Mengapa Transfer Menit Akhir Bukanlah Hal yang Baik?

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Mengapa Transfer Menit Akhir Bukanlah Hal yang Baik?

Bursa transfer musim 2015/2016 kian memanas setelah sejumlah kesebelasan besar gagal mendapatkan buruannya. Padahal bursa transfer segera ditutup tak kurang dari 10 hari lagi.

Masa-masa ini bisa dibilang sebagai masa krusial. Jika pemain yang sejak awal masih belum juga memberikan sinyal positif setidaknya hingga lima hari jelang penutupan bursa transfer, agaknya kita semua akan sering mendengar istilah “Panic Buying”.

“Panic Buying” kerap digunakan sebagai istilah di bidang investasi. Berdasarkan kamus dalam jaringan (daring/online) Cambridge, “Panic Buying” diartikan sebagai situasi di mana masyarakat tiba-tiba membeli banyak makanan, bensin, dll., sebanyak yang mereka bisa karena mereka takut akan sesuatu hal buruk yang mungkin terjadi.

Berdasarkan Investopedia, “Panic Buying” berarti perilaku yang ditandai dengan peningkatan pesat dalam jumlah pembelian barang atau sekuritas. “Panic Buying” memiliki dampak mengurangi suplai dari barang atau sekuritas, karena di saat yang sama hal tersebut mengangkat harga lebih tinggi. Perilaku ini terjadi karena perasaan “ditinggalkan” jika tidak dilakukan pembelian.

Mudahnya, “Panic Buying” di sepakbola adalah pembelian pemain karena desakan lain di luar kebutuhan klub. Alasan “Panic Buying” ini bermacam-macam mulai dari iri terhadap pergerakan kesebelasan lain dan gagal merekrut pemain incaran.

Di Liga Primer Inggris saat ini Arsenal dan Manchester United diprediksi akan melakukan panic buying (lagi) pada bursa transfer musim ini. United masih membutuhkan penyerang dan bek, sedangkan Arsenal masih butuh pelapis di lini serang. Namun, hingga saat ini belum terdengar rumor yang terlampau kencang bagi dua kesebelasan tersebut untuk merekrut pemain baru.

Musim lalu, Manchester United mendatangkan Falcao jelang penutupan bursa transfer. Hadirnya Falcao membuat Danny Welbeck dilepas ke Arsenal tepat pada penutupan bursa transfer atau pada 2 September 2014.

Falcao dan Welbeck adalah produk yang sama; sama-sama dibeli jelang penutupan transfer dan keduanya masih diragukan untuk bisa berkontribusi lebih bagi kesebelasan.

Benarkah United membutuhkan Falcao sementara mereka meminjamkan Javier Hernandez ke Real Madrid? Apakah Falcao akan mampu menjawab tumpulnya lini serang jauh lebih baik ketimbang Chicharito?  Atau apakah Welbeck orang yang tepat bagi kesebelasan sebesar Arsenal yang merekrut penyerang yang tak pernah mencetak lebih dari 10 gol di liga selama satu musim?

Proses Panjang Bursa Transfer

Idealnya perpindahan pemain dilakukan setelah melewati serangkaian proses matang nan panjang. Proses tersebut melibatkan banyak pihak sejak dari pemandu bakat.

Thomas Cook Sport menyadur dari berbagai sumber tentang proses panjang perpindahan pemain ini. Seorang pemain bisa bergabung dengan satu tim setelah melalui serangkaian penilaian dari pemandu bakat. Laporan pemandu bakat dibaca oleh pihak klub yang menyortirnya kembali menjadi jauh lebih spesifik dan kadang tidak berkaitan dengan sepakbola.

Pihak klub menilai etik kerja seorang pemain hingga kehidupan pemain itu sendiri. Penilaian tersebut lantas diberikan kepada manajer klub yang sebelumnya telah mencari kelemahan di tim dan pada posisi mana saja perubahan mesti terjadi.

Setelah klub dan manajer sepakat, maka mereka melakukan pendekatan dengan agen pemain. Jika pemain tertarik, biasanya muncul berita atau rumor di media terkait keinginan pemain tersebut untuk pindah. Hal ini kemudian direspons oleh pihak klub pemain tersebut dengan bernegosiasi untuk menentukan nilai transfer.

Jika sepakat dengan nilai transfer, klub peminat bernegosiasi terkait kontrak yang juga membahas gaji dan bonus. Setelah sepakat, pemain diperiksa pada tes medis untuk mendapatkan kondisi sejelas-jelasnya terhadap kebugaran pemain tersebut. Setelah melewati tes medis kedua belah pihak menandatangani kontrak kerja sama dan transfer pun selesai.

Tak Mungkin Satu Malam

Melihat proses di atas tak mungkin rasanya mendapatkan pemain hanya dalam satu malam. Proses yang paling lama tentu pada proses pemantauan pemain yang setidaknya dibutuhkan waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan laporang yang presisi. Belum lagi kecocokan antara klub dengan staf pelatih. Jika klub mau tapi pemain tersebut tak punya tempat di tim utama, itu pun akan menjadi soal.

Maka akan terlihat sangat aneh jika seorang pemain, tanpa ada kabar atau ancang-ancang sebelumnya, tiba-tiba pindah. Apalagi dalam waktu yang mepet dalam satu malam.

Andai Saido Mane benar-benar pindah ke Manchester United pada akhir bursa transfer nanti, pertanyaannya tentu benarkan Mane adalah orang yang benar-benar dirindukan di lini serang MU? Apakah kehadirannya bisa menambal ketajaman Wayne Rooney yang mulai terasa mandul?

Atau apakah Pedro benar-benar bisa lebih hebat dari Willian di sisi kanan Chelsea? Secara teknis mungkin, ya, tapi apa benar ia bisa beradaptasi? Apakah kemampuan adaptasi Pedro juga dilihat oleh manajemen dan staf pelatih Chelsea? Atau apa mungkin ini merupakan rencana lain agar MU sama sekali tidak mendapatkan pemain incaran dan malah membeli pemain yang kualitasnya jauh ada di bawah?

Ini yang membuat pembelian transfer menit akhir menjadi kurang sedap dipandang dan diistilahkan sebagai panic buying. Pembelian menit akhir seperti menjadi pelengkap tanpa adanya penilaian lebih detail terkait pemain tersebut.

Memang tidak semua pembelian pada menit akhir berakhir buruk. Arsenal pernah dianggap melakukan panic buying pada 2011 silam. Arsenal ditinggal Cesc Fabregas, Gael Clichy, Emmanuel Eboue, dan Samir Nasri. Untuk itu, Arsenal mendatangkan Park Chu-Young, Andre Santos, Per Mertesacker dan Mikel Arteta. Tentu sedikit dari kita yang tahu di mana kini Andre Santos dan Park Chu-Young bermain. Para pemain tersebut didatangkan tepat pada penutupan bursa transfer atau pada 31 Agustus 2011.

Melihat masih ada waktu 10 hari lagi, penting bagi kesebelasan besar untuk menetapkan apakah akan menambah skuat, atau tetap istikamah macam Arsene Wenger pada musim ini dengan tidak mengutak-atik skuat agar tercipta kohesi di dalamnya. Namun, apabila akan ada penambahan calon pemain inti, masih belum terlambat bagi kesebelasan besar untuk kembali mengecek apakah pemain tersebut layak di tempat utama atau malah harus ada di tempat sampah?

Foto: goonerdaily.com

Komentar