Lahm: Ballon d??Or Hanya Kontes untuk Striker

Berita

by Abrar Firdiansyah

Abrar Firdiansyah

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Lahm: Ballon d’Or Hanya Kontes untuk Striker

Penyelenggaraan Ballon d’Or dianggap kontroversial tiap tahunnya. Kebanyakan dari mereka mengkritik format penghitungan yang dianggap terlalu subjektif. Bagaimana tidak? Pemilih dalam kontes ini merupakan pemain serta pelatih sepakbola yang tentu mengutamakan pertemanan ketimbang prestasi yang didapatkan oleh finalis. Selain itu, kritik juga dilayangkan akibat minimnya perhitungan terhadap pemain dengan posisi non-striker, yang juga memiliki kontribusi.

Melihat ketidakadilan tersebut, Phillip Lahm yang merupakan kapten Bayern Munchen serta eks kapten Timnas Jerman, mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemilihan ini, meskipun ia merasa Messi pantas mendapatkan gelar Ballon d’Or.

Ia pun menegaskan dalam kolomnya di Goal, ia mengatakan bagaimana seharusnya pemilihan mengenai pemain terbaik di dunia. “Penghitungan mengenai pemain terbaik di dunia harus melihat banyak aspek. Di antaranya adalah performa di lapangan dan gelar yang telah ia buat, baik untuk klub maupun individu,” ujarnya.

“Tetapi ketika pemilih hanya dari kalangan pelatih, pemain, dan jurnalis dari 209 negara, saya yakin hanya beberapa orang yang paham mengenai faktor-faktor  yang harus dipenuhi. Saya telah ikut memilih lima kali saat masih bermain di timnas dan saya berusaha memilih yang terbaik,” ujarnya.

Ia menjelaskan dari yang dilihatnya, banyak yang tidak mempertimbangkan faktor-faktor di atas untuk memilih pemain terbaik.  Lahm pun menambahkan bahwa, banyak pemilih lebih memilih nominator yang sering muncul di dalam maupun di luar lapangan.

“Oleh karena itu, Ballon d’Or menjadi sebuah pemilihan untuk penyerang terbaik di dunia, yang mana dapat kita lihat dalam beberapa tahun pemilihan,” ungkap Lahm.

Lahm pun mencontohkan hanya sosok Fabio Cannavaro di tahun 2006 yang memenangkan Ballon d’Or. Sementara itu, posisi lainnya hanya ada nama Lothar Matthaus serta Zinedine Zidane yang berhasil mendapatkannya. Intinya hanya pemain yang mencetak gol yang berpeluang besar menjadi pemenang Ballon d’Or.

Padahal, Lahm menilai, bahwa sepakbola tidak hanya permainan seorang striker semata, ada aspek kerjasama, pertahanan, dan assist yang membuat sepakbola merupakan olahraga yang kompleks.

Kritik terhadap Ballon d’Or tak hanya diungkapkan oleh Lahm seorang. Arsene Wenger pun menjadi sosok yang kontra terhadap penghargaan ini. Bos Arsenal ini pun mengungkapkan bahwa penghargaan ini hanya membuat pemain lebih bertindak individualis ketimbang mementingkan kerjasama.

“Saya merasa penghargaan ini memicu keegoisan seorang pemain, selain itu saya juga merasa bahwa penghargaan ini membuat pemain lebih suka menyelesaikan semuanya sendirian ketimbang memberikan ke rekannya yang berada di posisi lebih ideal,” ujar pelatih berusia 66 tahun ini.

Sumber: Goal, The Sun, The Telegraph, Naij.com

Komentar