Menanti Sinar Pemain Muda Chelsea

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Menanti Sinar Pemain Muda Chelsea

Musim telah berakhir sementara gelar juara telah terkabul dalam sebuah takdir. Ada beban-beban yang pergi yang pada awalnya menghinggapi. Jose Mourinho tak perlu lagi berelegi di ruang ganti maupun di hadapan wartawan televisi. Segala keresahannya kini telah mati.

Mou dapat tersenyum lega. Ia tak perlu lagi mengurung diri dalam keterasingan permainan bertahan. Mou bahkan bisa melihat bagaimana sistem pembinaan pemain muda di Chelsea telah berjalan.

Kala bermain seri melawan Liverpool pada Minggu (10/5) lalu, Mou mendaftarkan Ruben Loftus-Cheek, Nathan Ake, dan Mitchell Beeney dalam susunan pemain, meski hanya Loftus-Cheek yang didaftarkan sebagai 11 pemain utama. Mou juga menurunkan Kurt Zouma serta Loic Remy yang jarang mendapatkan jatah bermain.

Untuk mengakhiri musim, Chelsea masih menyisakan dua pertandingan lagi. Satu pertandingan tandang menghadapi West Bromwich Albion serta satu pertandingan kandang menghadapi Sunderland.

Seperti dikutip Express, Mou berencana memberikan jatah para pemain mudanya untuk bertanding menghadapi West Brom. “Pada pertandingan terakhir, aku memainkan sejumlah pemain dengan lebih banyak menit bertanding di Premier League,” tutur Mou.

Mou beralasan, West Brom saat ini telah aman untuk mengarungi musim depan di Premier League. Poin yang mereka kumpulkan tidak akan mampu dikejar Hull City, pesaing teratas di zona degradasi.

“Menghadapi West Bromwich, terutama karena mereka aman dan tidak ada seorang pun yang menunggu sebuah hasil, aku akan memainkan sejumlah pemain muda: Nathan Ake, dan Izzy Brown yang datang dari West Bromwich. Mereka pantas mendapatkannya,” kata Mou.


Chelsea di UEFA Youth League (Sumber gambar: guardian.com)

Keberanian Mou untuk menurunkan para pemain muda bukannya tanpa alasan. Penampilan Loftus-Cheek yang menggantikan peran Nemanja Matic dalam laga menghadapi Liverpool terbilang baik. Mou bahkan memuji pemain tim junior Inggris tersebut.

“Dia melakukannya dengan baik,” kata Mou, “Namun, aku berpikir akan lebih baik baginya untuk bermain selama 60 menit dan membiarkannya meninggalkan lapangan dalam kondisi yang baik, daripada terus bermain tapi sulit baginya untuk mengimbangi kecepatan permainan pada babak kedua.”

Mou pun memuji akademi Chelsea yang mampu menelurkan pemain-pemain binaan. Chelsea sendiri dikenal sebagai kesebelasan yang memiliki begitu banyak pemain muda yang tersebar di sejumlah kesebelasan. Sulit bagi mereka untuk menembus tim utama, karena setiap musim, Chelsea melengkapi tim utama dengan nama-nama baru yang sudah jauh lebih berpengalaman. Bahkan, Juan Cuadrado yang tampil bersinar bersama Fiorentina dan kesebelasan negara Kolombia, mesti menepi karena sulit bersaing dengan Willian dan Eden Hazard.

Mengakali FFP

Dalam artikel terdahulu kami sempat menyebut bahwa aturan Financial Fair Play (FFP) secara tidak langsung pun menguntungkan Chelsea. Aturan FFP dibuat setelah Chelsea memiliki struktur keuangan serta pemain yang lengkap. Lain halnya dengan Manchester City yang kini kesulitan membelanjakan uang karena adanya FFP yang mensyaratkan kalau mereka tak boleh rugi.

Dengan aturan FFP, Chelsea kian giat membina pemain muda. Bahkan, pada musim ini, Chelsea yang mewakili Inggris menjadi juara UEFA Youth League edisi kedua.

Chelsea pun menjalin hubungan dengan Vitesse, kesebelasan Liga Belanda. Bahkan, banyak yang menyebut kalau Vitesse merupakan “Chelsea B” karena banyaknya pemain Chelsea yang bermain di sana. Sejumlah pemain seperti Nemanja Matic, Tomas Kalas, Christian Atsu, Lucas Piazon, dan Gael Kalkuta adalah nama-nama yang pernah merasakan atmosfer stadion GelreDome, Arnhem.

Saking banyaknya pemain muda potensial, beberapa di antaranya memutuskan untuk hengkang. Alasannya bermacam-macam, mulai dari pengembangan karir hingga tidak disukai oleh manajer. Salah satu contohnya adalah Kevin De Bruyne yang dilepas ke Wolfsburg dengan nilai transfer 18 juta pounds dan Andre Schuerrle ke kesebelasan yang sama.


Logo Chelsea dari masa ke masa.

Dengan hal ini Roman barangkali akan tersenyum senang. Ia sukses membangkitkan "Si Singa" yang duduk-duduk manis manja dalam logo kesebelasan yang telah bertahan selama lebih dari 15 tahun, menjadi singa yang sangar yang menantang lawan-lawannya.

Roman pun mungkin tak menyangka kalau kesebelasan hura-hura-nya ini suatu saat nanti akan menghasilkan keuntungan besar dari penjualan pemain. Roman tak perlu lagi merogoh kocek begitu dalam untuk pemain mega-bintang, karena toh bibit-bibitnya ada dalam akademi Chelsea itu sendiri.

Anda pun tak menyangka, kan, Roman?

Sumber gambar: dailymail.co.uk

Komentar