Perjalanan Panjang Menguak Kejahatan-kejahatan Sepakbola

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Perjalanan Panjang Menguak Kejahatan-kejahatan Sepakbola

Penyergapan sejumlah petinggi FIFA di Zurich terlihat begitu terencana. FBI lewat Kepolisian Swiss seperti sengaja memilih waktu jelang kongres FIFA ke-65 di Zurich. Di saat tersebut, seluruh tersangka sedang berada di satu tempat yang sama, sehingga memudahkan waktu penyergapan. Namun, benarkah demikian?

Faktanya, FBI sudah mengamati FIFA dengan seksama sejak lebih dari tiga tahun lalu. Apa yang terjadi pada Rabu (27/5) lalu, bukanlah awal melainkan perjalanan panjang menuju akhir dari kasus yang mereka tangani.

New York Times pernah menulis bahwa FBI sebenarnya sudah mengantongi sejumlah data awal tentang korupsi di FIFA sejak 1990-an. Agaknya ini berkaitan dengan pencalonan tuan rumah Piala Dunia yang kala itu dimenangkan Amerika Serikat pada 1994. Setelah itu, tidak ada terdengar kelanjutan kinerja FBI dalam membongkar praktik korupsi di FIFA.

Jelang penangkapan sejumlah petinggi FIFA pada akhir Mei lalu, santer terdengar bahwa Presiden FIFA, Joseph Blatter, akan segera digelandang jika ia mendaratkan kakinya di Amerika. Seperti diwartakan Washington Post, Blatter takut FBI telah menemukan hasil dari ancaman mereka terhadap FIFA.

Sebelumnya, FIFA sudah diperingatkan bahwa FBI tengah menyelidiki dugaan korupsi di tubuh mereka. Namun, Blatter mementahkan itu semua. Menurutnya, segala investigasi yang dilakukan FBI tidak ada hubungan dengan dirinya. Ia pun tak gentar dengan semua ancaman.

Faktanya, Blatter terakhir kali menjejakan kaki di Amerika Serikat pada 2011. Seperti dikutip Washington Post, Blatter agaknya sudah mencurigai bahwa FBI telah lama menargetkan FIFA sebagai target selanjutnya. Terlebih pada November 2014, kabar investigasi yang dilakukan FBI bocor ke publik. Bahkan, Blatter dianggap sebagai target utama dalam investigasi ini.

Diperkuat Laporan Garcia

Salah satu kesalahan terbesar FIFA adalah mendatangkan Michael Garcia dan memberinya jabatan sebagai kepala investigator FIFA. Garcia sebelumnya adalah seorang jaksa di pengadilan Amerika Serikat. Di FIFA, Garcia bertugas sebagai penyelidik internal.

Salah satu yang dilakukan Garcia adalah membuat laporan setebal 350 halaman yang berisi tentang investigasi korupsi dalam proses pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022. Sayangnya, FIFA tidak pernah benar-benar merilis rangkuman tersebut. FIFA malah mengeluarkan laporan setebal 42 halaman yang isinya bantahan soal korupsi dan suap dalam pemilihan Rusia dan Qatar.

Kesal karena laporannya tidak dianggap, Garcia mencari pihak lain yang mau mendengarkan laporannya. Tidak tanggung-tanggung karena ia memilih FBI untuk menyelidiki laporannya tersebut.

Beberapa hari berselang, jurnalis Sports Illustrated, Grant Wahl, menuliskan keanehannya terhadap laporan yang dirilis FIFA. Laporan tersebut berasal dari Michael Garcia, tapi disingkat oleh anggota Komite Etik FIFA, Hans-Joachim Eckert. Dalam laporan 42 halaman itu, tidak ada sama sekali satu hal yang membuat Rusia dan Qatar bisa dicabut statusnya sebagai tuan rumah.

Garcia meradang karena dan menganggap FIFA menutupi kesalahan dari laporan 350 halaman miliknya, dengan merilis 42 halaman saja. “Keputusan Ketua Adjudicatory Chamber mengandung sejumlah pernyataan yang tidak lengkap dan salah dalam fakta-fakta dan kesimpulan dalam laporan saya,” kata Garcia, “Saya berniat mengajukan banding ke Komite Banding FIFA.”

Dalam laporan tersebut terkuak bahwa FIFA dalam hal ini rezim Blatter memang senang mengorbankan bawahannya. Ini terlihat dalam kasus penyuapan Mohammed Bin Hamman. Berdasarkan sejumlah sumber, suap tersebut dilakukan untuk memuluskan Qatar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Namun, FIFA membantah dan menyebut suap tersebut dilakukan sebagai upaya Hamman menjadi presiden FIFA.

Berawal dari Chuck Blazer

Laporan Garcia tersebut diperkuat lewat sumber dari dalam FIFA. Hingga akhir 2014, masih belum diketahui siapa sumber utama yang digunakan FIFA. Sejumlah media pun menunjuk Chuck Blazer, yang pernah menjabat sebagai anggota komite eksekutif FIFA mulai dari 1996-2013.

Blazer merupakan pendiri MLS dan Gold Cup. Sejatinya, Blazer tak lebih seperti makelar. Ia selalu mengutip 10 persen dari tiap kontrak yang tercapai.

Karena kehebatannya itu pulalah, FIFA melirik Blazer dan menempatkannya sebagai anggota Komite Eksekutif FIFA sejak 1996. Kabarnya, Blazer kerap melakukan perjanjian di luar kontrak. Praktik-praktik semacam ini terus berlanjut hingga Komite Integritas FIFA menemukan dugaan penyalahgunaan wewenang.

Sial bagi Blazer, karena bukan itu yang membuatnya mesti berkhianat. Masalah utamanya adalah ia ketahuan mengemplang pajak selama lebih dari sepuluh tahun. Otoritas Pajak Amerika bersama dengan FBI pun bekerjasama untuk mengungkap kasus Blazer. Dari awalnya hanya mengemplang pajak, Blazer malah diminta menjadi informan bagi FBI untuk menguak kasus korupsi di tubuh federasi sepakbola dunia tersebut.

Tentu, hal ini tidak dilakukan dalam waktu semalam. FBI mendekati Blazer sejak 2011. Blazer diiming-imingi lolos dari tahanan jika mau menguak kebobrokan yang ada di dalam tubuh FIFA. Berdasarkan sejumlah media, Blazer pun merekam sejumlah obrolan petinggi FIFA di Olimpiade 2012.

FIFA yang agaknya mencurigai Blazer, mulai menjaga jarak. Pada 2013, FIFA memberi hukuman pada Blazer selama 90 hari tidak boleh terlibat di sepakbola. Sanksi tersebut diberikan karena Blazer dianggap menerima suap dan menyalahgunakan wewenang. Padahal, semestinya FIFA bisa memberikan sanksi tersebut lebih awal, karena sejak awal Blazer bergabung dengan FIFA, ia diduga telah melakukan hal-hal serupa. Artinya, ada kesengajaan di mana FIFA memang mengarah untuk menjauhkan Blazer dari FIFA, hingga ia akhirnya pensiun pada 2013.

Selama periode tersebut, setidaknya Blazer telah mengungkap sejumlah bukti yang membuat FBI begitu yakin untuk menangkap sejumlah petinggi FIFA di Zurich.

Sebelumnya, Sepp Blatter pernah mempersilakan bila ada pihak lain yang ingin membuka korupsi dan suap di FIFA. Namun, Blatter meyakini kalau dirinya bersih dan tidaklah bersalah.

Dalam sebuah acara televisi, petinggi PSSI, Djamal Aziz, mengandaikan bahwa mafia itu seperti kentut; ada baunya, tapi tidak terlihat wujudnya.

Berkaca pada apa yang dilakukan FBI, tidak mungkin sebuah lembaga mampu menguak satu kasus dalam waktu yang singkat. Untuk mengungkap sejumlah kasus suap dan korupsi di sebuah lembaga yang begitu kuat dan memiliki banyak lapisan pertahanan, dibutuhkan kesungguhan dan ketelitian dalam pengungkapannya.

Namun, jika melihat apa yang dilakukan FBI, agaknya kita mesti yakin bahwa tidak ada satupun kejahatan yang bisa ditutupi secara sempurna. Sepandai-pandainya Sumanto menyembunyikan bangkai, akhirnya ketahuan juga.

Sumber gambar: rt.com

Komentar