Kebencian Terhadap RB Leipzig Perlahan Mulai Luntur

Berita

by Sandy Firdaus 44208

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Kebencian Terhadap RB Leipzig Perlahan Mulai Luntur

Mendengar kata RB Leipzig di kancah Bundesliga, perdebatan akan langsung muncul. Meski menampilkan permainan yang mengesankan sepanjang gelaran Bundesliga 2016/2017, namun cara dan proses mereka untuk naik ke kompetisi level tertinggi di Jerman itu menimbulkan ketidaksukaan tersendiri bagi publik sepakbola Jerman.

RB Leipzig memang memberikan hal-hal yang baru dan warna tersendiri dalam ajang Bundesliga musim 2016/2017. Tim termuda di Bundesliga, yang juga berisikan pemain-pemain muda yang menampilkan permainan atraktif, sempat membuat mereka berada di papan atas klasemen Bundesliga dan tak terkalahkan dalam 13 laga.

Mereka bahkan mampu bersaing dengan tim-tim papan atas Bundesliga macam Borussia Dortmund, Hamburg SV, Schalke 04, Hertha Berlin, serta VfL Wolfsburg. Saat ini, mereka masih berada di peringkat kedua Bundesliga, di bawah Bayern München.

Namun, tak semua cerita tentang RB Leipzig adalah cerita-cerita manis. Banyak juga suporter-suporter yang memperlihatkan kebenciannya terhadap satu-satunya klub yang berasal dari Jerman Timur tersebut. Hal ini terjadi karena keterlibatan perusahaan minuman asal Austria, Red Bull, yang menolong mereka secara finansial dan memangkitkan klub yang dulu bernama SSV Markranstaedt ini pada 2009 silam.

Aksi-aksi kebencian yang kerap diterima oleh Leipzig pun bermacam bentuknya. Mereka pernah dilempari kepala banteng, bus mereka pernah dicegat, dicaci dengan menggunakan banner bernada hinaan, dan puncaknya adalah aksi kekerasan para suporter Dortmund yang dilakukan kepada suporter Leipzig yang berujung kepada hukuman yang diberikan kepada para suporter Dortmund oleh DFB.

CEO Dortmund, Hans-Joachim Watzke pun sampai berujar bahwa Leipzig hanyalah klub yang bermain sepakbola sembari menjual minuman kaleng. Ujaran yang menunjukkan rasa benci Watzke terhadap RB Leipzig.

Tapi sebuah survei yang dilakukan oleh LSC Management, sebuah market research company di Jerman, menunjukkan sebuah hal baru mengenai Leipzig. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan kepada 5.950 suporter Bundesliga oleh LSC Management, 94,5% dari responden menganggap bahwa Leipzig telah memperkaya khazanah Bundesliga. Para responden tersebut juga menganggap bahwa Leipzig telah melakukan pekerjaan baik di Bundesliga kali ini.

"Kesimpulannya, kesan terhadap RB Leipzig lebih positif, melebihi kesan yang ditunjukkan oleh para suporter garis keras Bundesliga," begitu bunyi kesimpulan dari survei tersebut.

Menurut seorang ahli kultur suporter sepakbola Jerman, Gunter A. Pilz, sepakbola yang dimainkan oleh RB Leipzig dan juga dukungan yang ditunjukkan oleh suporter RB Leipzig membuat para suporter, terutama suporter Bundesliga yang mainstream dan bukan suporter garis keras, terkesan dengan Die Bullen.

"Harus diakui bahwa sepakbola yang baik sedang dimainkan oleh RB Leipzig. Suporter mereka pun tahu bagaimana caranya mendukung klub mereka. Hal ini dapat membuat image buruk tentang RB Leipzig sebagai klub yang menjual minuman kaleng pun perlahan berkurang," ujar Pilz, seperti dilansir AFP.

Pilz juga mengatakan bahwa di antara para suporter garis keras, ada beberapa di antara mereka yang mengakui tentang hal-hal positif RB Leipzig, walau beberapa di antara mereka juga akan tetap memusuhi komersialisasi perusahaan Red Bull terhadap klub berjuluk Die Bullen ini.

"Di antara para Ultras, mungkin ada beberapa yang mengakui hal positif dari RB Leipzig ini. Namun, pasti akan selalu ada suporter yang menentang komersialisasi Red Bull terhadap RB Leipzig," ujar Pilz.

Sementara itu, Michael Ballack mengungkapkan bahwa kebencian suporter klub lain terhadap RB Leipzig ini sebatas merupakan kecemburuan semata. Para suporter tersebut iri ketika Red Bull lebih memilih untuk menginvestasikan uang yang mereka miliki di kota Leipzig, bukan di kota mereka.

"Saya kira, perdebatan ini (tentang RB Leipzig) berakar dari rasa cemburu. Setiap klub pasti ingin didanai oleh seorang jutawan bernama Dietrich Mateschitz, sang pemilik perusahaan Red Bull. Red Bull lebih memilih Leipzig dibandingkan dengan kedua perusahaan tersebut," ungkapnya.

Setidaknya, hasil survei ini menunjukkan bahwa tidak semua suporter di Jerman membenci RB Leipzig. Seperti halnya banner suporter RB Leipzig yang terpampang dalam pertandingan melawan Hamburg, bahwa "lebih baik terobsesi kepada permainan sepakbola yang baik, daripada terobsesi oleh kebencian dan kecemburuan".

Sumber lain: World Football

Komentar