Ronny Deila dan Kepantasan Celtic bermain di Liga Champions

Berita

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Writer (Oct 2014 - Mar 2016); Editor (Nov 2017 - Nov 2018)

Ronny Deila dan Kepantasan Celtic bermain di Liga Champions

“Sebuah pertandingan sepakbola berlangsung jauh lebih lama dari 90 menit,” tulis Rob Smyth membuka salah satu tulisannya di The Blizzard. “Pertandingan dimulai sebelum peluit pertama dan berlanjut jauh setelah peluit terakhir.”

Bagi Glasgow Celtic, kekalahan dari Malmö Fotbollförening dalam pertandingan leg kedua play-off Champions League semalam dimulai ketika mereka mempercayakan posisi manajer kepada Ronny Deila pada Juni tahun lalu.

“Saya ingin menampilkan permainan sepakbola paling menyerang, menarik, dan menghibur yang dapat kami berikan,” ujar Deila dalam konferensi pers pertamanya sebagai manajer Celtic.

Deila memenuhi janjinya. Celtic bermain menyerang. Mereka menarik dan cara mereka mencetak gol begitu menghibur. Para penonton netral penyuka permainan menyerang tak akan merasa membuang waktu mereka untuk hal yang tidak berguna jika meyaksikan Celtic bermain. Dengan taktiknya yang enak dilihat, Deila sudah berhasil mempersembahkan dua gelar juara: Scottish Premiership dan Scottish League Cup.

Namun ada satu hal yang belum mampu Deila persembahkan hingga saat ini: satu tempat di putaran final Champions League. Kegagalannya musim lalu dapat dimaklumi karena Deila baru mengambil alih posisi manajer dari Neil Lennon, yang membawa Celtic keluar sebagai juara Scottish Premiership dan berhak ambil bagian di kualifikasi Champions League. Ternyata, setelah satu musim menangani Celtic, Deila tetap belum mampu membawa Celtic bersaing dengan kesebelasan-kesebelasan terbaik di kejuaraan antarkesebelasan terbesar di Eropa.

Baru sepuluh menit pertandingan berjalan, Celtic sudah mengantungi keunggulan dua gol lewat Leigh Griffiths dan Nir Bitton. Jo Inge Berget, pemain yang pernah membela Celtic dengan status pinjaman selama setengah musim pada 2014/15, memperkecil selisih di menit ke-52. Gol kedua Griffiths di menit ke-61 mengembalikan keunggulan dua gol Celtic sekaligus memperbesar kemungkinan mereka lolos ke fase grup. Namun gol Berget di menit akhir membuat Malmö berada dalam posisi yang menguntungkan di leg kedua.

Deila optimis Celtic akan baik-baik saja walau ia sadar mereka terancam gagal lolos. Celtic hanya membutuhkan hasil imbang, namun Deila percaya kesebelasannya dapat mengalahkan Malmö di Swedbank Stadion, kandang baru kesebelasan berjuluk Himmelsblått tersebut.

Tak ada kemenangan untuk Celtic di Swedia. Gol Markus Rosenberg di menit ke-23 dan gol bunuh diri Dedryck Boyata – keduanya dari sepak pojok – mengirim Malmö ke putaran final Champions League dengan keunggulan agregat 4-3. Malmö lolos ke putaran final Champions League dalam dua kesempatan pertama mereka, sementara Deila selalu gagal membawa Celtic lolos ke fase yang sama dalam dua kesempatan pertamanya.

“Penjelasannya sederhana,” ujar Deila dalam sesi konferensi pers pasca pertandingan. “Kami bahkan tidak cukup dekat dengan apa yang mampu kami raih. Kami terlihat tidak nyaman menguasai bola dan seperti tidak menginginkannya. Kami terlihat ketakutan dan ini sangat, sangat mengecewakan. Kami seperti ini sebagai kesebelasan, bukan satu atau dua pemain saja.”

Ewan Murray, dalam laporan pertandingannya untuk The Guardian, mengamini opini Deila. “Kekurangan Deila, dan kekurangan kesebelasan yang tidak benar-benar mengalami peningkatan selama 14 bulan masa jabatannya, secara brutal terlihat di sini. Europa League, tempat di mana Celtic kini akan berkompetisi, terlihat seperti tingkatan yang sesuai.”

Murray, dalam tulisan yang sama, menyebut Malmö tidak pantas berada di Champions League – “This small club have no rightful place among football’s aristocracy but will take their spot in the Champions League proper for the second time in as many years.” Bersama Deila, ternyata, Celtic juga tidak pantas ambil bagian di Champions League.

Komentar