Keunikan Format Penyelenggaraan Piala Eropa 2020

Berita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Keunikan Format Penyelenggaraan Piala Eropa 2020

Seiring dilangsungkannya laga final Piala Eropa 2016, berakhir pula segala cerita menarik yang menghiasi turnamen tersebut. Kini segala pembicaraan mengenai Piala Eropa tertuju ke Piala Eropa 2020 yang sejatinya baru akan berlangsung empat tahun mendatang.

Mulai dibicarakannya Piala Eropa 2020 bukannya tanpa alasan. Kebijakan UEFA menyelenggarakan turnamen empat tahunan tersebut di banyak negara menjadi alasan banyak pihak membicarakan turnamen tersebut mulai saat ini.

Mantan Presiden UEFA, Michael Platini, mengungkapkan bahwa langkah ini dilakukan dengan tujuan untuk membuat semarak Piala Eropa 2020 yang bertepatan dengan perayaan 60 tahun turnamen tersebut. Selain itu, langkah ini dilakukan juga untuk membagi kesenangan Piala Eropa ke semua negara anggota UEFA.

“Dengan menyelenggarakan Piala Eropa di beberapa negara Eropa, kami berharap agar semakin banyak penggemar yang akan berbahagia seperti halnya penggemar yang negaranya menjadi tuan rumah,” ujarnya Platini pada 2014 lalu di situs resmi UEFA.

“Selain itu, dengan membagi negara penyelenggara, kami berharap semua anggota UEFA bakal mendapatkan keuntungan baik dalam hal berkompetisi maupun pengembangan di negara masing-masing.”

Meski demikian, langkah tersebut tidak lepas dari hujatan. Betapa tidak? Dengan semakin banyak negara-negara Eropa yang terlibat, bukan tidak mungkin dana yang dikeluarkan juga bertambah banyak. Akibat dari hal tersebut, kasus korupsi jilid kedua di badan sepakbola Eropa tersebut ditakutkan akan muncul kembali.

Kembali ke soal negara penyelenggara, UEFA dalam pemungutan suara yang digelar pada 2013 lalu, telah menyepakati beberapa negara yang menjadi penyelenggara yakni Brussels (Belgia), Copenhagen (Denmark), Dublin (Republik Irlandia), Amsterdam (Belanda), Bucharest (Rumania), Glasgow (Skotlandia), dan Bilbao (Spanyol), untuk fase grup dan babak 16 besar.

Di sisi lain, Saint Petersburg (Rusia), Roma (Italia), Munich (Jerman), dan Baku (Azerbaijan), akan menjadi tuan rumah untuk fase grup dan perempatfinal, sedangkan London (Inggris), akan menjadi tuan rumah untuk partai puncak.

Jumlah 24 kesebelasan kembali menjadi nominal peserta yang bakal ikut kompetisi ini. Berbeda dengan Piala Eropa 2016, di tahun 2020 UEFA mencari kesebelasan peserta dari babak kualifikasi dan UEFA Nations League.

Di babak kualifikasi,UEFA membagi 55 kesebelasan ke dalam 10 grup, yang diisi oleh lima hingga enam kesebelasan. Masing-masing grup nantinya akan meloloskan dua kesebelasan, yang langsung berpartisipasi di fase putaran final Piala Eropa sehingga mendapatkan 20 peserta. Sementara, empat kesebelasan tersisa didapatkan dari Nations League.

Sistem seperti ini tentu berbeda ketimbang gelaran kompetisi sepakbola lainnya di Eropa dan dunia. Lantas, bagaimana menurut Anda? Apakah akan efektif?

Komentar