih memantau apakah aturan ini akan membuat babak adu penalti berjalan lebih adil bagi kedua tim atau tidak.

foto: @John_Sib

Komentar