Hanya di Inggris Falcao Tak Bisa Cetak 30 Gol

Berita

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Hanya di Inggris Falcao Tak Bisa Cetak 30 Gol

Radamel Falcao adalah penyerang yang menakutkan. Catatan golnya di setiap kesebelasan yang pernah ia bela, kecuali kesebelasan Liga Primer Inggris, mungkin bisa menggambarkan hal tersebut.

Falcao adalah penyerang yang menghabiskan masa mudanya di River Plate, salah satu klub besar di Argentina yang terkenal akan perseteruannya dengan Boca Juniors. Di River, ia mencatatkan 36 gol dari 94 penampilan. Catatan gemilangnya di River-lah yang akhirnya mengantarkan Falcao melanglang buana ke Eropa sampai sekarang.

FC Porto, kesebelasan yang berkompetisi di Liga NOS Portugal, adalah kesebelasan yang menjadi pijakan pertamanya sekaligus kesebelasan pertama Falcao di Eropa. Setelah dari Porto, ia pun berkeliling ke kesebelasan-kesebelasan Eropa lain macam Atletico Madrid, AS Monaco, Manchester United, dan Chelsea. Sekarang, ia sedang berada di AS Monaco dalam usahanya memperbaiki karier sepakbolanya yang sempat meredup. Ada banyak cerita yang terjadi selama ia membela kesebelasan-kesebelasan tersebut, salah satunya adalah soal gol yang ia cetak.

Sampai saat ini, di usianya yang sudah memasuki angka 31 tahun, ia sudah mencetak 30 gol dari 42 penampilan yang ia catatkan bersama AS Monaco di semua kompetisi di musim ini. Ternyata, bukan kali ini saja ia sukses mencatatkan 30 gol, bahkan lebih dalam satu musim kompetisi.

Pada musim 2009/2010 dan 2010/2011, musim-musim awalnya bermain di Eropa bersama FC Porto, Falcao sudah mencatatkan lebih dari 30 gol dalam satu musim kompetisi. Pada musim 2009/2010, ia total mencatatkan 34 gol untuk Porto. Sedangkan pada musim 2010/2011, ia mencatatkan gol yang lebih banyak untuk Porto, yakni 38 gol.

Pindah ke Spanyol dan bermain untuk Atletico Madrid tidak menurunkan ketajamannya. Pada musim 2011/2012 dan musim 2012/2013, Falcao kembali mencetak lebih dari 30 gol untuk satu musim. Musim 2011/2012, ia berhasil mencetak 36 gol, sedangkan pada musim 2012/2013 ia sukses mencetak 34 gol.

Gelar penyerang maut pun tersemat dalam diri Falcao kala itu. Namun, jelang Piala Dunia 2014 atau saat ia membela AS Monaco untuk pertama kalinya, kariernya meredup karena cedera ACL yang menghinggapi dirinya. Ia harus absen dalam waktu yang cukup lama, dan ia juga harus absen dari gelaran Piala Dunia 2014 ketika itu.

Sembuh dari cedera, perjalanan karier membawanya singgah ke Liga Primer. Musim 2014/2015, ia membela Manchester United sebagai pemain pinjaman, dilanjutkan dengan membela Chelsea pada musim 2015/2016, juga sebagai pemain pinjaman dari Monaco. Ketatnya persaingan Liga Primer, ditambah dengan permainan fisik a la Inggris, disinyalir menjadi penyebab mandulnya Falcao dan tidak garangnya penampilan Falcao di area kotak penalti.

Tercatat dua musim bermain di Liga Primer, Falcao tidak mencatatkan prestasi yang bagus-bagus amat. Di United, ia hanya mencetak enam gol. Di Chelsea lebih mengenaskan lagi, karena ia hanya mencetak satu gol saja. Penampilan buruk di Inggris inilah yang membuat orang memperkirakan bahwa karier Falcao sebagai pesepakbola telah berakhir, apalagi saat ia memutuskan untuk kembali bermain di Monaco, ia sudah berkepala tiga.

Kebangkitan di AS Monaco

Dengan luka mental yang ia terima di Inggris, Falcao pun kembali ke Monaco. Bersama skuat muda Monaco yang diasuh Leonardo Jardim, penyerang kelahiran Santa Marta, Kolombia ini seolah menemukan semangat baru. Kegarangannya di depan gawang kembali, dan seperti ingin menyelesaikan tugas dengan Monaco yang belum selesai pada musim 2013/2014, ia tampil kesetanan.

Total 30 gol sudah ia torehkan bersama Monaco di semua kompetisi pada musim 2016/2017. Bukan hanya gol, ia membawa Monaco bersaing dengan Paris-Saint Germain di Ligue 1, serta membawa Monaco tampil di semi-final Liga Champions. Kegarangannya di depan gawang membuat Monaco yang dihuni skuat muda menjadi salah satu tim yang diperhitungkan di Prancis dan Eropa pada musim 2016/2017.

Kepada ESPN FC, ia pun mengaku bahwa masa-masa sulitnya di Liga Primer-lah yang membuatnya menjadi penyerang seperti sekarang ini. Ia percaya bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil, dan ia mendapatkan hasilnya sekarang.

"Saya sudah melalui masa sulit, tapi dalam masa-masa sulit tersebut saya berusaha, dan tidak banyak orang mengetahuinya. Saya percaya bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil, dan masa-masa sulit itu membuat saya menjadi pribadi yang lebih kuat," ujar Falcao.

Walau sekarang Falcao sudah kembali, dan catatan 30 gol lebihnya bertambah menjadi lima musim, sejarah akan tetap mencatat bahwa Liga Primer adalah liga yang sulit ditaklukkan Falcao. Meski sulit ditaklukkan, di sisi lain Liga Primer pun adalah liga yang mungkin akan ia kenang, karena ia menjadi lebih kuat dan tangguh setelah mengalami periode sulit di sana.

Komentar