Bersih dari Korupsi, Alasan Kesuksesan Timnas Tiongkok

Berita

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Bersih dari Korupsi, Alasan Kesuksesan Timnas Tiongkok

Pemerintah Tiongkok menepuk dada. Program bersih-bersih yang dikerjakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Tiongkok menunjukkan hasil nyata. Keberhasilan timnas Tiongkok melaju hingga babak perempat final Piala Asia 2015, menjadi tonggak kesuksesan.

Sepakbola Tiongkok lekat dengan korupsi dan segala ketidakberesan yang biasa terjadi pada organisasi. Namun, itu dulu, sebelum Presiden Tiongkok, Xi Jinping, mengarahkan KPK Tiongkok untuk menyelidiki federasi. Kini, kampanye anti korupsi telah memasuki tahun ketiga, dan perubahan mulai terlihat secara nyata.

Asian Games menjadi titik kulminasi bawah prestasi sepakbola Tiongkok. Meski lolos ke babak 16 besar, Tiongkok hanya menang satu kali atas Pakistan. Pada babak 16 besar, mereka kalah 0-2 dari Thailand. Saat ini, timnas Tiongkok berada di peringkat ke-96 dalam rangking FIFA, sejajar dengan Latvia dan Mozambik.

Penampilan timnas Tiongkok di Piala Asia 2015 memang mengejutkan. Tiongkok memenangkan seluruh laga pada babak grup, termasuk membalaskan dendam junior mereka di Asian Games, dengan mengalahkan Korea Utara 2-1. Meski di perempat final dikalahkan tuan rumah, Australia, tapi Tiongkok menunjukkan kualitas permainan yang jauh berbeda ketimbang saat ditahan imbang Indonesia pada 2013 silam.

Timnas Tiongkok pun disambut bagaikan pahlawan di Beijing. Saking tidak percayanya akan penampilan timnas Tiongkok, media Xinhua menyebut perjalanan mereka sebagai “fairy-tale run”. Tampaknya, semua orang sedang berbahagia atas penampilang Tiongkok, termasuk komisi yang paling ditakuti di sepenjuru Tiongkok: Komisi Inspeksi Disiplin (KPK) dan Kementrian Pengawasan.

KPK Tiongkok sendiri menyatakan bahwa keberhasilan timnas Tiongkok merupakan keberhasilan mereka dalam melawan korupsi. Keberhasilan tersebut membangun rasa percaya diri masyarakat Tiongkok. Perang melawan korupsi di tubuh sepakbola Tiongkok, salah satunya dengan melakukan transparansi terkait pemilihan pemain dan wasit.

Tentu ini merupakan awal dari perang yang sebenarnya. Timnas Tiongkok memang sempat menjadi bahan perbincangan akibat prestasi yang kian merosot. Kepedulian Xi Jinping sebenarnya tidak lain karena ia sendiri adalah penggemar sepakbola. Dalam beberapa bulan terakhir, ia aktif mengawasi kondisi timnas Tiongkok di bawah arahan Alain Perrin.

Lain timnas, lain atmosfer sepakbola. Tiongkok adalah pasar terbesar industri sepakbola (Baca: Semua ada made in china-nya kecuali industri sepakbola). Mereka menjadi penggemar dari sejumlah kesebelasan top Eropa. Bahkan, pertandingan persahabatan Brasil menghadapi Argentina pada 10 Oktober 2014 silam, diselenggarakan di Tiongkok.

Saat ini, sejumlah pengusaha kaya Tiongkok tengah gemar membeli saham kesebelasan Eropa. Pekan lalu saja, perusahaan properti Dalian Wanda Group, mengakuisisi 20% saham Atletico Madrid. Gairah industri sepakbola tersebut diharapkan  memengaruhi kompetisi domestik dan timnas. Seiring dengan pemerintah yang bersinergi dengan federasi memberantas korupsi, kini tinggal menunggu sebesar apa pengaruhnya pada prestasi.

Dapatkah hal serupa diterapkan di Indonesia? Bukan sebagai bentuk intervensi, melainkan bentuk transparansi.

Baca juga: Ketika budaya korupsi menghancurkan sepakbola

Memberantas Korupsi di Negeri China

Disadur dari:blogs.wsj.com

Sumber gambar: beijingcream.com

Komentar